Nostalgia Itu Bisa Membuat Kita Bahagia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Ada satu hal yang saya sangat syukuri. Saya masih punya memori,” begitu ungkap teman saya yang ngajak curhat menjelang tutup tahun.

“Apa alasannya?” saya tanya dia.

“Nostalgia membuat saya bisa bahagia.”

“Bahkan kisah-kisah menyedihkan masa lalu?”

“Iya. Peristiwa yang baik membawa nikmat. Kisah yang buruk membawa pembelajaran. Semua membahagiakan.”

…………..

Pembaca yang budiman, saya sependapat dengan ungkapan teman saya di atas. Kenangan menjadi pengalaman nyata pada masa lalu dengan ciri utama kita bisa menampilkan diri kita sebagai sosok protagonis dalam peristiwa penting. Kita bisa merumuskan kisah hidup kita sendiri secara lebih koheren. Nah, ini kunci bahagia.

Kenangan otobiografis seolah-olah mendokumentasikan kehidupan kita dalam format tertulis. Ini bisa merangsang kita untuk melestarikan objek-objek biografi kita sendiri untuk mendapatkan sisi positif yang membahagiakan.

Mau bukti?

Sekarang, coba iseng-iseng melihat isi rumah Anda. Apakah Anda bisa melihat beberapa benda yang pernah dipakai orang tersayang melakukan sesuatu? Misalnya, melihat handuk kecil yang biasa dipakai mendiang ibu untuk membersihkan wajah cucunya yakni anak Anda?

Mungkin, nilai handuk semacam itu tidak terlalu tinggi secara finansial. Penampilannya bahkan sama sekali tidak menarik. Lebih layak dijadikan pel-pelan atau dibuang saja di tempat sampah. Namun, kain lusuh itu punya nilai nostalgi karena bisa menjadi pengingat yang membawa Anda kembali ke masa lalu dan bertemu dengan ibu Anda saat masih hidup.

Benda atau sesuatu yang punya kenangan ini bisa bermanfaat dalam menstimulasi narasi yang Anda bisa buat sendiri tentang hidup Anda. Karena peristiwanya sudah berlalu, Anda punya keleluasaan untuk menuliskan kembali narasi sebagaimana Anda maui.

Maka, jangan heran jika ada orang yang senang mendokumentasikan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Bisa lewat album foto, bisa juga lewat media sosial pada era sekarang. Itu karena mereka bisa merasa hangat dengan kenangan indah ketika melihat kembali postingan tersebut. Mereka bisa merenda alur cerita bahagia dari foto-foto itu.

Semua ini dapat berkontribusi pada rasa global self-continuity. Dalam rasa ini, Anda bisa menghubungkan diri Anda sendiri saat di masa lalu, saat sekarang, dan di masa depan. Perasaan ini, pada gilirannya, membantu Anda menata kembali kehidupan sehingga Anda bisa merasa lebih baik secara keseluruhan secara mental. Memahami masa lalu bisa membantu mengarahkan Anda melewati masa kini dengan baik dan menata masa depan lebih cemerlang.

Facebook Comments

Comments are closed.