mepnews.id – Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada meluncurkan program pengelolaan sampah di lingkungan kampus. Tidak hanya upaya pengurangan, tetapi juga pada pemanfaatan kembali sampah sebagai sumber daya ekonomi yang bernilai.
“FEB UGM mengembangkan program-program inovatif dalam pengelolaan sampah sebagai langkah nyata mendukung aspek keberlanjutan. Langkah-langkah yang diambil adalah bagian dari komitmen kami menerapkan budaya berkelanjutan dan menciptakan perubahan positif yang dimulai dari lingkungan kampus dan memiliki societal impact,” kata Dekan FEB UGM, Prof Dr Didi Achjari SE MCom AK CA, lewat situs resmi ugm.ac.id, 16 April 2024.
Pengelolaan sampah di FEB UGM dilakukan dengan cara mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dimanfaatkan untuk pembuatan biopori di lingkungan kampus. FEB UGM juga mendorong pengurangan penggunaan sampah plastik dengan menggalakkan termos air minum pribadi (tumbler) bagi warganya dan menyediakan air minum isi ulang gratis melalui water fountain.
“Kami mendorong kesadaran dan partisipasi mahasiswa, dosen, serta staf profesional untuk mewujudkan ekonomi hijau di kampus. Salah satu inisiatif untuk mendukung pembangunan ekonomi hijau adalah menerapkan pengurangan sampah plastik,” kata Didi.
Kebijakan ini sejalan dengan semangat untuk menekan limbah plastik dari konsumsi botol minuman dalam kemasan yang sulit terurai dan merusak lingkungan.
Meski FEB UGM belum sepenuhnya lepas dari penggunaan plastik dalam aktivitasnya, namun sejumlah langkah konkret telah diterapkan untuk mengelola sampah plastik yang dihasilkan. Salah satunya melalui gerakan memilah sampah menurut jenisnya.
Langkah inovatif lain yang dilakukan FEB UGM adalah mengelola limbah makanan dari kantin kampus untuk digunakan sebagai pakan ternak unggas dan ikan. Ini langkah yang menciptakan nilai tambah dari produk yang sebelumnya dianggap limbah, menjadi sesuatu yang berdaya dan bernilai guna.
Langkah-langkah FEB UGM ini mendapatkan dukungan positif dari mahasiswa dan staf kampus. Dosen Departemen Manajemen, R. Muhammad Fajri SE MBA, menilai FEB UGM melakukan strategi cukup memadai untuk mengurangi timbulan sampah anorganik dan mengolah sampah organik.
“Saya kira, pengelolaan sampah organik yang dilakukan sudah memadai dengan mengolah sampah taman dan limbah makanan menjadi pupuk,” ujarnya.
Terkait sampah anorganik, Fajri menilai positif gerakan tumbler yang dikenalkan di FEB UGM beberapa tahun terakhir. Ini cukup efektif mengurangi limbah kemasan air minum. Namun, kemasan makanan dan minuman di kantin dan kafe belum menggunakan bahan ramah lingkungan.
“Penyediaan konsumsi di FEB UGM juga sudah mulai mengurangi kemasan kotak. Tapi masih diperlukan upaya untuk menekan penggunaan kemasan sekali pakai di kantin maupun kafe FEB dengan menggunakan kemasan ramah lingkungan,” usulnya.
Akbar Rahul Muafan, mahasiswa Prodi Manajemen, merasakan dampak positif gerakan pengelolaan sampah, menjadikan kampus lebih bersih, nyaman, dan ramah lingkungan. Ia berharap kesadaran mahasiswa untuk turut berpartisipasi aktif mendukung kebijakan fakultas dalam pengelolaan sampah.
Rizqi Akhyar Prasetya, mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi angkatan 2021, mengaku anjuran penggunaan tumbler berkontribusi nyata dalam mengurangi penggunaan kemasan plastik sehingga menurunkan jumlah sampah di sekitar kampus. “Meski tidak dirasakan secara langsung, tetapi saya yakin hal tersebut secara bertahap dapat membuat lingkungan menjadi lebih bersih,” tambah Rizqi.
Selain untuk mewujudkan kampus bersih dan hijau, program pemilahan dan pengelolaan sampah oleh FEB UGM ini bertujuan mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDG). Program ini sejalan dengan poin 12 SDGs yakni bentuk tanggung jawab atas konsumsi dan produksi yang telah dilakukan. (Kurnia Ekaptiningrum)


