Manfaat Besar Vicarious Learning

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Bisnis pertama saya gagal,” Mira memulai curhat. “Cafe dengan modal pesangon PHK itu hancur lebur. Saya sempat stress karena kehabisan uang.”

“Oh, turut prihatin. Semoga nanti bisnis Anda sukses,” saya mencoba bersimpati.

“Tapi, okelah. Pengalaman adalah guru terbaik. Saya baru benar-benar pahami itu setelah gagal buka usaha pertama,” kata Mira lagi.

“Jadi, Anda tidak menyesal karena gagal?”

“Justru itu saya pingin curhat. Saya memang sempat stress. Tapi, kegagalan itu malah membuat saya seperti ikut kuliah kehidupan nyata — mahal, tapi ilmunya nempel di kepala dan hati.

“Wah, hebat. Tapi, sebenarnya Anda tidak perlu membayar terlalu mahal jika mau melakukan vicarious learning.”

 

…………

Pembaca yang Budiman, vicarious learning berarti belajar dari pengalaman orang lain. Seseorang bisa memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dengan cara mengamati dan meniru perilaku atau pengalaman orang lain. Tidak harus dengan pengorbanan besar atau mahal dengan mengalami sendiri untuk mendapatkan hasil yang setara besarnya.

Istilah vicarious learning diperkenalkan psikolog Albert Bandura lewat beberapa risetnya pada 1970-an. Menurut Bandura, seseorang bisa mengamati perilaku orang lain dan memperoleh pengetahuan baru dari pengalaman tersebut. Proses ini melibatkan penginderaan, perasaan, dan empati dengan apa yang orang lain lakukan. Agar pembelajaran lebih mantap, perlu juga mencatat, serta mengevaluasi.

Bila Bu Mira tadi ingin membuka bisnis cafe, ada baiknya ia mengamati pemilik cafe atau setidaknya manajer cafe saat bekerja dengan efektif. Nyatri dulu. Setelah memperoleh pengetahuan baru tentang mengelola cafe, ia baru buka cafe-nya sendiri. Jika ada yang kurang dipahami, ia bisa bertanya dan melakukan evaluasi bersama owner atau manajer cafe yang ia amati.

Dengan vicarious learning, Bu Mira bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan baru dengan cepat dan efisien. Yang penting, ia bisa mengurangi risiko dan kesalahan dengan mempelajari kesalahan orang lain. Dari pembelajaran ini, ia bisa meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah. Ia juga bisa meningkatkan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

Jika Anda juga ingin mencapai sesuatu tanpa lebih dulu berpayah-payah mengalaminya, coba terapkan vicarious learning. Anda temukan dulu orang yang sudah berhasil sebagai mentor, lalu amati dan tiru pengalamannya. Sebagai tambahan, Anda juga bisa mencari sumber informasi lain yang kredibel dan relevan.

Yang tak kalah penting, praktikkan keterampilan baru dari mentor yang Anda amati untuk memperoleh umpan balik yang tepat. Tentu Anda tidak langsung bisa seperti orang yang Anda tiru. Ada proses untuk terus meningkatkan kemampuan, terus berpikir kritis dan terus berlatih memecahkan masalah.

Hasilnya, mungkin Anda bisa sesukses orang yang Anda tiru, bisa juga tak sesukses orang yang Anda tiru tapi lebih selamat, bahkan bisa juga Anda menemukan cara atau jalan lain yang berbeda dari mentor Anda. Yang pasti, Anda bisa meminimalisir risiko diri sendiri karena telah mempelajari berbagai potensi kekeliruan dan ketepatan dari orang yang Anda pelajari.

 

Facebook Comments

Comments are closed.