mepnews.id – Namanya Maneerat Buntem. Usianya 56 tahun. Pegang paspor Thailand. Datang ke Indonesia untuk satu misi pribadi; kuliah di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Di usia saat banyak orang mulai berfikir beristirahat dan menikmati masa pensiun, ia malah memburu Program Magister Pendidikan Agama Islam.
Maneerat seolah membuktikan bahwa tidak ada batas waktu untuk terus belajar. Lulus dari Ramkhamhaeng University tahun 1991 dengan gelar Bachelor of Education in Thai Language, ia melanjutkan studi di Sukhothai Thammathirat University meraih gelar sarjana kedua di bidang Administrasi Pendidikan pada 1997. Pada 2001, ia meraih Magister Administrasi Pendidikan dari Silpakorn University, dan pada 2010 berhasil menyelesaikan Doktor Administrasi Pendidikan. Pada 2017, ia mendapat penghargaan Good Governance for School Executive Director di Thailand.
Selama tiga dekade, Maneerat mengabdikan diri sebagai guru. Setelah 31 tahun mengajar, ia resign dan memenuhi panggilan hati untuk kuliah lagi.
“Alasan saya melanjutkan studi adalah ayah saya yang sudah meninggal. Beliau imam dan guru agama. Saya ingin mengikuti jejak beliau. Saya ingin menjadi muslimah yang baik untuk diri sendiri dan orang lain,” ungkapnya di situs resmi um-surabaya.ac.id.
Maneerat memilih melanjutkan studi di UMSurabaya bukan tanpa alasan. “UMSurabaya punya kualitas pembelajaran dan metode belajar yang bagus. Saya merasa Allah memilih saya untuk sekolah di sini.”
Datang ke Surabaya, ia disambut hangat dosen dan mahasiswa. Setiap hari ia dijemput bus kampus, dan berkesempatan melatih kemampuan bahasa Indonesia.
“Dosen dan mahasiswa sangat welcome pada saya. Di sini saya bisa praktik bahasa Indonesia sekaligus mengenal budaya baru,” tambahnya.
Meski usia tak lagi muda, Maneerat melihat belajar sebagai perjalanan tanpa akhir. “Menurut saya, setiap orang bisa belajar tanpa batas usia. Belajar akan terus kita lakukan sampai kita meninggal.”
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa internasional, ia menyimpan harapan besar. Setelah lulus, ia ingin kembali ke tanah kelahirannya dan turut mengembangkan pendidikan Islam di Thailand. “Saya berharap bisa menjadi wanita muslim yang berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam di negara saya.”


