Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Hhhh… Rasanya makin hari saya makin ngerasa sendirian, Es. Saya emang keliatan sibuk. Punya banyak follower di medsos. Tapi, semua itu cuma di permukaan. Dalam hati, saya ngerasa kosong. Kayak nggak ada yang benar-benar ngerti saya,” begitu Dinda curhat pada saya dalam suasana gloomy sore hari akhir tahun.
“Hmm, mungkin kamu butuh sesuatu yang lebih berarti?” saya mencoba menanggapi lebih positif.
“Saya juga sudah mikir gitu. Saya kadang ngobrol sama teman-teman, tapi rasanya ya cuma basa-basi. Kayaknya mereka juga sibuk sama masalah masing-masing, jadi saya ngerasa nggak mau ganggu. Saya juga udah coba gabung komunitas, volunteer, tapi ya tetep aja. Selesai acara, saya balik ke rutinitas sepi lagi.
“Oh,.. berarti ini lebih dari sekadar aktivitas? Sepertinya kamu perlu coba cara mental-spiritual yang bikin kamu bakal merasa ‘penuh’?
………….
Pembaca yang budiman, kesepian adalah kondisi emosional negatif yang dialami orang pada suatu waktu. Masalah kesepian ini bisa melanda siapa saja, bahkan kaum remaja di zaman sekarang. Apa lagi kaum lanjut usia.
Pemicu perasaan kesepain bisa apa saja. Antara lain kematian atau perceraian, isolasi atau penyakit, atau karena menarik diri dari interaksi sosial. Efeknya, dalam beberapa kasus, sejumlah orang meninggal sendirian.
Kalau sudah dianggap jadi masalah, lalu apa solusi bagi kondisi kesepian? Tentu, jawabannya bisa sangat beragam. Bergantung pada kondisi mental, fisik, sosial, bahkan ekonomi si orang yang merasa kesepiaan.
Sebagai umat beragama, saya meyakini masalah ini bisa diatasi lewat tiga dimensi. Meningkatkan hubungan dengan Tuhan, meningkatkan hubungan dengan sesama makhluk, dan meningkatkan rasa syukur pada diri sendiri.
Tentang rasa syukur ini, James B. Hittner dan Calvin D. Widholm pernah mengeksplorasi hubungannya dengan kesepian. Dua peneliti di Departemen Psikologi, College of Charleston, Amerika Serikat itu mereka menemukan beberapa hasil positif.
Mereka mendefinisikan rasa syukur dalam istilah sosial sebagai emosi positif yang mengakui manfaat yang diberikan orang lain kepada diri seseorang. Menurut mereka, kesepian merupakan emosi tidak menyenangkan yang dipicu kurangnya hubungan sosial yang dirasakan seseorang.
Riset mereka mengungkapkan, rasa syukur itu penting untuk menjaga hubungan sosial, meningkatkan kepuasan hubungan, dan bahkan meningkatkan kesehatan fisik. Kuncinya adalah jika bisa mempelajari cara meningkatkan pengalaman bersyukur maka seseorang bisa mengurangi perasaan kesepiannya.
Terus, bagaimana caranya?
Hittner dan Widholm menyarankan kita berpartisipasi dalam ‘tiga hal baik’ setiap hari. Kita setiap hari mencatat setidaknya tiga hal positif yang kita alami dan mengungkapkan bagaimana hal itu terjadi. Ketika hal dalam daftar tersebut difokuskan pada hubungan sosial atau interpersonal, maka rasa syukur akan meningkat dan kesepian segera berkurang.
Metode bersyukur ini bisa bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat. Misalnya, sekadar mengucapkan terima kasih kepada seseorang untuk apa pun, bisa menjadi penghubung yang kuat antar-person. Kedua pihak bisa saling terhubungkan secara sosial dan mental sehingga mengurangi rasa kesepian.
Nah, kalau praktik bersyukur dalam bentuk ucapan terima kasih saja bisa meningkatkan keterhubungan antara manusia, saya bisa menambahi pendapat, maka praktik bersyukur dengan mengucap terima kasih pada Tuhan tentu bisa meningkatkan keterhubungan kita dengan Sang Pencipta. Dalam kondisi apa pun, jika kita mau bersyukur pada Tuhan, maka kita tidak akan pernah puya masalah kesepian.
Betul apa betul?


