Lindungi Anak Sewajarnya Saja; Jangan Berlebihan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Anak saya gak boleh naik sepeda motor. Nanti masuk angin,” begitu kata seorang Mama saat gathering santai dengan sejumlah mama-mama lainnya.

“Lha nanti kalau sudah besar dan mau pergi ke mana-mana, bagaimana?” saya memancing dengan pertanyaan.

“Ya, biar papanya yang antar. Kan ada sopir. Biar aman.”

………..

Pembaca yang budiman, memang sudah jadi kodrat manusia untuk melindungi keturunannya. Salah satu upaya orang tua adalah memastikan keamanan dan kesejahteranaan anak saat menjalani hidup mereka. Tapi, overprotective parenting bahkan helicopter parenting justru tidak baik untuk tumbuh kembang anak secara fisik maupun mental.

Overprotective parenting adalah cara mendidik yang melibatkan pengawasan dan kontrol berlebihan terhadap kehidupan anak. Orang tua macam gini merasa perlu melindungi anak dari segala risiko atau bahaya potensial, bahkan ketika risiko itu relatif kecil atau bisa dianggap normal dalam perkembangan anak.

Helicopter parenting juga begitu. Bahkan, proteksinya termasuk pada hal-hal yang seharusnya menjadi wewenang anak untuk mengelola sendiri. Bukan hanya melindungi anak dari bahaya fisik atau emosional, helicopter parenting juga berfokus pada memastikan keberhasilan dan kesejahteraan anak dalam hal prestasi akademis, sosial, professional, dan sejenisnya.

Orang tua semacam ini biasanya punya perasaan khawatir atau cemas berlebihan terhadap anak bahkan dalam situasi yang relatif aman. Kadang, orang tua tidak terlalu percaya pada kemampuan anak untuk mengatasi sendiri tantangan atau kesulitan.

Maka, orang tua terus-menerus mengawasi setiap gerak anak dan bila perlu terlibat intensif dalam semua aspek kehidupan anak, bahkan terhadap hal-hal yang seharusnya menjadi bagian dari pengembangan otonom anak. Juga, mengendalikan keputusan dan tindakan anak tanpa memberi kesempatan pada anak untuk mengambil inisiatif atau belajar dari pengalaman sendiri. Sampai-sampai, orang tua memilihkan teman dan aktivitas pada anak-anak bahkan ketika si anak sudah cukup besar untuk membuat pilihan sendiri.

Memang baik, sih, jika si anak kelak bisa mencapai prestasi seperti didambakan orang tua. Memang enak, sih, saat anak memilih jalan kehidupan yang dipastikan oleh orang tua. Tapi, apakah itu betul-betul prestasi atau kehidupan yang diinginkan si anak?

Pendekatan pengasuhan semacam ini bisa memiliki konsekuensi negatif terhadap perkembangan anak. Jika diawasi dan dilindungi secara berlebihan, si anak bisa berkembang menjadi individu yang kurang percaya diri, yang bergantung berlebihan pada orang tua, yang kesulitan mengatasi tantangan hidupnya sendiri, yang tidak bisa menikmati passion yang sejatinya dia inginkan. Anak yang demikian akan kesulitan untuk mandiri, merasa terlalu terbebani oleh harapan orang tua, takut membuat kesalahan. Ia juga tidak memiliki kebebasan menjelajahi dan berinteraksi dengan dunia luar sehingga sulit berkomunikasi, berkolaborasi, dan membangun hubungan interpersonal.

Dalam beberapa kasus, anak-anak yang terus diawasi dan dikendalikan orang tua sangat mungkin mengalami tekanan emosional. Dalam kondisi merasa tertekan terus-menerus, anak bisa mengalami stres, depresi hingga memilih jalan yang kita tidak inginkan.

Ini bisa memunculkan symbolic rejection. Anak merasa orang tuanya tidak mempercayai atau tidak menghargai kemampuannya sehingga ia merasa ditolak secara simbolis dalam upaya untuk menjadi mandiri. Salah satu dampak emosional dari ini adalah rasa frustrasi dan/atau marah. Kalau sudah membangkang seperti ini, ada peluang si anak mengambil tindakan di luar nalar.

Jadi, mari kita asuh anak sewajarnya. Tidak terlalu longgar, tidak pula berlebihan. Beri anak petunjuk, bimbingan, lalu beri kesempatan untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Sesekali gagal, sesekali jatuh, sesekali sakit, itu normal. Anak bisa belajar hidup dari semua itu. Jika tidak pernah gagal, jika tidak pernah jatuh, jika tidak pernah sakit, anak tidak sempat belajar hidup normal.

Facebook Comments

Comments are closed.