Cinta dan Banjir Dopamin dalam Otak

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Te, saat ketemu Si Fulan, saya deg-degan banget. Badan jadi panas-dingin. Tapi, setelah itu, rasanya sangat senang,” begitu curhatan ponakan saya.

“Heh, kamu belajar pacaran ya? Mulai kenal jatuh cinta, ya?” saya menimpali. “Hati-hati, tetap jaga diri. Jaga nama baik diri sendiri dan keluarga.”

………

Pembaca yang budiman, pernahkah Anda merasakan sensasi serupa saat bertemu dengan orang yang Anda taksir? Ya, boleh dikata semua orang juga mengalaminya dengan kadar bervariasi sesuai kondisi diri masing-masing.

Mengapa demikian?

Karena, ketika kita sedang bertemu dengan orang tersayang, otak kita memproduksi lebih banyak hormon dopamin. Banjir hormon di otak ini merangsang timbulnya rasa senang, memotivasi kita berani menghadapi apa pun demi dia.

Namun, kalau bertemu orang lain yang statusnya biasa saja, mungkin saja hormon dopamin juga muncul. Tapi, jumlahnya sedikit saja.

Kondisi ‘banjir dopamin’ ini diungkap para peneliti dari University of Colorado di Boulder, Amerika Serikat. Mereka meneliti prairie vole (sejenis tikus padang rumput) yang merupakan salah satu dari sekitar 4 % mamalia monogami. Manusia juga tergolong mamalia.

Yang ditemukan dalam penelitian ini pada dasarnya adalah tanda biologis dari hasrat besar yang menjelaskan mengapa kita lebih ingin bersama orang khusus dibandingkan dengan orang lain yang statusnya biasa saja.

Prairie vole, hewan pengerat berbulu halus dan bermata lebar ini, cenderung hidup berpasangan dalam jangka panjang, tinggal dalam satu sarang bersama, membesarkan anak bersama, dan mengalami sesuatu yang mirip kesedihan saat kehilangan pasangan.

Dengan mempelajari hewan ini, peneliti berupaya mendapatkan wawasan baru tentang apa yang terjadi di dalam otak manusia. Tujuannya untuk memahami hubungan sangat personal itu dan bagaimana mengatasi secara neurokimia jika hubungan tersebut terputus.

Hasil penelitian menunjukkan, neurotransmitter dopamin memainkan peran penting dalam menjaga cinta agar tetap hidup. Orang yang dicintai itu bisa meninggalkan jejak kimia unik di otak kita. Ini mendorong kita untuk mempertahankan ikatan dengannya dari waktu ke waktu.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan teknologi neuroimaging untuk mengukur secara real time apa yang terjadi di otak ketika seekor prairie vole mencoba mendekati pasangannya. Dalam satu skenario, hewan itu harus menekan tuas untuk membuka pintu ruang tempat pasangannya berada. Di lain waktu, dia harus memanjat pagar untuk bertemu.

Pada saat yang sama, sensor serat optik kecil melacak aktivitas tiap milidetik pada nucleus accumbens. Wilayah otak ini bertanggung jawab memotivasi hewan mencari hal-hal yang bermanfaat. Pada studi neuroimaging terhadap manusia, nucleus accumbens juga menyala ketika kita memegang tangan pasangan kita.

Yang menarik, sensor selat optik menyala setiap kali mendeteksi lonjakan dopamin. Ketika prairie vole jantan menekan tuas atau memanjat dinding untuk melihat betinanya, sensor bukan hanya menyala tapi menyala-nyala sangat terang. Kondisi ini berlanjut saat pasangan itu berpelukan dan saling mengendus.

Sebaliknya, ketika prairie vole acak (bukan pasangan) berada di sisi pintu atau dinding, sensor cahaya redup-redup saja.

Ini menunjukkan, dopamin berperan penting dalam memotivasi kita mencari pasangan. Lebih banyak dopamin mengalir saat kita bersama pasangan dibandingkan saat kita bersama orang lain yang biasa-biasa saja.

 

Facebook Comments

Comments are closed.