Anies Baswedan Hadiri Peringatan 35 Tahun Kongres Senat Mahasiswa

mepnews.id – Anies Rasyid Baswedan, ketua Senat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 1992-1993, menghadiri Peringatan 35 Tahun Kongres Senat Mahasiswa, sekaligus Reuni Pengurus Senat Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) 1991-2025, pada 31 Januari 2026, di Gedung B, Fakultas Biologi.

Dikabarkan situs resmi ugm.ac.id, melalui pertemuan lintas generasi ini diharapkan agar semangat kritis, solidaritas, serta nilai-nilai perjuangan dan keberpihakan pada kepentingan publik tetap hidup dalam perjalanan organisasi mahasiswa generasi berikut.

Dalam sesi diskusi, Anies mengisahkan tekanan birokrasi yang dihadapi mahasiswa kala itu. Ia juga memaparkan bagaimana konsep Senat Mahasiswa UGM dilaporkan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi karena dianggap menyimpang.

Namun, pihak kampus memberikan dukungan nyata kepada mahasiswa. Salah satunya Ir Haryono yang kala itu menjabat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. “Bagi mahasiswa, Pak Haryono seperti penangkal petir sehingga kami tidak merasakan tegangan tinggi luar biasa waktu itu,” tutur mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Perjumpaan lintas generasi pengurus Senat Mahasiswa dan BEM UGM menjadi momentum penting sebagai refleksi perjalanan organisasi mahasiswa dari masa ke masa. Ia berharap, kampus-kampus di seluruh Indonesia terus menjadi sarana penumbuhan potensi kepemimpinan. Dari ruang untuk mahasiswa di kampus-kampus ini, tumbuh pemikiran kritis, objektif, dan tumbuh dengan ilmu pengetahuan dan wawasan luas, serta tumbuh dengan iklim demokrasi yang sehat.

“Itu semua cikal bakal untuk kita menjaga demokrasi tetap sehat dan berorientasi pada kepentingan rakyat banyak. Kebetulan kita terus menuju keadilan sosial bagi seluruh Indonesia,” kata Anies.

Ir Haryono, dalam sesi diskusi, juga mengenang perannya mendampingi gerakan mahasiswa pada era represifnya Orde Baru di kampus setelah diterapkannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK). Ia mengungkap rasa bahagia kala itu karena sering berdiskusi dengan mahasiswa di kampus.

Sekarang, ia berpesan pada generasi muda agar senantiasa aktif dalam organisasi melalui forum komunikasi mahasiswa. “Jangan menyesal pernah menjadi aktivis mahasiswa saat di perkuliahan. Apa yang pernah kita lakukan benar-benar berdampak positif bagi karir saat kita lulus,” paparnya.

Elan Satriawan MSc PhD, ketua pelaksana 35 Tahun Kongres Senat Mahasiswa, menjelaskan Kongres Senat Mahasiswa pertama lahir di tengah iklim politik Orde Baru yang mengekang gerakan mahasiswa. Hal ini membuat pembentukan Senat Mahasiswa menjadi bagian dari perjuangan yang tidak mudah.

Terselenggaranya pertemuan ini menjadi bentuk refleksi dari banyaknya pembelajaran sebagai pengingat bahwa banyak hal telah diperjuangkan mahasiswa. “Kita mengadakan acara ini bukan sekadar merayakan kongres itu pernah ada, bukan sekadar kangen-kangenan, tetapi karena ada banyak pembelajaran yang patut menjadi pengingat sekaligus refleksi,” ujar ekonom UGM ini.

Arief Setiawan Budi Nugroho ST MEng PhD, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi aktif para aktivis mahasiswa lintas generasi yang hadir dalam perhelatan tersebut. Ia menyebut semangat pengabdian yang lahir dari gerakan mahasiswa seharusnya tidak berhenti setelah masa studi berakhir.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di sini semuanya adalah aktivis pada masanya, yang tidak hanya memengaruhi Universitas Gadjah Mada, tetapi juga memberi warna bagi Indonesia. Darma bakti untuk bangsa Indonesia itu tidak berhenti saat kita lulus, tetapi berlangsung sepanjang hayat,” jelasnya.

Dekan Fakultas Biologi, Prof Dr Budi S. Daryono, menyampaikan rasa bangga karena fakultasnya menjadi wadah pertemuan para aktivis mahasiswa lintas generasi. Ia menegaskan pentingnya menjaga kebersamaan serta kesinambungan perjuangan nilai-nilai organisasi mahasiswa yang telah diperjuangkan sejak awal.

Ia menekankan pentingnya merawat semangat perjuangan agar dapat dilanjutkan pada generasi penerus. “Pertemuan ini tidak lain karena kita ingin terus menjaga semangat, mengambil peran untuk negeri, dan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang dulu tumbuh di kampus ini,” tuturnya. (Cyntia Noviana)

Facebook Comments

Comments are closed.