War Takjil Justru Ajang Mempererat Persaudaraan

Bahkan, pemimpin Korea Utara jika di-meme-kan ikut perang takjil.

mepnews.id – Dalam bulan Ramadhan 2024, media sosial dihiasi dengan banyak posting dengan istilah ‘War Takjil‘. Istilah yang dipakai netizen ini untuk menggambarkan bagaimana kaum nonis (non-Islam) ikutan berburu takjil yang dijual di jalanan. Banyak unggahan atau komentar yang menggambarkan bagaimana kaum nonis lebih dahulu memborong dan menikmati takjil saat kaum Islam masih harus menunggu waktu berbuka. Dalam ‘perang’ ini, kaum Islam kalah cepat dibanding nonis.

Tentu, perdagangan takjil sudah terjadi sejak lama. Begitu juga, bukan hal baru saat mana takjil juga diserbu orang-orang yang bukan beragama Islam. Tapi, istilah ‘War Takjil’ baru muncul para Ramadhan 2024.

Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi, guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), mengatakan momen ini justru mempererat tali persaudaraan antar umat beragama.

Prof Bagong Suyanto, guru besar Sosiologi Unair.

“Masyarakat muslim beli takjil kebanyakan untuk konsumsi pribadi. Kalau masyarakat non muslim beli takjil, selain untuk konsumsi pribadi, ada juga yang dibagikan kepada masyarakat yang menjalankan puasa,” ia memberi alasan.

Guru Besar Ilmu Sosiologi itu mengungkapkan, fenomena ini menjadi bentuk kerukunan antar umat beragama. Meski Indonesia memiliki masyarakat beragam, tapi tali persatuan masih terikat erat. “Saya melihat fenomena ini sebagai bentuk tindakan rukun antar umat beragama,” ungkapnya.

Prof Bagong menambahkan, fenomena ini merupakan tren yang baik karena mengandung pesan moral untuk saling menghormati meski memeluk agama berbeda. “Ini memberi gambaran kepada masyarakat bahwa meski berbeda agama tetap harus saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Dekan FISIP Unair ini berharap tren yang memberikan dampak positif seperti ini bisa berlanjut. Dalam kondisi masyarakat yang beragam, sikap toleran perlu terbangun dengan baik. “Di masyarakat multipluralis seperti Indonesia harus dibangun sikap toleran,” kata ia.

Facebook Comments

Comments are closed.