Benarkah Banyak Uang Tidak Menjamin Kebahagiaan? Ini Bukti Ilmiahnya

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya menahan senyum saat mencuri dengar debat antara dua anak muda zaman sekarang;

“Saldo bank itu bukan jaminan kebahagiaan sejati.”

“Betul. Tapi, saldo yang besar bisa membuat saya merasa senang.”

“Ingatlah, kekayaan tidak bisa memberimu cinta sejati.”

“Siapa bilang? Saya bisa bayar orang untuk mendapatkannya.”

“Ingat juga, kekayaan tidak selalu membawa kedamaian batin!”

“Ya, karena saya jadi terlalu sibuk pesan ini dan itu lewat aplikasi.”

“Ah, kau ngeyel terus. Bagaimana kalau kita berbicara lebih banyak tentang cara menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.”

“Oke, siap. Yuk kita mulai pembicaraan sambil pesan tiket dulu ya. Mau ke Pulau Komodo, Raja Ampat, atau Derawan?”

………….

Pembaca yang budiman, soal kekayaan dan kebahagiaan itu sudah dibahas sejak zaman duluuu banget. Banyak filsuf, pemikir, bahkan praktisi yang menungkapkan gagasan mereka soal kepemilikan harta dengan kebahagiaan rasa. Mungkin, sampai kiamat pun bahasan ini baru tuntas.

Daripada menuruti debat kusir, saya kutip saja survei kebahagiaan hidup oleh Eric Galbraith dari Institut Sains dan Teknologi Lingkungan di Universitat Autònoma de Barcelona. Survei ini dibuat karena survei kebahagiaan global biasanya gagal melibatkan masyarakat di komunitas berpendapatan rendah. Survei global juga sering mendukung gagasan bahwa kekayaan memberikan kepuasan hidup lebih besar, terutama di kawasan kapitalis dan materialis.

Tim peneliti yang dipimpin Galbraith mensurvei 2.966 orang dari golongan masyarakat kecil yang sebagian besar mengidentifikasi diri sebagai penduduk asli dan berpenghasilan sangat rendah. Sebagian besar responden dari daerah dengan penghasilan kurang dari $1.000 per tahun. Cakupan penelitian meliputi 19 lokasi berbeda di lima benua.

Apa hasilnya?

Rata-rata kepuasan hidup yang dilaporkan mereka adalah 6,8 dari 10. Artinya, meski memiliki sedikit uang, sebagian besar responden mengaku sangat puas terhadap hidup mereka. Dalam beberapa kasus, bahkan tingkat kepuasan hidup di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah ini bisa menyaingi bahkan mengungguli tingkat kepuasan hidup masyarakat di negara kaya.

Memang, ada kesulitan yang nyata-nyata dihadapi oleh masyarakat ekonomi lemah di masa lalu atau sekarang. Misalnya, kesulitan berupa buruknya kesehatan dan sanitasi, adanya penindasan, atau marginalisasi, sehingga kebutuhan dasar manusia sulit dipenuhi. Tak heran, di beberapa lokasi penelitian, skor kepuasan hidup rata-rata 5,1 karena dampak dari keadaan yang tidak menguntungkan.

Namun, di banyak negara berpendapatan rendah lainnya, responden memberi skor kepuasan hidup rata-rata lebih tinggi dari 8,0. Skor kebahagiaan hidup ini setara dengan negara-negara kawasan Skandinavia yang secara konsisten menduduki peringkat paling bahagia di dunia.

Secara keseluruhan, penelitian Galbraith menunjukkan bahwa orang-orang dengan pendapatan sangat rendah pun bisa mencapai kepuasan hidup yang sama tingginya, dan dalam beberapa kasus malah lebih tinggi, jika dibandingkan dengan yang ditemukan di negara-negara kaya.

Lalu, kita bisa saja bertanya-tanya, “Jika bukan dari uang, di mana letak kebahagiaan?”

Penelitan ilmiah Galbraith di kawasan miskin ternyata sejalan dengan sejumlah penelitian lain yang dilakukan di negara-negara kaya. Pencapaian karier tinggi, uang banyak, dan kesuksesan, bukanlah formula pasti untuk mendapatkan kebahagiaan. Sesuatu yang bersifat materi memang bisa mendatangkan kesenangan sementara, tapi bukan kebahagiaan atau kepuasan hidup berkelanjutan.

Di negara-negara maju dan punya banyak kekayaan materi, belakangan justru mengalami peningkatan depresi dan sampai-sampai banyak yang mengakhiri hidup dengan cara tak wajar. Tingkat kesengsaraan yang terlihat di negara-negara kaya bertentangan dengan gagasan bahwa uang sama dengan kepuasan hidup.

Karena uang dan kekayanaan bukan semata penentu kebahagiaan, kita tentu perlu mempraktikkan rasa syukur atas hal-hal yang ada pada diri kita. Mencapai kepuasan hidup itu tidak harus dengan meningkatkan kepemilikan material yang hanya dimungkinkan oleh pendapatan lebih tinggi. Hal-hal terbaik dalam hidup kebanyakan bisa didapatkan secara gratis. Misalnya, peningkatan spiritualitas, membina hubungan keluarga dan sosial, mengakrabkan hubungan dengan alam, bisa menjadi faktor penting yang mendasari kebahagiaan.

Orang Jawa tentu kenal filosofi ‘Nrimo ing pandum‘. Filosofi ini mengajarkan kita untuk ikhlas dan berbesar hati menerima segala ketentuan yang datang. Meski mendapat limpahan rezeki maupun tumpukan cobaan, kita tetap bisa mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan sejati sehingga tidak tergantung pada jumlah harta yang kita miliki.

Jangan lupa juga, menurut Islam, harta benda kekayaan itu adalah titipan dari Allah. Manusia bertanggung jawab atas cara memperoleh, menyimpan, dan menggunakan harta. Umat Islam diajarkan bersikap adil dan bertanggung jawab dalam memperoleh dan menggunakan harta.

Islam mengajarkan agar umatnya tidak terikat secara emosional pada harta benda. Sebaliknya, dianjurkan untuk mengutamakan nilai-nilai spiritual dan kebaikan sosial di atas harta material. Antara lain lewat zakat dan sedekah.

Bukankah kita bisa ikutan bahagia saat orang lain menjadi bahagia karena kita?

Facebook Comments

Comments are closed.