Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Semakin banyak orang yang curhat soal kesepian. Mereka dari berbagai kalangan dan kondisi yang beragam. Sampai-sampai, saya merasa loneliness disorder sudah menjadi masalah nyata di era kesejagadan moderen sekarang ini.
Pembaca yang budiman, gangguan mental karena kesepian ini juga biasa social isolation disorder. Kondisinya bisa bervariasi dari orang ke orang, dari yang sederhana hingga sangat kompleks. Yang pasti, gejalanya adalah merasa kesepian atau terisolasi bahkan saat ada satu atau banyak orang lain di sekitar.
Di lingkungan perkotaan, loneliness disorder bisa disebabkan faktor kedekatan penduduk. Meski punya tetangga, tapi tinggal dalam rumah-rumah yang berpagar tinggi sehingga terisolasi. Komunitas padat mempersulit orang membentuk koneksi pribadi yang bermakna.
Orang kota juga sering berpindah atau bergerak cepat dan jauh sehingga kehilangan hubungan sosial. Lifestyle yang sibuk dan tuntutan pekerjaan dapat membuat orang sulit menyisihkan waktu untuk berinteraksi dengan orang lain di luar orang-orang dalam lingkup pekerjaan.
Media sosial, meski dapat membantu orang tetap terhubung, terkadang justru menciptakan perasaan terisolasi karena kurangnya interaksi langsung. Media sosial juga menimbulkan kecenderungan orang membandingan-bandingkan secara sosial.
Masih banyak lagi faktor lainnya yang cukup panjang jika dirinci satu-satu di kolom ini. Yang pasti, jika kondisi loneliness disorder ini signifikan dan berkelanjutan, maka dampaknya bakal serius pada kesehatan fisik dan kesejahteraan mental seseorang.
Loneliness disorder dapat meningkatkan risiko gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, dan stres, penurunan mood dan motivasi. Juga, menyebabkan penurunan kesehatan fisik dalam bentuk melemahnya sistem kekebalan tubuh, meningkatnya tekanan darah, meningkantnya risiko kena penyakit, hingga meningkatnya risiko kematian dini.
Bagi usia lanjut, kesepian berhubungan dengan penurunan kognitif dan peningkatan risiko demensia. Bahkan, jika kurang mendapat dukungan sosial dan emosional, lansia mudah stres.
Loneliness berlebihan dan berkepanjangan dapat menyebabkan fluktuasi emosi, perasaan kesal, frustrasi, kebingungan, sehingga orang cenderung mengadopsi perilaku berisiko. Antara lain, menkonsumsi alkohol, narkoba, atau perilaku merugikan diri, pikiran mau bunuh diri dan bahkan melakukannya.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Mengatasi loneliness disorder memerlukan pendekatan holistik. Perlu ada perubahan pola pikir, perubahan perilaku, dan pencarian dukungan sosial. Yang paling penting, meningkatkan keterhubungan dengan Tuhan.
Jika memungkinkan, orang yang kesepian perlu refleksi kesadaran diri. Menyadari dan memahami kesepian adalah langkah awal penting. Berikutnya, mencoba mengidentifikasi penyebab kesepian atau menemukan pola pikiran yang memperkuat rasa kesepian. Jika diketahui, terapinya jadi lebih mudah.
Cara lain, coba mencari koneksi sosial. Misalnya, bergabung dengan klub atau penghobi, menghadiri acara sosial, atau bergabung dengan komunitas, dan lain-lain. Lalu, coba membangun hubungan mendalam. Setelah kuantitas, kembangan hubungan menjadi lebih berkualitas. Cari orang-orang khusus untuk hubungan semacam ini.
Jika ada pikiran negatif, harus segera menyadari itu lalu ganti dengan pemikiran yang lebih positif dan realistis. Lalu, jaga kesehatan fisik dan emosional. Bisa dengan cara berolah fisik, tidur yang baik, dan makan seimbang. Lalu, bisa menerima diri sendiri termasuk segala kelebihan serta kekurangannya.


