mepnews.id – Jika Anda mengaku orang Betawi tapi belum pernah ke Setu Babakan, rasanya ada yang kurang. ‘Setu Babakan’ sendiri memiliki arti mendalam; ‘Setu’ berarti ‘danau buatan’ yang dahulu berfungsi sebagai irigasi. ‘Babakan’ berasal dari bahasa Betawi yang berarti ‘perkampungan baru’.
Nah, kawasan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan kini bukan sekadar tempat wisata air, melainkan pusat pelestarian budaya. Ada Museum Betawi yang diresmikan sebagai cagar budaya sejak 2000 oleh Gubernur Sutiyoso. Museum ini dibangun pada 2012 dan dibuka untuk umum pada 30 juli 2017. Pengunjung tidak dipungut biaya, alias gratis. Cukup registrasi di pintu masuk.
Museum Betawi terdiri dari tiga lantai. Setiap lantai memiliki tema unik untuk mengeksplorasi kehidupan suku Betawi dari berbagai sisi:
Lantai 1 (Ikon & Tradisi)
Begitu melangkah masuk, mata dimanjakan oleh warna-warni busana adat dan simbol budaya.
-

Pakaian pengantin Betawi.
Busana Pengantin: Lihat detail pakaian pengantin Dandanan Care Haji dan Care Noné yang merupakan perpaduan unik budaya Arab, Tiongkok, Belanda, dan Nusantara. Ada juga baju Sadariah (pria), Kebaya Kerancang (wanita), serta kain cukin dan peci.
- Simbol Budaya: Lihat replika rumah adat Kebaya dengan ornamen Gigi Balang, Kembang kelapa warna-warni, Golok raksasa senjata tradisonal betawi, serta sepasang Ondel-ondel
-

Senjata tradisional Betawi versi raksasa.
Musik & Seserahan: Koleksi alat musik seperti Tanjidor, Gamelan, hingga Rebana Biang tertata rapi. Ada juga pajangan Roti Buaya yang wajib ada dalam hantaran pernikahan sebagai simbol kesetiaan, serta Perhiasan.
Lantai 2: Galeri Kehidupan Sehari-hari & Kuliner
Naik ke lantai dua, suasananya terasa lebih hangat dan ‘rumahan’. Di sini fokusnya adalah gaya hidup orang Betawi di masa lalu.
- Dapur & Kuliner: Lihat peralatan masak kuno, seperti; kukusan, alu, pane (bakul nasi kayu), dan kipé. Ada juga replika meja makan lengkap dengan pajangan makanan khas seperti Kerak Telor dan Bir Pletok. Menariknya, museum ini menggunakan proyektor visual untuk mengenalkan kekayaan kuliner.
- Ruang Keluarga: Ada area untuk ngeriyung (berkumpul) dengan perabot khas seperti meja kanjengan.
- Transportasi: Boleh berfoto dengan transportasi ikonik masa lalu, seperti Delman dan sepeda ontel yang masih sangat terawat.
Lantai 3: Galeri Sejarah
Lantai teratas ini mengupas tuntas asal-usul wilayah dan tokoh-tokoh besar yang menghidupkan budaya Betawi.
-

Sepeda othel.
Sejarah Wilayah: Menjelaskan asal-usul daerah di Jakarta, khususnya Jagakarsa. Ternyata, warga Jagakarsa zaman dulu banyak yang berprofesi sebagai nelayan yang mencari ikan di Setu Babakan.
- Seniman & Komedi: Sebagai penghormatan bagi dunia hiburan, lantai ini menampilkan potret seniman legendaris seperti Benyamin Sueb dan Mpok Nori, lengkap dengan sejarah komedi Betawi.
- Area Interaktif: Di lantai ini, pengunjung tidak hanya melihat tapi juga bisa mencoba langsung pakaian adat atau baju silat (Beksi), serta berfoto di photobooth bertema khusus untuk kenang-kenangan.
“Jujur, saya kaget museumnya sebagus dan seluas ini. Masuknya gratis, enggak di punggut biaya apapun. Saya paling suka di lantai dua, lihat alat masak zaman dulu yang unik-unik sama makanan khas betawi. Anak saya suka saat lihat ondel-ondel di sini” ujar Ela (37), pengunjung asal Bekasi yang datang bersama keluarganya.
Selain museum, di luar gedung terdapat Amphitheater dan Gedung Serbaguna yang sering digunakan untuk acara khusus atau pertunjukan kebudayaan seperti lenong, pencak silat dan tari-tarian. Ada juga Delman, alat transportasi legendaris yang masih bisa dijumpai di area ini.
Di sekitar Amphiteater terdapat beberapa rumah adat antara lain Rumah Adat Bapang, Rumah Adat Limasan/Joglo dan Rumah Adat Gudang. Selain itu terdapat kantin yang menyajikan kuliner khas seperti Kerak Telor, Bir Pletok, Es Selendang Mayang. Kamu bisa menikmati hidangan sambil menatap ke arah danau buatan di seberang kantin.
Museum buka Selasa sampai Minggu, pukul 09.00 – 15.00. Kalau ingin mengunjungi Museum Betawi, kamu bisa naik KRL dan turun di Stasiun Universitas Pancasila atau Lenteng Agung, lalu lanjut naik ojek online 10 menit. Jika menggunakan bus TransJakarta, pilih koridor 9H (Blok M – Cipedak) atau 5N (Kampung Melayu – Ragunan) yang beroperasi 05.00 – 22.00. Kalau ingin menyaksikan pentas seni di Amphitheater, berkunjunglah pada Sabtu atau Minggu. (Intan)


