3 Cara Meluapkan Kemarahan Tanpa Menyakiti

mepnews.id – Marah merupakan hal wajar sebagai salah satu cara meluapkan emosi. Namun, kemarahan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain. Misalnya, seseorang saat marah tak terkontrol kerap mengucapkan kalimat yang menyakitkan hati hingga melukai fisik orang lain.

Ratih Pertiwi, dosen Psikologi UMM

Ratih Eka Pertiwi SPsi MPsi, dosen program studi Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang, lewat situs resmi umm.ac.id, memberikan tips bagaimana cara meluapkan emosi tanpa harus menyakiti orang lain.

Pertama, regulasi emosi yakni kita harus mampu mengontrol dan menyesuaikan emosi pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. “Usahakan mengontrol emosi atau rasa marah, agar tidak dieskpresikan dalam bentuk perilaku-perilaku agresif secara verbal maupun fisik. Meregulasi emosi memang bukan sesuatu yang mudah, maka kita perlu latihan,” ucap Ratih.

Ada berbagai macam cara untuk meregulasi emosi. Salah satunya dengan tarik nafas atau atur nafas. Saat emosi, seringkali ritme nafas jadi lebih cepat. Maka, ketika nafas diatur, salah satu bagian di otak segera dapat meregulasi emosi serta secara otomatis mengurangi ketegangannya.

Kedua, berpikir altrernatif. Jika muncul pikiran buruk, otomatis emosi yang dirasakan pasti negatif. Namun, jika berpikir hal sebaliknya, seperti memandang situasi dengan cara berbeda, kemungkinan emosi yang dirasakan jadi berbeda.

Ketiga, melakukan kegiatan yang menyenangkan. “Bisa journaling, tidur, berolahraga. Boleh juga melakukan art therapy seperti menari, melukis, menggambar,” jelasnya.

Dengan journaling, seseorang menuliskan semua uneg-uneg-nya sehingga bisa meluapkan emosi tanpa perlu menyampaikannya secara langsung kepada yang bersangkutan. Dengan tidur, kita bisa mendapatkan solusi untuk meluapkan dan meredam emosi. Menenangkan diri sesaat leat tidur bisa meredam emosi sehingga kita kemudian bisa lebih bijak dan jernih dalam berpikir.

Namun emosi yang dirasakan tidak boleh di-denial. Jangan ditolak, tapi salurkan keluar dengan cara yang sehat. Jika emosi menumpuk, hal itu bisa menimbulkan dampak fisik berupa psikosomatis. Istilah ini mengacu pada keluhan gejala fisik yang muncul akibat pikiran dan emosi yang dirasakan seseorang. Seperti nyeri pada bagian dada, sesak nafas, dan lain-lain, tapi sejatinya fisiknya baik-baik saja.

“Jadi journaling, tidur, dan sebagainya itu bukan untuk mengalihkan amarah. ‘Biar ngga marah, aku lari-lari ah’, tidak seperti itu. Rasa kecewa, marah itu juga harus diakui. Penting diingat bahwa memendam emosi itu solusi terburuk. Idealnya emosi memang harus diekspresikan, tapi dengan cara yang tepat,” pesannya. (dev/wil)

Facebook Comments

Comments are closed.