Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Seusai bakti sosial di ‘daerah rawan’, Rida langsung curhat. “Duh, aku tak bisa bayangkan. Anak-anak kecil main di pinggir jalan, tempatnya kumuh, ada orang mabuk, berjudi. Rasanya hati ini remuk, Est.”
“Ya ampun…, pasti berat banget ya. Mereka masih kecil tapi udah harus terbiasa hidup di lingkungan kayak gitu,” aku menimpali.
“Iya. Bayangin, mereka bangun tidur denger teriakan orang ribut. Tidur pun mungkin sambil takut. Padahal mereka cuma anak-anak. Pantasnya mereka main, belajar, senang.”
………..
Pembaca yang budiman, banyak sekali yang Rida curhatkan pada saya tentang anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang kurang beruntung, yang tingkat kejahatan tinggi, yang masalah ekonominya juga tinggi, dan akses ke sumber-sumber daya masih sangat rendah.
Selain kondisi kesehatan fisik dan sosial, anak-anak semacam itu juga berisiko mengalami masalah mental lebih dini. Salah satunya, bisa ‘mati rasa’ yakni tidak lagi memiliki cukup kepekaan atas keuntungan atau kerugian, yang baik atau yang buruk, yang menguntungkan atau merugikan.
Penelitian tim dari State University of New York at Binghamton, mengungkap bahwa otak anak-anak dari daerah kurang beruntung itu menunjukkan respons mati rasa semacam itu. Risiko lebih tinggi jika mereka punya riwayat keluarga dengan gangguan depresi.
Tim melakukan penelitian terhadap lebih dari 200 anak usia 7-11 tahun dari kawasan-kawasan rawan di Amerika Serikat. Mereka lebih dulu melakukan wawancara untuk menentukan apakah orang tua anak-anak itu memiliki riwayat gangguan depresi. Kemudian, mereka mengukur aktivitas otak setiap anak melalui elektroensefalogram (EEG) saat mengerjakan tugas tebak-tebakan sederhana untuk mendapatkan efek kehilangan atau mendapatkan uang. Para peneliti menemukan, anak-anak menunjukkan respons yang tumpul terhadap konsep kehilangan dan mendapatkan, terutama anak-anak dari orang tua dengan riwayat depresi.
“Ketika sesuatu yang baik atau buruk terjadi, otak Anda tentu merespons. Kami dapat mengukur aktivitas otak tersebut lewat EEG,” kata Profesor Brandon Gibb ketua tim peneliti. “Cara Anda merespons sesuatu yang baik terjadi atau sesuatu yang buruk terjadi itu dapat meningkatkan risiko depresi. Artinya, itu bukan hanya sesuatu yang terjadi pada Anda secara pribadi tetapi juga sesuatu dalam konteks tempat Anda tinggal.”
Maka, saat tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan kronis, anak-anak ‘belajar’ untuk tidak terlalu bersemangat atas hal-hal baik yang akan atau sedang terjadi sekaligus tidak terlalu sedih atas hal-hal buruk yang sedang atau anak terjadi. Seolah-olah, mereka sudah mati rasa atau hal-hal yang baik atau yang buruk. Sudah tidak cukup peka. Hal ini terutama terjadi pada anak-anak yang orang tua mereka sudah mengalami depresi karena lingkungan buruk.
Kata Gibb, “Saat Anda stres kronis, maka hal itu dapat meredam reaksi Anda terhadap apa pun termasuk hal yang baik atau buruk. Nah, anak-anak di kawasan rawan sudah mengalami hal itu. Sejatinya, kami ingin anak-anak itu bersikap reaktif saat hal-hal baik terjadi. Harus bersemangat. Itu yang memberi motivasi untuk terlibat dan melakukan sesuatu yang baik.”


