Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, ada waktu sebentar? Aku butuh curhat,” kata seorang teman.
“Tentu saja. Ada apa?” saya merespon.
“Itu, lho. Tentang Lisa. Setiap kali kami kumpul-kumpul, dia terlalu banyak omong, selalu mendominasi percakapan. Rasanya saya tidak punya kesempatan untuk berbicara atau dibicarakan.”
“Hmm, saya bisa mengerti. Itu pasti membuatmu merasa diabaikan. Ada beberapa teman lain yang curhat seperti itu.”
“Ya, itu! Saya tahu Tina itu baik dan ramah. Tapi, kadang saya lelah mendengarkan monolognya tanpa ada ruang bagi orang lain untuk bicara.”
…………
Pembaca yang budiman, Lisa memang sering dirasani teman-temannya karena terlalu talkative. Istilah ini mengacu pada kecenderungan untuk suka berbicara banyak atau terus-menerus dalam situasi sosial.
Beda dengan pandai atau trampil atau bijak berbicara, talkative cenderung mendominasi percakapan, bicara tanpa henti, dan tanpa memberi kesempatan orang lain. Kadang, yang diomongkan juga kurang bermutu.
Memang, orang talkative cenderung mudah bergaul dan memiliki kemampuan memulai dan mempertahankan percakapan dengan orang lain. Karena cenderung aktif bicara, ia sering memiliki banyak teman dan kenalan sehingga gampang membangun jaringan sosial.
Namun, terlalu talkative juga memiliki potensi downside. Orang yang terlalu talkative cenderung membuat orang lain merasa diabaikan atau tidak dihargai karena tidak mendapat kesempatan berbicara.
Terlalu banyak berbicara juga bisa membuat percakapan jadi tidak fokus. Bisa jadi, pembicaraan berlarut-larut pada topik yang mungkin tidak cocok atau tidak menarik bagi pihak lain.
Yang paling nyebelin, beberapa orang yang terlalu talkative kurang menyadari bahwa ia kurang menyadari bahwa orang lain juga butuh berbicara. Ketika ini terjadi dalam situasi sosial atau profesional tertentu, orang lain bisa merasa tidak nyaman.
Terus, bagaimana cara kita menghadapi teman atau orang yang terlalu talkative?
Ada banyak cara, tapi saya bahas khusus strategi empathic interrupting. Ini cara halus untuk menghentikan omongan orang talkative tanpa membuat ia merasa tersinggung. Strategi ini melibatkan keterampilan mendengarkan, ekspresi empati, dan menunjukkan keinginan berpartisipasi dalam percakapan.
Bagaimana caranya?
- Beri isyarat non-verbal: Gunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan bahwa Anda juga ingin bicara. Misalnya, angkat tangan atau tunjukkan ekspresi wajah bahwa Anda ingin menyampaikan sesuatu.
- Ucapkan terima kasih: Ketika ada celah percakapan, ucapkan terima kasih kepada si talkative untuk memberinya apresiasi. Misalnya, “Terima kasih atas pandangan hebat Anda. Tapi, saya juga punya pemikiran lain.”
- Gunakan kalimat pengalih: Saat ada jeda, gunakan kata-kata sopan untuk mengalihkan pembicaraan atau perhatian. Misalnya, “Wah, itu pendapat menarik. Saya juga ingin mendengar pendapat tentang sisi lainnya.”
- Berikan tanggapan singkat: Berikan tanggapan pada apa yang telah dia katakan, lalu lanjutkan dengan menyampaikan ide atau pertanyaan Anda sendiri. Misalnya, “Oke..oke.. Saya sependapat. Tapi saya juga ingin menambahkan…”
- Tegas tetapi ramah: Jika si talkative terus berbicara tanpa memberi kesempatan Anda berbicara, ambil tindakan tegas tetapi tetap ramah. Misalnya, “Maaf, bolehkah saya menyela sebentar? Saya ingin menambahkan sesuatu…”
- Tinggalkan saja; bila semua cara empatik tidak digubris, ya apa boleh buat. Tinggalkan saja dia. Misalnya, “Sebentar, ya. Saya ditelpon.” Atau, “Maaf, saya harus ke belakang.”
Strategi ini untuk menghormati orang yang berbicara sambil memastikan Anda memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam percakapan. Tujuan utamanya menciptakan dialog yang seimbang antara semua pihak yang terlibat. Jangan ada yang terlalu mendominasi.
(Bursa, 12 Maret 2024)


