Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Jessica nekat. Dia kabur dari rumah ayahnya dengan cara menyamarkan diri dalam pakaian pria. Sambil membawa uang serta barang berharga lainnya, ia menemui Lorenzo kekasihnya. Demi ingin dinikahi, ia rela meninggalkan ayahnya. Bahkan, ia beralih keyakinan. Yahudi menjadi Kristen.
“Aku senang di luar gelap, sehingga kamu tidak bisa melihatku. Aku sangat malu dengan penampilanku dalam penyamaranku. Tapi, cinta itu buta. Sepasang kekasih tidak akan bisa melihat kesalahan kecil dalam hubungan mereka. Jika saja bisa, Cupid sendiri akan tersipu malu melihat betapa konyolnya aku menyamar sebagai laki-laki,” kata Jessica saat bertemu kekasihnya.
………..
Pembaca yang budiman, Jessica bukan orang sungguhan. Ia cuma karakter yang diciptakan William Shakespeare dalam kisah drama berjudul Merchant of Venice. Dalam karya sastera pada abad ke-16 itu, ada ucapan menarik dari Jessica yang sering jadi kutipan. “But, love is blind…”
Istilah itu sendiri juga sudah sering muncul sebelumnya. Misalnya, Geoffrey Chaucer dalam karya The Merchant’s Tale pada abad ke-14, menuliskan, “For loue is blynd alday and may nat see.” Bahkan, Plato filsuf Yunani kuno menulis, “Karena sang pecinta tentu buta dalam pandangannya terhadap objek yang dia cintai…” Lebih jauh lagi, menurut teori evolusi, ‘cinta romantis’ pertama muncul sekitar lima juta tahun lalu saat spesies Homo sapiens berpisah dari nenek moyang kera-kera besar.
Secara neurosains, para peneliti dari Australia mecoba lebih memahami biang dari perilaku ‘cinta itu buta.’ Mereka mengukur bagian otak berperan dalam bagaimana seseorang memandang orang yang sangat dicintainya secara romatis.
Dalam studi pertama menyelidiki hubungan antara sistem aktivasi perilaku otak manusia dengan cinta romantis, para peneliti mensurvei 1.556 orang dewasa muda yang mengaku sedang ‘jatuh cinta’. Survei berfokus pada reaksi emosional terhadap pasangan, perilakunya di sekitar, dan fokus yang mereka tempatkan pada orang yang mereka cintai di atas segalanya.
Hasilnya?
Ternyata, saat orang sedang jatuh cinta, otaknya bereaksi berbeda jika dibandingkan dengan kondisi normal. Reaksi berbeda itu menjadikan si objek kasih sayang sebagai pusat kehidupan dari orang yang jatuh cinta. Maka, terjadilah perubahan perilaku serta emosi yang kadang tidak masuk akal.
Biang cinta romantis ada di oksitosin. Hormon yang diproduksi di otak, terutama di nukleus paraventrikular dan nukleus supraoptikus di bagian hipotalamus, ini biasa disebut sebagai ‘hormon kasih sayang’ atau ‘hormon pelukan’ karena perannya dalam membentuk ikatan sosial dan respons emosional positif.
Setelah dilepaskan kelenjar hipofisis posterior, oksitosin menebar berbagai peran dalam tubuh. Antara lain; untuk stimulasi kontraksi otot uterus saat persalinan, untuk berbagai perilaku sosial dan empati, untuk respons seksual, dan berperan meningkatkan rasa keintiman dan ikatan antara pasangan.
Oksitosin beredar ke seluruh sistem saraf dan aliran darah saat seseorang berinteraksi dengan orang yang dia cintai. Nah, oksitosin kemudian bergabung dengan dopamin yakni zat kimia yang dilepaskan otak selama mengalami cinta romantis.
Intinya, jatuh cinta bisa mengaktifkan jalur di otak yang terkait dengan berbagai perasaan positif. Ini bisa membuat seseorang merasa orang yang dia cintai menjadi lebih penting atau bahkan paling penting dibanding apa pun. Ini membuat seseorang menjadi ‘buta’ karena tidak lagi bisa melihat ketidak-positifan orang yang dicintai.


