Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Ada seorang teman yang curhat pada saya. Intinya, ia merasa tak nyaman karena pasangannya belakangan ini lebih fokus ke berbagai kekurangannya, kesalahannya, dan hal-hal negatif lainnya. Dia bingung apakah ini pertanda pasangannya sudah tidak lagi sayang padanya atau sedang punya orang lain.
Pembaca yang budiman, saya tidak ungkapkan lebih detil curhatan teman saya ini termasuk kecurigaan akan adanya orang ketiga. Tapi, saya akan terlebih dahulu membahas perilaku orang yang fokus mencari kesalahan atau kelemahan pasangannya sendiri.
Kasus semacam ini biasa disebut Relationship Obsessive-Compulsive Disorder (ROCD). Ini bagian dari Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) yang menekankan pada aspek Relationship. OCD adalah Gangguan Obsesif-Kompulsif yakni gangguan mental yang ditandai kehadiran pikiran terus-menerus dan mengganggu (obsesi) yang mengarah pada perilaku berulang-ulang atau tindakan (kompulsi) yang bertujuan mengurangi kecemasan akibat obsesi tersebut. Relationship merujuk pada hubungan berpasangan, misalnya suami-istri.
ROCD adalah bentuk gangguan obsesif-kompulsif yang fokus pada hubungan interpersonal atau percintaan. Beberapa ciri umum ROCD meliputi: keraguan tentang pasangan, keraguan tentang diri sendiri, analisis atau prasangka berlebihan, perilaku kompulsi, dan sejenisnya. Dalam kasus teman saya, perilaku kompulsifnya fokus ke mencari kesalahan. Antara lain, berbagai kritik yang sangat menusuk atas penampilan fisik.
Menurut hasil studi psikolog Gabriele Melli dan tim Institute of Behavioral and Cognitive Psychology and Psychotherapy of Florence (IPSICO), salah satu dimensi ROCD melibatkan keraguan tentang ‘kebenaran’ hubungan dan perasaan pasangan terhadap individu yang didasarkan pada persepsi bahwa pasangannya memiliki berbagai macam kekurangan.
Lantas, dari mana datangnya rasa rentan dan kebutuhan akan kesempurnaan ekstrim pada diri pasangan? Tim peneliti IPSICO mengungkapkan, salah satu akarnya bisa dari narsisme dan rasa tidak aman ekstrem terkait tingginya harapan terhadap pasangan.
Karena merasa tidak percaya diri dengan perasaannya sendiri, maka seseorang membutuhkan pasangan sebagai penyangga agar dia bisa merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri. Ketika sudah hidup bersama, tentu orang sedikit demi sedikit mulai tahu kelemahan atau kekurangan masing-masing. Karena merasa tak nyaman, maka ia mulai mengkritik kekurangan atau kelemahan pasangannya.
Lalu, bagaimana menghadapi pasangan yang mengalami ROCD semacam itu?
Kalau tidak ada keterlibatan pihak ketiga, maka saran saya kepada teman saya di atas adalah;
- Ajak pasanganmu bicara secara terbuka dan jujur tentang bagaimana kritik dia bisa memengaruhi dirimu secara emosional.
- Jelaskan bagaimana celaan berulang-ulang terhadap kelemahanmu dapat membuatmu tidak nyaman secara emosional.
- Tentukan batasan-batasan yang sehat terkait bagaimana pasanganmu memberikan kritik. Diskusikan bagaimana kritik dapat disampaikan secara membangun.
- Jika memang kekurangan atau kesahanmu fatal, ajak pasangamu untuk mencari solusi bersama. Diskusikan bagaimana kalian dapat bekerja sama untuk memahami dan mengatasi masalah yang mungkin muncul.
- Jangan lupa, dan ini sangat penting, perhatikan pula perubahan perilakumu sendiri. Kamu juga perlu melihat caramu sendiri menghadapi kritik. Siapa tahu itu yang justru menjadi sumber segala masalah.


