Ramadhan, Momentum Mengenal Diri

Oleh: Budi Winarto*

mepnews.id – Ramadhan menjadi bulan paling ditunggu umat islam yang beriman. Pahala ibadah-ibadah yang dikerjakan saat Ramadhan tidaklah seperti di bulan lain. Hal ini dikarenakan berlipatnya pahala atas kebaikan yang dikerjakan. Sunggu betapa mulia bulan ini. Sampai-sampai, khusus bagi umat Islam yang menunaikan kewajiban puasa, Allah Swt memberikan ‘penilaian’ atas apa yang ditunaikan.

Lalu, bagaimana orang Islam menyambut bulan Ramadhan?

Tentu ada banyak eskpresi dan reaksi saat bulan itu tiba. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang bersemangat karena dorongan spiritualitas dalam jiwanya. Kenapa? Untuk yang reaksinya bersemangat, itu karena kelapangan hati yang menjadikan iman menuntun jasmani menyambut bulan suci Ramadhan dengan suka cita dan bahagia. Untuk yang tidak tersentuh hatinya, kehadiran bulan mulia justru membuat mereka merasa bertambah susah. Ini mungkin  disebabkan hatinya sudah terlalu keras.

Nabi Muhammad besabda, “Barang  siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka.” (HR. An-Nasa’i)

Tentunya, menyambut dengan hati gembira ini haruslah dimaknai secara utuh. Bukan secara parsial. Bukan hanya mengucap bahagia di mulut namun tindakannya ternyata tidak berkesesuaian dengan apa yang menjadi tuntunan.

Maka, setidaknya ada tiga hal yang semestinya dilakukan sebagai ekspresi kebahagiaan menyambut bulan suci Ramadhan.

Pertama, menyikapi hidup dengan bijak. Momentum Ramadhan adalah peristiwa yang mengingatkan bahwa kehidupan itu beragam dan memiliki kompleksitas. Karena itu, kita harus bijak menyikapinya. Kebijakan itu harus timbul dari dalam diri sehingga akan memunculkan pembelajaran dan hikmah. Hikmah itu hadir seiring realitas kehidupan yang kita lihat, kita rasa dan kita dengar. Lalu, dari realitas itu, kita bisa mengambil ibrah atas sesuatu untuk perbaikan diri. Dengan melaksanakan kewajiban ibadah yang wajib maupun sunnah setidaknya akan bisa memunculkan rasa empati dan pemahaman atas usaha agar hidup kita bisa bermanfaat untuk sesama.

Kedua, kebahagiaan menyambut Ramadhan bisa kita ekspresikan dengan menikmati hidup. Tidak semua orang bisa menikmati hidup. Ada orang berlimpah harta, jabatan tinggi, tetapi tidak bisa menikmati hidup. Bisa jadi karena sakit yang diderita, keluarga yang kurang harmonis, atau keturunan yang menyakiti hati karena kurang patuh pada kedua orang tua maupun kepada Tuhan. Atau, karena keadaan ekonomi yang dirasa kurang. Bermacam pola dan gaya hidup harus dihadapi. Ketika tidak cukup kuat mengendalikan, maka seseorang akan sulit bisa menikmati hidup. Tapi, ini tidak akan terjadi jika orang tersebut tidak berputus asa, tetap mau bekerja keras, dan di hatinya tertanam rasa ikhlas, qonaah (merasa cukup atau rela atas hasil yang telah diusahakannya), sabar dan istiqomah dalam kebaikan. Di bulan Ramadhan inilah waktu yang tepat untuk bermuhasabah dan melakukan perbaikan diri dengan terus berlatih. Karena itu, Ramadhan juga sering dimaknai sebagai bulan pendidikan (madrasah tarbiyah).

Ketiga, bahagia menyambut Ramadhan adalah tesematnya kesyukuran dalam hati yang terekspresikan dalam tindakan nyata. Bisa menyematkan rasa syukur dalam kehidupan yang dijalani adalah puncak nikmat dari segala nikmat. Rasa syukur adalah cara terbaik agar kita bisa menikmati hidup. Ketika bisa menyematkan rasa syukur atas segala yang dihadapi, kita akan paham skenario Allah Swt yang paling indah. Kita juga akan dipahamkan bahwa Allah Swt akan memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan. Anugerah Allah ini bisa karena kesengajaan atau non-kesengajaan. Anugerah cara sengaja akan hadir sesuai dengan ikhtiar yang kita lakukan. Sedangkan, anugerah tanpa keesengajaan kita bisa saja lewat berbagai cara yang kita tidak tahu. Misalnya, saat kita butuh, tiba-tiba Allah Swt menganugerahkan sesuatu melalui cara yang sama sekali tidak kita duga datangnya. Saat kita tidak pernah berpikir untuk mengejar sesuatu, misalkan, tetapi Allah Swt justru memberikan kemudahan untuk tiba-tiba kita dapatkan.

Bersyukur itu bukan karena semua sedang baik-baik saja, tetapi karena kita percaya bahwa akan selalu ada sisi baik dari apa yang kita anggap tidak baik. Rasa syukur yang selalu tersemat dalam diri itulah yang menjadi hikmah terbesar dalam rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan. Hadiah utamanya, memperoleh predikat taqwa.

Bagaimana Ramadhan mengingatkan diri kita?

Diri yang sebenarnya diri bukanlah nama yang biasa dipanggil. Itu hanyalah identitas untuk memudahkan mengenal fisik kita. Diri yang sebenarnya diri juga bukanlah jasad  yang di dalamnya melekat tubuh kita. Tetapi diri yang sebenar-benarnya diri adalah saat tiga bulan lebih 10 hari Allah Swt meniupkan roh ke dalam tubuh manusia melalui perantara malaikat. Roh itulah diri kita yang sebenar-benarnya diri. Nama kita bisa hanya menjadi kenangan saat kita meninggal. Jasad kita bisa hancur termakan cacing tanah saat tubuh kita dimakamkan. Tetapi, roh kita tidaklah hancur atau musnah. Roh yang  suci akan menghadap Ilahirabbi guna mempertanggungjawabkan segala apa yang pernah kita lakukan di muka bumi.

Lalu, apa kaitanya diri yang sebenarnya diri dengan bulan Ramadhan?

Puasa di bulan Ramadhan sebenarnya bukan hanya ibadah jasad namun juga ibadah jiwa dan roh. Ibadah jasad adalah mempuasakan tubuh untuk tidak makan dan minum serta sesuatu yang membatalkan sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa sebagai ibadah jiwa dan roh adalah bagaimana pelaku ibadah ini mampu mengekang iri, dengki, tamak, hasut, sombong dan penyakit hati lainnya. Menjalankan puasa dengan panggilan jiwa hanya bisa terjadi ketika seseorang sudah memiliki puncak kesadaran. Dan kesadaran itulah yang menjadikan puasa seseorang terhindar dari bahaya hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Sedangkan puncak dari seseorang yang menjalankan ibadah puasa adalah saat panggilan ini direspon oleh spiritualitas rohnya. Seseorang yang mampu menjalakan puasa dengan spiritualitas roh akan bisa bersanding sesuai perintah mengerjakan puasa dalam surat Al Baqarah:183.

Keimanan adalah sesuatu yang ghaib, pun dengan roh. Maka, ketika panggilan puasa direspon oleh frekuensi yang sama, gelombangnya akan menjadikan orang memilki derajat dari sebenarnya taqwa. Ibadah yang dijalankan pun akan mampu mencapai puncak dari puncaknya rahasia.

Wallohu’alambishawabi

 

  • Penulis kelahiran Malang yang tinggal di Mojokerto. Punya empat karya fiksi maupun non-fiksi yang sudah diterbitkan, selain beberapa buku antologi yang juga sudah terbit. Ada satu lagi naskah yang sekarang dalam proses kurasi.

Facebook Comments

Website Comments