Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, tengah malam, saya terbangun karena ada suara aneh. Waktunya masih jauh menjelang sahur, tapi ada suara lembut di dapur. Saya segera bangun untuk menyelidik,” begitu curhatan seorang teman.
“Terus, ada apa? Tikus?” saya tanya.
“Bukan! Ternyata, Bram Si Sulung. Tampaknya ia habis buka kulkas dan ambil beberapa makanan.”
“Oh, mungkin lapar.”
“Nggak gitu, Mbak. Makanannya ditinggal begitu saja. Waktu saya tanya, dia cuek saja. Diam, lalu balik ke kamarnya. Tapi, wajahnya itu lho yang bikin saya cemas. Nggak ada ekspresi. Seperti wajah masih tidur.”
“Oh, seperti adegan di film-film Barat itu ya?”
…………
Pembaca yang budiman, kemungkinan anak sulung teman saya itu mengalami somnambulisme. Itu gangguan tidur yang biasa dikenal sebagai sleep walk atau tidur berjalan. Si anak melakukan aktivitas fisik, termasuk berjalan atau melakukan tindakan lainnya, saat masih dalam keadaan tertidur dan tanpa kesadaran penuh. Ini sering terjadi pada fase beberapa jam setelah seseorang tertidur.
Saat episode somnambulisme, seseorang mungkin terlihat benar-benar sadar namun sebenarnya masih dalam keadaan tidur. Ada yang berjalan keluar rumah, membuka lemari, ganti pakaian, atau bahkan mencoba pergi jauh. Namun, ketika terbangun, ia tidak ingat apa yang terjadi selama episode somnambulisme.
Anak teman saya tadi berusia 11 tahun, rentang usia yang wajar bagi terjadinya somnambulisme. Tapi, somnambulisme juga dapat terjadi pada orang dewasa. Faktor-faktor seperti stres, kurang tidur, dan gangguan lainnya dapat meningkatkan risiko somnambulisme.
Mengapa bisa terjadi somnambulisme?
Para pakar belum bisa sepenuhnya memastikan atau memahami mekanismenya meski sudah ada sejumlah penelitian pada otak saat seseorang mengalami episode somnambulisme.
Selama episode somnambulisme, beberapa area otak tetap aktif tapi area lainnya sudah ‘tidur’. Somnambulisme sering terjadi pada fase non-REM (Rapid Eye Movement), yaitu fase tidur ringan saat tubuh masih aktif, telinga masih bisa mendengar, tetapi otak sudah bekerja lebih lamban. Aktivitas otak selama tidur non-REM berbeda dari aktivitas selama fase tidur REM.
Ada juga kemungkinan somnambulisme disebabkan gangguan regulasi tidur yang melibatkan kompleksitas aktivasi dan penghambatan sistem saraf otak. Somnambulisme mungkin juga karena faktor genetik. Ada juga sejumlah risiko yang meningkatkan kemungkinan somnambulisme, termasuk faktor lingkungan seperti stres, kelelahan, dan kurang tidur.
Apakah somnambulisme berbahaya?
Dalam kondisi wajar, biasanya tidak berbahaya. Tapi, ada episode somnambulisme yang bisa menjadi masalah saat seseorang melakukan aktivitas berpotensi berbahaya dalam kondisi tidur. Misalnya, teriris pisau dapur, jatuh di tangga, atau bahkan tertabrak mobil.
Maka, jika punya anggota keluarga yang pernah atau punya kecenderungan somnambulisme, kita perlu mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko. Misalnya, menjaga keamanan dengan menyingkirkan benda-benda berbahaya di sekitar tempat tidur, mengunci pintu dan jendela untuk mencegah seseorang keluar saat tidur berjalan, dan sejenisnya.
Sementara ini, belum ada cara pasti untuk mencegah atau menyembuhkan somnambulisme. Maka, yang bisa dilakukan adalah menjaga diri sendiri atau keluarga dengan cara rutinitas tidur teratur, cukup, dan dalam lingkungan tenang.
Bisa juga dengan mengelola stres dan kecemasan untuk membantu mengurangi kemungkinan somnambulisme. Misalnya; sholat sebelum tidur, relaksasi meditasi, atau latihan pernapasan. Hindari faktor pemicu somnambulisme, antara lain: kelelahan, kurang tidur, atau konsumsi alkohol.
Jika somnambulisme menjadi masalah serius atau berkelanjutan, silakan konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau dokter spesialis tidur. Mereka dapat membantu mengevaluasi kondisi, memberikan saran, atau meresepkan pengobatan jika diperlukan.


