mepnews.id – Tabuhan kentongan bersahut-sahutan memecah sunyi dini hari di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Di antara ritme kayu bambu yang dipukul berulang, penari Topeng Malangan menyusuri gang sempit, membangunkan warga untuk sahur dengan cara tak biasa. Itulah wajah Sahur On The Road (SOTR) yang dihadirkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 20 Februari 2026.
Dikabarkan situs resmi umm.ac.id, jika biasanya patroli sahur identik dengan pengeras suara atau sekadar arak-arakan, UMM justru mengawinkannya dengan sentuhan budaya lokal. Kentongan dijadikan instrumen utama, penari Topeng Malangan hadir sebagai simbol identitas kampung. Perpaduan ini membuat suasana sahur terasa lebih hidup sekaligus sarat makna tradisi.
“Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi warga. Selama ini belum pernah ada yang keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng. Ini pertama kalinya terjadi di sini,” ujar Ki Demang penggagas Kampung Budaya Polowijen.
Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan sekadar meramaikan Ramadan melainkan juga bentuk kepedulian mahasiswa terhadap identitas budaya kampung. Ia menilai tradisi harus dihadirkan dalam ruang-ruang aktual agar tetap hidup dan tidak hanya menjadi tontonan seremonial.
Setelah patroli keliling, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di salah satu titik kampung yang dikenal sebagai Pawon. Gerakan khas dengan karakter topeng yang kuat menjadi puncak acara. Pertunjukan itu sekaligus menjadi ruang edukasi budaya bagi mahasiswa dan generasi muda setempat.
“Tari Topeng itu warisan leluhur yang menyimpan nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu juga kentongan, bukan sekadar dipukul untuk membangunkan sahur, tetapi alat komunikasi warga yang memiliki makna sosial. Ketika keduanya dipadukan dalam patroli sahur, ini menjadi sumbangsih yang besar,” tambah Ki Demang.
Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro MIkom, menjelaskan konsep SOTR tahun ini dirancang sebagai kolaborasi sosial dan budaya. Mahasiswa KKN didorong membangun kedekatan dengan masyarakat berbasis kearifan lokal, bukan hanya menjalankan agenda berbagi.
“Mengangkat Tari Topeng dalam momentum sahur bukan sekadar memperkuat identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu. Kentongan menjadi simbol solidaritas, sementara tari topeng merepresentasikan warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan santap sahur bersama yang didukung Hotel Kapal Garden dan Sengkaling Kuliner. Mahasiswa dan warga duduk berdampingan, menikmati hidangan setelah patroli dan pertunjukan usai. Suasana hangat itu menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga ruang mempererat relasi sosial.
Melalui konsep ini, UMM menunjukkan bahwa gerakan sosial mahasiswa dapat berjalan beriringan pelestarian budaya. Patroli sahur bukan lagi sekadar tradisi membangunkan warga, melainkan medium merawat identitas lokal. Di Polowijen, kentongan dan topeng tak hanya berbunyi dan menari, keduanya menghidupkan kembali denyut kebersamaan. (Vivin)



POST A COMMENT.