Waspada, Saat Lansia Kehilangan Indera Penciuman

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat kami kumpul keluarga musim liburan, salah satu tema obrolan tentu masalah kesehatan orang tua atau para sesepuh. Nah, topik yang kami bahas kebetulan tentang berkurangnya kepekaan indera penciuman.

Pembaca yang budiman, apakah Anda juga berpengalaman dengan orang tua, kakek-nenek, buyut yang hidungnya kurang peka? Jika ya, itu juga jadi masalah yang umum. Tapi, jangan disepelekan karena pemicunya sangat beragam.

Tentu kita masih ingat saat musim pandemi COVID-19 pada 2020-2022 dan sampai kini masih membayangi. Salah satu gejala terkena serangan virus adalah hilangnya atau berkurangnya kemampuan mencium aroma. Apalagi kaum lansia.

Penurunan indera penciuman pada lansia disebabkan beberapa faktor. Yang paling umum adalah proses penuaan alami yang memengaruhi organ penciuman yaitu hidung dan daerah sekitarnya. Tapi, masih banyak lagi pemicunya.

Antara lain, penurunan jumlah dan kualitas sel penciuman, perubahan struktur hidung termasuk elastisitas jaringan dan perubahan pada selaput lendir, penurunan produksi lendir pengangkut partikel bau ke reseptor penciuman, infeksi saluran pernapasan atas, alergi, atau penyakit tertentu. Beberapa obat yang digunakan lansia mungkin juga memiliki efek samping pada indera penciuman.

Satu lagi, masalah psikologis. Lebih dari separo orang berusia di atas usia 70 tahun mengalami penurunan indra penciuman. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, lansia dengan indera penciuman yang buruk ternyata 6 persen lebih mungkin mengalami gejala depresi tingkat sedang atau tinggi.

Temuan ini hasil studi longitudinal interdisipliner bertema Kesehatan, Penuaan, dan Komposisi Tubuh di Johns Hopkins School of Medicine. Pada 1997-98, peneliti merekrut lebih dari 3.000 orang usia 70-79 tahun yang sehat, tidak kesulitan berjalan seperempat mil, bisa naik tangga 10 langkah, atau beraktivitas normal sehari-hari. Para peneliti mengikuti mereka selama 16 tahun, menjadwalkan pemeriksaan rutin dan melacak peristiwa kesehatan utama.

Pada tahun ketiga penelitian, 2.125 peserta (51 persen perempuan, 37 persen kulit hitam) menjalani tes identifikasi bau. Tercatat, 48 persen mereka memiliki indera penciuman normal, 28 persen menunjukkan penurunan indera penciuman (hiposmia), dan 24 persen mengalami kehilangan indra penciuman (anosmia).

Seiring waktu, 25 persen peserta penelitian menampakkan ‘gejala depresi signifikan.’ Para peneliti membagi pola depresi menjadi tiga kelompok: stabil rendah, stabil sedang, dan stabil tinggi. Nah, peserta yang menunjukkan penurunan atau kehilangan indera penciuman pada awal penelitian, 6 persen lebih mungkin mengalami gejala depresi sedang atau tinggi di kemudian hari. Korelasi ini tetap ada bahkan ketika data dikontrol berdasarkan usia, pendapatan, gaya hidup, faktor kesehatan, dan penggunaan obat antidepresan.

Jadi, kalau lansia di dalam keluarga atau sekitar Anda mengalami gangguan penciuman, pertimbangkan juga kondisi psikologisnya. Siapa tahu ada pikiran yang dipendam.

Facebook Comments

Comments are closed.