Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, kemarin mertuaku tersesat. Beliau itu kan rutin sholat di masjid di kompleks perumahan. Masjidnya juga cuma 300 langkah dari rumah. Lha koq kemarin itu pulangnya telat,” teman dekatku mulai curhat.
“Loh, koq bisa?” aku bertanya.
“Beliau bilang seperti kena ‘akar mimang’. Jadi tersesat, lupa jalan pulang.”
“Memang masih ada pohon mimang di tempat tinggalmu?”
“Ya nggak ada, lah. Perumahan moderen. Jalannya diaspal atau pakai paving stone.”
“Hahaha…. Lalu, bagaimana Beliau bisa pulang?”
“Untungnya ada tetangga yang menyapa, lalu menunjukkan jalan pulang.”
………..
Pembaca yang budiman, pernahkah anggota senior dalam keluarga Anda mengalami masalah serupa? Atau, Anda sendiri pernah tersesat di tempat yang semestiya Anda hafal betul? Saat kehilangan spatial memory, bisa jadi ada masalah dengan hippocampus di dalam otak.
Spatial memory merujuk pada kemampuan untuk menyimpan, mengingat, dan menggunakan informasi tentang posisi dalam ruang atau lingkungan tertentu. Ini melibatkan pemahaman tentang lokasi relatif, arah, dan jarak antara objek atau tempat.
Ada spatial memory jangka pendek yang melibatkan penyimpanan informasi ruang untuk jangka waktu singkat. Contohnya, mengingat lokasi objek di dalam ruangan atau arah untuk mencapai suatu tempat.
Ada juga spatial memory jangka panjang yang melibatkan penyimpanan informasi ruang untuk jangka waktu lebih lama. Contohnya, mengingat layout atau peta suatu daerah, seperti struktur kota atau tata letak ruangan di rumah seseorang.
Spatial memory sangat penting dalam berbagai aktivitas sehari-hari, seperti navigasi, orientasi, mobilitas, berkendara, berjalan, bahkan permainan video. Kehilangan spatial memory bisa menjadi gejala dari berbagai kondisi atau gangguan kesehatan.
Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi spatial memory meliputi penuaan yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif, kena penyakit neurodegeneratif Alzheimer, kerusakan otak karena cedera atau lainnya, hingga gangguan kesehatan mental termasuk depresi dan kecemasan.
Penelitian di Universitas Arizona di Amerika Serikat menyelidiki skenario yang dapat menyebabkan hilangnya ingatan terhadap ruang pada lansia. Yang diteliti faktor-faktor yang bergantung pada usia dan tidak bergantung pada usia; karena penurunan memori juga bisa terjadi pada orang lebih muda.
Hasilnya menunjukkan, hippocampus (bagian otak yang terkait memori dan navigasi) dapat berkontribusi terhadap kesulitan dalam mempelajari lingkungan dan lokasi pada lansia. Representasi saraf dapat menjelaskan mengapa orang kesulitan mengingat lokasi.
Di hippocampus terdapat ‘sel tempat’ yakni neuron yang terpicu dan aktif ketika seseorang memasuki tempat tertentu. Ketika pergi ke lokasi lain, ‘sel tempat’ lain yang aktif. Proses ini membantu hippocampus membangun representasi mental dari setiap ruang.
Dalam penelitian terhadap 25 orang dewasa muda dan 22 orang lanjut usia yang semuanya sehat, para peserta ambil bagian dalam eksperimen dengan realitas virtual. Di layar komputer, mereka diminta menghafal tata letak dan lokasi enam toko di dua kota virtual. Lalu, mereka diminta menyelesaikan serangkaian pertanyaan untuk menguji spatial memory mereka. Pada saat yang sama, peneliti memindai otak mereka menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional untuk menangkap sinyal saraf di hippocampus.
Hasilnya, peserta lansia rata-rata menunjukkan representasi saraf yang tidak dapat membedakan lingkungan dengan baik. Namun, ada faktor yang tidak bergantung pada usia. Artinya, meski usianya masih muda, tapi juga bisa mudah lupa letak.
Neuron-neuron berbeda di hippocampus memiliki fungsi berbeda. Satu neuron, misalnya, merespons bentuk lingkungan, neuron lainnya merespons warna atau fitur lainnya. Neuron-neuron ini berkolaborasi untuk menciptakan representasi komprehensif dari keseluruhan lingkungan.
Jika sekelompok neuron tidak fungsi, muncul risiko beberapa fitur lingkungan tidak terwakili secara akurat sehingga sinyal saraf terganggu. Ini bisa terjadi bahkan pada orang muda.


