Oleh: Esti D. Purwitasari MPsi MM
Mepnews.id – Duh, saya dapat kabar lumayan gahar. Setelah baca sejumlah penelitian ilmiah, saya dapat tambahan info tentang otak bermasalah. Kesimpulannya; mulut yang tidak sehat membuat otak jadi tidak kuat.
Yuk, kita urai hasil penelitian ilmiahnya.
Penelitian empat tahun plus terhadap 40,175 responden usia 40 – 70 di Inggris menemukan, kesehatan mulut yang buruk menyebabkan perubahan otak yang berhubungan dengan timbulnya demensia dan stroke bahkan bertahun-tahun sebelum penurunan kognitif itu seharusnya terjadi. Orang yang mulutnya tidak sehat memiliki volume WMH (hiperintensitas materi putih) lebih tinggi dan profil arsitektur materi putih yang lebih buruk.
Bingung, ya? Baik, saya coba jelaskan lebih sederhana.
Otak kita terdiri dari materi berwarna putih dan materi berwarna abu-abu. Materi abu-abu ini terdiri dari badan sel saraf yang sering disebut sebagai area pemrosesan otak dan tulang belakang. Serabut saraf yang menghubungkan area materi abu-abu satu sama lain dan ke sumsum tulang belakang disebut materi putih. Untuk sederhananya, bayangkan saja materi putih ini membentuk semacam kabel atau sistem jaringan yang menghubungkan berbagai pusat pemrosesan area abu-abu dalam otak.
Materi putih itu berwarna putih karena serabut saraf ditutupi selubung mielin berlemak. Mielin ini tugasnya mengisolasi serat dan membantu mempercepat sinyal di sepanjang sirkuit saraf. Untuk sederhanyanya, bayangkan saja ini seperti plastik pembungkus kabel listrik.
Nah, WHM atau hiperintensitas materi putih itu terjasi jika ada lesi kecil akibat kerusakan mielin dan serabut saraf di materi putih. Untuk sederhannya, bayangkan plastik kabelnya sobek. Kalau kabelnya sobek, jaringan listrik tidak menyala. Kerusakan kerusakan mielin dan serabut saraf bisa menyebabkan perlambatan sinyal yang ditransmisikan ke otak sehingga dapat menyebabkan penurunan kognitif.
Penelitian yang dipimpin Cyprien A. Rivier dari Department of Neurology, Yale University School of Medicine, Amerika Serikat itu menunjukkan, penyakit gusi dan kesehatan mulut yang buruk dapat merusak materi putih di otak sehingga menyebabkan penurunan kognitif hingga potensi stroke. Gawat, kan?
Penelitian berikutnya, oleh para ilmuwan Jepang, juga mengindikasikan penyakit gusi dan gigi tanggal terkait dengan penyusutan hippokampus dalam otak. Hippokampus ini berperan dalam kemampuan mengingat. Jika ada masalah dengan hippokampus, bisa berpeluang terjadinya penyakit Alzheimer.
“Peradangan jaringan di sekitar gigi dapat menyebabkan penyusutan gusi dan goyahnya gigi sudah sangat umum terjadi sekarang,” kata Satoshi Yamaguchi PhD DDS dari Universitas Tohoku di Sendai, Jepang. “Penelitian kami menemukan kondisi ini ternyata bisa mempengaruhi kesehatan area otak yang mengontrol pemikiran dan memori.”
Penelitian melibatkan 172 orang berusia rata-rata 67 tahun yang awalnya tidak memiliki masalah memori. Peserta menjalani pemeriksaan gigi dan mengikuti tes memori pada awal penelitian. Mereka juga menjalani pemindaian otak untuk mengukur volume hippokampus. Empat tahun kemudian, mereka kembali menjalami pemeriksaan gigi dan pemidaian otak.
Hasilnya, para peneliti menemukan, jumlah gigi tanggal dan kondisi penyakit gusi terkait dengan perubahan kondisi hippokampus otak. Orang yang berpenyakit gusi ringan dan memiliki gigi lebih sedikit punya masalah penyusutan otak yang lebih cepat di hippokampus kiri. Orang yang berpenyakit gusi parah, tapi memiliki lebih banyak gigi, dikaitkan dengan penyusutan otak lebih cepat di area hippokampus kiri. Orang dengan penyakit gusi ringan, peningkatan tingkat penyusutan otak akibat berkurangnya satu gigi setara dengan hampir satu tahun penuaan otak. Orang dengan penyakit gusi parah, peningkatan penyusutan otak akibat berkurangnya satu gigi setara dengan 1,3 tahun penuaan otak.
Jadi, yuk kita selalu menjaga kesehatan mulut. Tidak hanya untuk mempertahankan gigi dan memperkuat gusi, tapi juga mencegah penyusutan volume otak.


