Ah, Gerai Itu Sengaja Membuat Customernya Ngantri panjang

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Dalam salah satu kesempatan nge-mall, saya melihat gerai cap terkenal sedang soft opening. Wuihhh… yang antre beli mengular panjang. Mungkin lebih dari 100 orang.

Lydia, yang menemani saya nongki-nongki di warung kopi mall, langsung nyeletuk. “Kenapa sih nggak ditambah kasirnya? Kan kasihan yang ngantre? Kalau sedang kebelet, gimana?”

Saya senyum-senyum saja, “Biasa, lah. Itu bagian dari strategi marketing. Memanfaatkan bandwagon effect.”

………….

Pembaca yang budiman, tahukah Anda apa yang dimaksud dengan bandwagon effect? Ini adalah fenomena saat orang cenderung mengikuti pemikiran atau tindakan tertentu hanya karena banyak orang lain melakukannya.

Dalam kasus di atas, pengelola gerai sengaja merancang kondisi sedemikian rupa sehingga tampak banyak orang antre. Ini bisa mempengaruhi pemikiran dan tindakan orang lain untuk ikutan antre ke gerainya jadi konsumen.

Ada beberapa kondisi psikologis yang mendasari bandwagon effect ini. Salah satunya faktor konformitas sosial. Manusia secara alami cenderung ingin sesuai dengan yang terjadi di sekitarnya. Ketika banyak orang melakukan sesuatu, orang itu merasa ingin mengikuti.

Menyadari faktor ini, pebisnis biasa memanfaatkan bandwagon effect untuk strategi marketing. Misalnya, dengan menciptakan suasana antrean. Pengelola hanya menyediakan satu kasir sehingga banyak orang yang antre membayar agar menciptakan kesan banyak orang tertarik hingga rela antre untuk membelinya. Kesan semacam ini mendorong orang lain untuk ikutan membeli.

Saya senang dengan produk baru yang memang bermutu atau menarik. Tapi, secara pribadi, saya tidak mau jadi korban strategi marketing yang memanfaatkan bandwagon effect.

Kalau antre panjang seperti yang dilakukan kakek-nenek saya untuk mendapatkan beras pada zaman revolusi, itu okelah. Yang diantre memang produk langka, signifikan, dan sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup.

Kalau antre karena direkayasa demi marketing, tentu saja saya ogah jadi korbannya. Ngapain juga buang-buang waktu lama, dan capek-capek berdiri, hanya untuk mendapatkan makanan yang di gerai-gerai sebelah juga banyak jenisnya?

 

Facebook Comments

Comments are closed.