Epidemi Kesepian Kaum Muda

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Dalam kesempatan kunjungan ke luar kota, saya bertemu sahabat guru setempat yang ingin mengobrol tentang siswa usia remaja.

“Saya merasa remaja masa kini lebih heboh daripada generasi kita tapi justru lebih kesepian. Saya melihatnya setiap hari di sekolah. Mereka duduk bergerombol, tapi masing-masing menunduk pada layar. Sunyi kolektif. Notifikasi tak pernah berhenti, tapi tetap saja mereka merasa tak didengar,” kata dia.

“Ya,karena zamannya beda. Media sosial membuat mereka terlihat, tapi tidak selalu dipahami,” saya mencoba menimpali. “Dalam pengalaman keseharian, apa yang njenengan paling sering dengar dari mereka?”

“Hmm…. kalimat sederhana: ‘Saya nggak punya tempat bercerita.’ Padahal, lho, ponsel mereka berisi ratusan kontak.”

“Berarti, yang kurang bukan koneksinya, tapi kelekatannya,” saya coba menjelaskan.

“Iya, betul. Banyak orang tua hadir secara fisik, tapi emosinya sibuk. Anak-anak akhirnya menyimpan banyak hal sendirian. Kesepian itu ternyata bukan soal sendiri atau ramai, ya? Lebih tepatnya, kesepian itu perasaan tidak terhubung secara batin. Ada yang punya keluarga lengkap, tapi tetap merasa asing di rumah sendiri. Ada yang punya teman banyak, tapi merasa tidak dianggap.”

………….

Pembaca yang budiman, masalah kesepian yang dihadapi remaja masa kini memang sudah bukan rahasia lagi. Masing-masing kita pasti pernah merasa kesepian pada waktu dan kondisi tertentu. Namun, bagi kaum muda saat ini, kesepian menjadi lebih persisten dan berdampak.

Sampai-sampai, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kesepian sebagai krisis kesehatan masyarakat global. Satu dari enam orang di seluruh dunia terpengaruh oleh kesepian. Remaja berusia 13-17 tahun mengalami angka tertinggi dari semua kelompok usia, yaitu sekitar satu dari lima orang. Ini mirip epidemi.

Tapi, apa sih kesepian itu?

Saya coba definisikan rasa sepi itu sebagai adanya kesenjangan antara koneksi sosial yang kita inginkan dan koneksi sosial yang sebenarnya kita miliki. Lebih jelasnya, saat kita merasa ingin koneksi sosial yang luas tapi kenyataannya kita nyaris tidak terkoneksi.

Orang bisa mengalami kesepian secara berbeda. Saya, misalnya, mungkin bisa mengalami kesepian sosial ketika sedang tidak memiliki akses ke jaringan keluarga besar dan teman-teman. Seorang remaja bisa saja selalu dikelilingi teman-teman sekolah namun merasa kesepian saat koneksi sosialnya dia anggap kurang mendalam atau kurang bermakna.

Seiring semakin meningkatnya penggunaan teknologi komunikasi digital dengan kecepatan luar biasa, kesepian justru menggerogoti kesejahteraan mental remaja. Bagi kaum muda, kesepian itu tidak hanya menyakitkan secara mental tetapi juga meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang. Dari depresi hingga gangguan kardiovaskuler, diabetik, dan lain-lain.

Mengapa remaja sampai mengalami tingkat kesepian sangat tinggi? Antara lain karena kurangnya waktu bergaul intens dengan teman atau keluarga, meningkatnya penggunaan media sosial, hingga ketidakpuasan dengan kualitas interaksi tatap muka yang mereka dapatkan.

Untuk mengatasi kesepian, ada berbagai sudut pandang dan variasi format penyampaiannya. Studi meta-analisis tim internasional Mathias Lasgaard dan rekan-rekannya memaparkan pendekatan intervensi utama:

  • Dukungan Sosial. Intervensi ini memberikan pendampingan secara teratur pada remaja untuk menumbuhkan rasa keterhubungan. Misalnya; program bimbingan atau kelompok ‘makan siang bersama’.
  • Ekspansi Jaringan Sosial. Intervensi ini memperluas lingkaran sosial dengan menciptakan peluang remaja untuk interaksi sosial. Misalnya; kelompok aktivitas atau voluntiran yang terstruktur.
  • Pembangunan Keterampilan Sosial dan Emosional. Intervensi ini bertujuan membangun keterampilan hidup vital bagi remaja. Misalnya, ketrampilan mengatasi emosi atau ketrampilan komunikasi efektif.
  • Psikoedukasi. Ini atrategi intervensi yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman tentang kesepian, mengurangi stigma, dan menawarkan pilihan tindakan. Misalnya; diskusi kelompok remaja terpadu tentang strategi mengatasi masalah.
  • Psikologis. Intervensi ini mengatasi pikiran, emosi, dan perilaku yang dapat memicu kesepian. Misalnya, sesi terapi perilaku kognitif, program mindfulness, atau konseling.

Mana yang cocok? Tentu, tergantung pada kondisi dari masing-masing remaja yang bermasalah dengan kesepian.

Facebook Comments

POST A COMMENT.