Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Seorang pelatih kepala curhat ke saya tentang seorang murid baru di Sekolah Sepakbola (SSB) yang dikelolanya.
“Anak itu betul-betul toxic. Usai latihan awal hari pertama, saya tanya-tanya ke dia untuk observasi. Apakah latihannya cukup? Apakah pelatihnya oke? Apakah teman-temannya mendukung? Apakah sarananya sudah pas? Dia jawab, semua baik-baik saja. Dia juga sebut coach A bagus, coach B baik. Teman-temannya menyenangkan. Eh, besoknya bapaknya datang ke SSB menemui saya sambil marah-marah. Dia protes mengapa SSB ini begini-begitu. Mengapa coach ini tidak becus melatih. Saya jelaskan, kami sudah melakukan semua sesuai standar, tapi bapak itu ngotot saja. Usut-punya usut, rupanya si anak itu mengadu pada bapaknya mengeluhkan berbagai hal. Entah apa maunya anak itu. Bilang begini ke saya, tapi bilang begitu ke bapaknya.”
………….
Pembaca yang budiman, panjang sekali curhatan teman saya itu tentang muridnya yang toksik. Saya tidak akan menuliskan lengkap curhatannya, tapi saya ingin membahas perilaku anak yang disebutnya toksik itu.
Dalam psikologi, ada istilan double-faced behavior. Dalam istilah orang sini, perilaku bermuka dua. Pelakunya disebut two-faced people alias orang yang bermuka dua. Bagi orang berbudaya Jawa, perilaku ini masuk katagori ‘tumbak cucukan‘ yang tidak disukai.
Orang yang bermuka dua biasanya adalah orang yang tidak tulus dan bahkan ada unsur menipu. Mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang Anda kepada orang lain, padahal terlihat menyenangkan saat bersama Anda. Mengatakan hal yang berbeda kepada orang yang berbeda dalam upaya mendapatkan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Mengapa bisa begitu?
Tentu ada banyak penjelasan. Namun, salah satu penyebab psikologis utamanya adalah perasaan tidak aman pada diri sendiri. Seringkali, sumber dari perilaku bermuka dua ini dari rasa tidak aman secara pribadi. Ia mungkin menutupi perasaan aslinya agar bisa diterima orang lain atau agar tujuannya tercapai.
Nah, karena ada unsur semacam penipuan entah di mana, maka perilaku bermuka dua ini punya berbagai dampak dalam hubungan sosial. Ketika terjadi penipuan, situasi bisa berubah seperti berada di ladang ranjau. Tidak tampak apa-apa di permukaan, tapi ada yang siap meledak jika kita salah menginjakkan kaki. Ketika rasa saling percaya sudah terganggu, sering kali muncul keretakan yang sulit disembuhkan.
Kepercayaan yang terlanjur hilang akan sulit diperoleh kembali. Perilaku menipu oleh si muka dua ini sering kali menimbulkan skeptisisme di pihak lain. Akibatnya, sulit terjadi komunikasi terbuka dan saling percaya. Ini bisa berlangsung lama.
Ketika seseorang merasa dipedayai oleh di muka dua, sangat mungkin muncul dampak emosional. Mulai dari sekadar gusar, marah hingga sakit hati yang mendalam. Tak pelak, hubungan antara seseorang dengan si muka dua ini mengalami pergeseran dinamika, dengan semakin meningkatnya ketegangan dan menurunnya keintiman.
Maka, kepada teman saya yakni si pelatih SSB, saya beri saran agak banyak untuk menghadapi murid yang bermuka dua. Intinya adalah meluruskan komunikasi, menyeimbangkan empati dengan pemeliharaan diri, karena yang dihadapinya adalah anak yang sedang belajar main bola.
Saya minta dia memahami motivasi si anak. Dengan mengetahui mengapa si anak berperilaku muka dua, ia dapat memfasilitasi empati dan mengambil keputusan yang tepat. Kemudian, saya sarankan ia menetapkan batasan yang jelas untuk menentukan apa perilaku murid yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima.


