Menikmati Wisata Kuliner di Pecinan Mojokerto

Oleh: Clarice Eerena Ong 

mepnews.id – Mojokerto, kota kecil di provinsi Jawa Timur, memiliki daya tarik baru. Kampung Pecinan di Sentanan telah bertransformasi menjadi sentra kuliner yang diharapkan bisa menarik wisata dari berbagai daerah.

Akibat kebijakan pemerintah kolonial Hindia-Belanda, kaum etnis Tionghoa dilokalisasi di kawasan tertentu. Di Mojokerto, kaum Tionghoa tinggal di area yang kini menjadi Jalan Majapahit, Jalan Niaga, Jalan Karyawan, lingkungan Sidomulyo, Sentanan, dan Mentikan. Di tempat-tempat itu, toko-toko orang Tonghoa mudah ditemukan. Juga, ada klenteng  Hok Sian Kiong.

Seiring perjalanan waktu, kawasan yang dahulu hanya dikenal sebagai pemukiman etnis Tionghoa sekarang berkembang menjadi kampung tematik. Hampir di setiap rumah secara turun temurun menghasilkan jajanan dan makanan khas kota Mojokerto. Produk makanan ini setiap hari diserbu tengkulak untuk dijual kembali.

UMKM bertambah bagai jamur di musim hujan. Pemerintah kota Mojokerto, melalui antara lain Dinas Sosial, Baznas dan utamanya Diskopukmperindag, memberikan kemudahan dalam pengurusan NIB (Nomor Induk Berusaha), sertifikat halal, BPOM maupun PIRT (Produk Industri Rumah Tangga). Juga ada program bantuan dan pelatihan.

Tak pelak, Sentanan –satu kelurahan kecil dari enam kelurahan di Kecamatan Kranggan– berkembang menjadi sentra kuliner. Berangkat dari banyaknya UMKM jajanan itulah pemerintah kota memiliki gagasan ‘apik’ untuk memaksimalkan pengembangan wilayah Sentanan. Pemerintah mengakomodir keinginan para pemilik UMKM untuk memiliki tempat sebagai sarana mengembangkan bisnis rumahan mereka.

Gayung bersambut. Program direalisasikan. Sentra kuliner Sentanan diresmikan 29 Juni 2024. Masyarakat menyambut antusias Kampung Pecinan ini sebagai perwujudan Bhinneka Tunggal Ika dan diharapkan dapat menumbuhkembangkan semangat nasionalisme. Ya, karena kampung Pecinan ini tidak hanya dihuni orang Tionghoa tetapi juga kaum pribumi tinggal berdampingan.

Memasuki kampung Pecinan Sentanan, kita disambut gapura kokoh berwarna merah menyala. Dominasi nuansa Cina yang sangat kental menyambut mata. Warna dan kegagahannya menunjukkan keberanian dan semangat baru. Sangat ‘eye catching‘ dengan lampion-lampion menghiasi sepanjang jalan Karyawan hingga jalan Niaga. Destinasi kuliner baru ini beroperasi setiap Jumat, Sabtu dan Minggu, mulai pukul 16:00 dan tutup pukul 22:00.

Kampung Sentanan dapat ditempuh dengan melewati jalan Majapahit. Tepat di depan minimarket, silakan belok kiri. Ikuti jalan Niaga. Kurang lebih 200 meter, ada pertigaan di kanan jalan. Nah, tibalah di tempat tujuan; Jalan Karyawan.

Kalau dari arah barat, silakan lewat Jalan Residen Pamuji. Setelah menemui Klenteng Hok Sian Kiong, belok kiri ke Jalan Niaga. Lalu lurus ke barat kurang lebih 500 meter ada pertigaan Jalan Karyawan dari arah timur.

Atau, bisa juga ditempuh dengan melewati Jalan Majapahit. Tepat di depan toko kain Flores, ada pertigaan jalan K.H. Ahmad Dahlan. Belok ke kiri sejauh kurang lebih 200 meter. Ada pertigaan Jalan Karyawan, belok ke kiri.

Sentra kuliner Kampung Pecinan terbentang di sepanjang Jalan Karyawan dan menjadi pilihan destinasi wisata tambahan setelah wisata kuliner lain di Jalan Semeru, Jalan Majapahit, Benteng Pancasila dan wilayah Kedundung.

Kuliner yang ditawarkan di kampung Pecinan ini cukup beragam. Ada menu keseharian masakan dan jajanan. Misalnya, soto ayam, sate taichan, bubur kacang hijau (burjo), lontong kikil,  rawon, tahu tek, hingga menu ‘chinesee food’. Sebagai pembeda antara makanan halal dan non-halal, ditambahkan label pada masing-masing menu.

Pihak pengelola memberikan kebijakan makanan non-halal ditempatkan di sebelah utara, sementara makanan halal ditempatkan di selatan. Dengan adanya tanda ini, konsumen dapat memilih makanan sesuai kebutuhan dan keyakinan agama mereka. Hal ini juga menunjukkan komitmen pemilik tenant dan pengelola untuk memastikan kepatutan terhadap aturan halal. Dengan banyaknya tenant, pembeda antara makanan halal dan nonhalal ini memberikan pembatas area sehingga menciptakan suasana toleransi antar umat beragama. Mereka dapat berinteraksi dengan damai tanpa konflik atau masalah.

Keberadaan Kampung Pecinan Sentanan sebagai pusat kuliner dan tujuan wisata terbaru telah memberikan manfaat bagi warga kota Mojokerto dari segi ekonomi maupun sosial.

Dari segi ekonomi, tentu ada peningkatan signifikan perputaran uang di daerah ini. Banyak usaha bermunculan, mulai dari penjual makanan sehari-hari, penjual jajanan kekinian, hingga jasa pemandu wisata lokal. Hal ini tentu membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat.

Dampak sosialnya, Kampung Pecinan membantu meningkatkan interaksi yang sudah terjalin baik antara komunitas Tionghoa dengan masyarakat umum. Stereotip lama tentang komunitas Tionghoa yang eksklusif perlahan-lahan mulai luntur. Kampung Pecinan kini menjadi ruang publik tempat berbagai etnis bisa berkumpul dan berinteraksi melalui kuliner maupun kegiatan lainnya.

Kelurahan Sentanan makin eksis dikenal sebagai kampung Pecinan serta kampung tematik, destinasi kuliner jajanan dan makanan khas Mojokerto. Contoh eksistensi jajanan khas Mojokerto adalajh onde-onde yang didirikan seorang Tionghoa yang memulai usaha di Jalan Niaga bersebelahan dengan Jalan Karyawan. Contoh lainnya; warung nasi bungkus  terkenal yang telah berdiri sejak jaman Belanda dan masih bertahan di kelurahan ini.

Keberadaan kampung Pecinan yang memicu lahirnya banyak UMKM baru membuat pihak pengelola membuat strategi untuk membuatnya lebih berkembang, antara lain:

  1. Pembuatan mural dan spot foto: Tembok-tembok dihiasi mural yang menggambarkan sejarah dan budaya Tionghoa untuk meningkatkan daya tarik visual. Selain itu, spot foto menarik juga dibuat sebagai latar belakang selfie pengunjung.
  2. Acara budaya: Rutin menyelenggarakan acara-acara budaya di Kampung Pecinan. Antara lain pertunjukan Barongsai, perayaan Tahun Baru Imlek, pagelaran wayang Titi, Festival Kue Bulan, dan pertunjukan seni tradisional Tionghoa lainnya. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menarik minat wisatawan, tetapi juga berperan penting dalam pelestarian budaya Tionghoa.
  3. Penataan pedestrian: Dalam upaya peningkatan kenyamanan pengunjung, dilakukan penataan jalur pedestrian di Kampung Pecinan. Trotoar diperluas dan diperkokoh, dilengkapi bangku-bangku taman untuk sekedar tempat melepas penat.
  4. Pembentukan komunitas sadar wisata: Pihak pengelola bisa menginisiasi pembentukan Komunitas Sadar Wisata yang terdiri dari warga setempat. Tugas utama merawat kebersihan lingkungan, memberikan informasi kepada wisatawan, serta mendukung pengembangan potensi wisata Kampung Pecinan. Harapannya, wisatawan dapat merasa lebih nyaman dan mendapatkan informasi akurat saat berkunjung ke Kampung Pecinan. Selain itu, kebersihan lingkungan juga terjaga sehingga memberikan pengalaman wisata yang lebih nyaman dan menyenangkan bagi pengunjung.
  5. Pengembangan wisata edukasi: Kampung Pecinan di Mojokerto memiliki potensi besar untuk dijadikan destinasi wisata edukasi. Selain menikmati kuliner dan suasana khas, pengunjung juga dapat belajar sejarah dan budaya Tionghoa. Dengan pengembangan yang tepat, Kampung Pecinan bisa menjadi tempat menarik untuk dikunjungi dan dipelajari oleh wisatawan.
  6. Pengembangan produk oleh-oleh khas: Ada banyak peluang untuk mengembangkan produk oleh-oleh khas Kampung Pecinan. Selain makanan siap saji, ada juga kue kering, bumbu masak, atau kerajinan tangan. Ini dapat menjadi pilihan menarik untuk dikembangkan. Dengan memperhatikan keunikan dan kekhasan Pecinan, produk-produk ini dapat menjadi daya tarik wisatawan yang ingin membawa oleh-oleh. Dengan demikian, pengembangan produk oleh-oleh dapat menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi para pelaku usaha di Kampung Pecinan.
  7. Integrasi dengan destinasi wisata lain: Kampung Pecinan di Mojokerto dapat diintegrasikan dengan berbagai destinasi wisata lainnya untuk menciptakan paket wisata lengkap yang menarik dan komprehensif. Misalnya, pengunjung dapat mengunjungi Alun-alun Wiraraja dan pemandian Sekarsari sebelum atau sesudah mengunjungi Kampung Pecinan. Dengan begitu, wisatawan dapat menikmati pengalaman wisata lebih beragam dan lengkap saat berkunjung ke Mojokerto. Integrasi ini juga dapat meningkatkan daya tarik pariwisata di daerah tersebut dan memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi para wisatawan.

Kampung Pecinan Mojokerto telah sukses menunjukkan bagaimana pemukiman etnis dapat berubah menjadi pusat kuliner dan destinasi wisata berkat kerjasama yang baik antara pemerintah, komunitas lokal, dan pengusaha. Di masa datang, dengan manajemen yang baik dan pengembangan berkelanjutan, Kampung Pecinan Mojokerto memiliki potensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.

Selain sebagai tempat menikmati makanan lezat, kampung ini juga menjadi jendela bagi masyarakat untuk memahami kekayaan budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian penting dari budaya Indonesia. Bagi penduduk setempat, keberadaan Kampung Pecinan sebagai pusat kuliner dan destinasi wisata bisa memberikan ruang publik baru untuk berinteraksi, berlibur, dan menikmati kuliner lokal tanpa harus pergi jauh. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi kualitas hidup dan ekonomi masyarakat Mojokerto.

Panas-panas enak’e tuku es degan
Ojo lali tuku onde-onde
Kampung Pecinan Sentanan
panggonan kuliner sing pasti oke

 

  • Penulis adalah siswi SMA Tamansiswa, Kota Mojokerto.
  • Tulisan ini salah satu finalis kompetisi esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN) 2024 dengan tema ‘Ragam Pesona Jawa Timur’

Facebook Comments

Comments are closed.