Susahnya Diri saat Mengalami Duck Syndrome

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Duh, seneng banget deh punya sohib sukses,” begitu saya mengomentari medsos yang mengabarkan sahabat lama saya tiba-tiba mencuat karena diangkat jadi direktur baru perusahaan besar.

Tiba-tiba, mungkin karena kami dulu sangat dekat sebelum dipisahkan kesibukan masing-masing, dia melacak dan bisa menemukan nomor telepon saya. Lalu, tanpa banyak basa-basi, dia langsung curhat tentang kondisinya.

“Kau nggak tahu saja kondisi aku yang sebenarnya. Di media, aku digambarkan orang yang nyaman-nyaman saja dan bisa meng-handle semua urusan. Ya urusan bisnis, urusan sosial, urusan rumah tangga. Itu yang tampak di permukaan. Padahal, di balik itu semua, saya kacau Es. Saya tidak baik-baik aja. Saya kewalahan banget,” kata dia di telepon.

“Kan, tidak harus semua urusan kau tangani sendiri? Kan banyak yang bantu kau?”

“Itu dia, Es. Memang banyak orang yang bantu. Tapi, tugas terus numpuk, kerjaan nggak selesai-selesai. Kalau bilang aku nggak sanggup, para boss bakal lihat aku orang yang gagal. Aku harus tampak kuat di hadapan mereka, meski sejatinya lumayan berantakan.”

…………..

Pembaca yang budiman, tampaknya teman lama saya itu sedang mengalami duck syndrome. Ia seperti bebek yang meluncur di kolam. Di atas permukaan air, ia tampak bergerak dengan tenang dan anggun. Tapi, di bawah permukaan air, kakinya mendayung dengan cepat untuk tetap bergerak. Ia tampak sukses dan bisa mengendalikan situasi di permukaan, tetapi di balik layar ia sebenarnya sedang berjuang mengatasi stres, kecemasan, atau beban mental yang berat.

Orang yang mengalami duck syndrome biasanya individu yang mencoba menjaga citra seolah-olah beres mengelola segala hal, namun kenyataannya ia kewalahan. Kondisi ini sering dikaitkan dengan tekanan untuk selalu tampil sempurna, terutama di lingkungan kompetitif.

Saya belum menemukan hasil penelitian khusus tentang duck syndrome. Istilah ini lebih sering digunakan secara informal atau dalam konteks populer daripada dalam literatur ilmiah spesifik. Meski demikian, konsep ini terkait dengan sejumlah fenomena psikologis yang sudah dikenal dalam dunia akademik.

Istilah ini agak ada kemiripan dengan imposter syndrome yakni orang yang merasa tidak layak meskipun memiliki pencapaian nyata dan sering merasa harus berpura-pura untuk menjaga citra diri sukses.

Bisa juga paduan antara istilah burnout dan perfectionism. Orang mengalami kelelahan fisik dan emosional (burnout) akibat stres yang berkepanjangan. Itu dilakukan demi mengejar standar sangat tinggi untuk diri sendiri (perfectionism).

Atau, ada kemiripan dengan cognitive dissonance. Ini saat orang mengalami ketegangan mental ketika ada perbedaan antara apa yang dirasakan (merasa kewalahan) dengan bagaimana ia harus tampil (terlihat tenang dan sukses).

Terus, apa yang bisa dilakukan saat muncul duck syndrome? Saya, sebagai teman, siap membantu dengan dukungan mental pada sahabat yang mengalaminya. Di sisi lain, dia juga perlu mengambil sejumlan tindakan untuk mengatasinya.

Sudah bagus ia berani mengakui perasaan. Setidaknya, ia sudah mengungkapkannya pada saya. Dengan berbagi perasaan, sebagian beban mental bisa terkurangi.

Selain itu, ia perlu menurunkan ekspektasi. Daripada semuanya kedodoran, ada baiknya untuk tidak mengambil semua peran. Ambil sebagian saja yang dia benar-benar ia bisa kuasai. Tidak apa-apa menurunkan ekspektasi, lalu lebih fokus ke prioritas yang realistis.

 

Facebook Comments

Comments are closed.