Alexithymia, Ketika Kita Sulit Mengenali Emosi

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Pernah dengar istilah ‘alexithymia’?

Biasanya, kalau ada artis atau selebriti yang mengaku kena alexithymia, maka banyak orang akan turut merasa, ‘Ah, aku sepertinya kayak gitu juga ya.’ Tapi, kalau belum ada selebriti yang mengaku kena, hanya segelintir orang yang memahaminya.

Karena itu, saya coba memberi sedikit gambaran agar kita lebih mengenalinya.

Istilah ‘alexithymia’ digunakan untuk menggambarkan kondisi kesulitan atau ketidakmampuan seseorang untuk mengenali dan mengungkapkan emosinya dengan kata-kata. Maka, orang dengan alexithymia cenderung kesulitan memahami perasaan mereka sendiri sekaligus kesulitan mengenali perasaan orang lain.

Saya yakin, kita semua pernah mengalami hal itu. Setidaknya, satu atau dua atau tiga kali. Ini normal dan wajar. Tapi, ada juga orang-orang yang mengalami alexithymia berat. Bagi mereka, kehilangan kata-kata untuk menggambarkan perasaan itu bisa menjadi tantangan abadi berkepanjangan.

Sebut saja kasus Alyssa. Ketika berusia akhir 20-an, ia baru sadar menderita alexithymia setelah terapi psikologis untuk masalah gangguan terus-menerus atas hubungannya dengan orang lain. Ia tidak bisa mengungkapkan atau merasakan kasih sayang dirinya atau pasangannya.

“Ketidakmampuan saya untuk mengomunikasikan perasaan, kasih sayang, ketidaksenangan atau ketidaksetujuan saya secara verbal di saat-saat panas justru sering mengakibatkan kesalahpahaman. Ini menyulitkan orang lain untuk sepenuhnya memahami apa yang saya alami,” kata wanita yang sekarang berusia 35 tahun, sudah menikah, dan memiliki dua anak ini.

Alexithymia pertama kali diidentifikasi dan diperkenalkan sebagai konsep ilmiah oleh dua psikiater Amerika; Profesor Peter E. Sifneos dan Profesor John C. Nemiah.

Pada 1973, Sifneos menerbitkan makalah tentang kelompok pasien yang mengalami kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi mereka. Ia menamai kondisi ini ‘alexithymia’. Dalam bahasa Yunani, ‘a’ berarti ‘tanpa’, ‘lexis’ berarti ‘kata-kata’, dan ‘thymos’ berarti ’emosi’ atau ‘perasaan.’

Lalu, Sifneos bekerja sama dengan Nemiah dalam penelitian mengenai kondisi ini. Mereka saling berkontribusi dalam menyempurnakan pemahaman tentang alexithymia. Sejak itu, alexithymia menjadi area penelitian yang signifikan di bidang psikologi, psikiatri, dan neurosains.

Karakteristik umum alexithymia meliputi:

  • Kesulitan mengidentifikasi emosi. Orang bingung atau tidak tahu bagaimana mendefinisikan perasaan yang dia alami. Ia kesulitan mengenali perbedaan antara emosi, seperti kesulitan membedakan antara cemas dan marah.
  • Kesulitan mengungkapkan emosi. Ia kesulitan mengungkapkan emosi secara verbal atau melalui ekspresi wajah. Ia mungkin merasa canggung atau merasa terbatas ketika mencoba berbicara tentang atau mengungkapkan perasaannya.
  • Fokus pada aspek fisik atau perilaku: Beberapa orang dengan alexithymia lebih mampu menyatakan perasaan dalam bentuk fisik atau melalui tindakan daripada melalui kata-kata. Misalnya, mereka merasakan emosi sebagai sensasi pada tubuh yang panas atau merespons dengan tindakan yang tampak seperti marah atau gelisah.
  • Kesulitan memadukan antara emosi dengan pikiran dan tindakan. Orang dengan alexithymia kesulitan mengaitkan emosi dengan situasi atau peristiwa yang mungkin memicu perasaan tersebut. Akibatnya, ia mungkin tampak ‘dingin’ atau tidak beremosi dalam situasi yang seharusnya memunculkan reaksi emosional.

Alexithymia memengaruhi hubungan interpersonal dan kualitas hidup seseorang. Kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi dapat menyulitkan dalam berkomunikasi atau menjalin ikatan emosional dengan orang lain. Itu terbukti dengan kasus yang dialami Alyssa di atas.

Padahal, penelitian menunjukkan, sekitar 10% orang dalam populasi umum mengalami alexithymia dan 30% remaja memiliki kondisi tersebut. Kesulitan memproses emosi juga terjadi pada orang dengan gangguan spektrum autisme (ASD). Sekitar 50% orang dengan ASD mengalami alexithymia yang terjadi bersamaan.

Angka-angka yang cukup signifikan.

Alexithymia juga gampang terjadi pada orang yang memiliki gangguan neurologis (cedera otak traumatis, penyakit Parkinson dan sejenisnya), pada orang dengan gangguan kejiwaan (depresi mayor, kecemasan , panik, atau stres pascatrauma, dan sejenisnya). Begitu juga dengan anak-anak yang dibesarkan dengan doktrin bahwa mereka tidak boleh menangis atau mengekspresikan emosi karena mereka dipaksa harus kuat. Begitu juga pada orang yang menekan emosi sebagai mekanisme penanggulangan trauma psikologis.

Semoga Anda pernah mengalami alexithymia dalam porsi minim atau wajar-wajar saja. Jangan sampai kena alexithymia yang kronis sehingga Anda kesulitan dalam merasakan kondisi emosi diri sendiri dan emosi orang lain.

Facebook Comments

Comments are closed.