Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Tuing… bunyi alarm ponsel menandakan ada pesan WA masuk. Segera saya buka pesan dari sahabat. Tiba-tiba, saya langsung kaget. Hladalah, koq pesannya gambar yang agak gimanaaaa…, gitu. “Aneh, tumben anak ini mainan gambar seksi?” batinku.
Kemudian, saat ponsel masih di genggaman tangan, gambar seksi dalam pesan WA itu menghilang. Rupanya, sahabat saya menyadari kekeliruannya. Pesan segera di-delete sehingga saya tidak bisa melihatnya lagi. Lalu, ada teks singkat, “Maaf, Mbak. Salah kirim. Harusnya untuk suamiku.”
…………
Pembaca yang budiman, perkembangan teknologi informasi memang merombak berbagai cara berfikir dan berperilaku kita. Termasuk soal seksualitas. Apa yang dulu dianggap sangat intim (untuk pribadi) atau tabu (untuk umum), kini sudah sangat biasa. Tak pelak, aktivitas sexting sudah bertebaran di jagad maya.
Sext adalah perpaduan kata sex dan text. Maka, sexting adalah tindakan mengirim teks, gambar, atau video konten seksual secara eksplisit atau menjurus kepada seseorang melalui perangkat komunikasi semacam ponsel, medsos, atau aplikasi pesan instan lainnya. Kontennya dapat berupa foto/video hot, pesan teks eksplisit, atau materi lainnya yang dimaksudkan untuk merangsang nafsu seksual.
Nah, muncul pertanyaan, apakah sexting diperlukan bagi pasangan di masa kini? Apa manfaatnya bagi pasangan yang sudah lama menikah atau yang masih baru? Sebaliknya, apa juga mudharatnya? Untuk menjawabnya, mari awali dengan hasil penelitian Jonathon Beckmeyer dari West Virginia University.
Penelitian dilakukan terhadap 484 orang dewasa muda yang berada dalam hubungan romantis. Mereka diminta mengisi survei tentang pengalaman terkait sexting dan bagaimana hubungan mereka dalam hal interaksi dan komitmen positif dan negatif dengan pasangan.
Hasilnya? Perbandingan antara yang menerima atau mengirim pesan seksual dengan yang tidak melakukannya tidak terlalu jauh berbeda. Bisa jadi, saya dan suami tergolong pihak yang boleh dikata tidak sexting. Sahabat saya yang salah kirim tadi termasuk bagian yang sexting.
Dalam penelitian ini, 42% responden tidak mengirim atau menerima sext dan tidak menginginkannya. Persentase orang yang tidak melakukan hubungan seks jauh lebih kecil, namun mereka menginginkannya (4,8%) atau memiliki pasangan yang menginginkannya (5,8%). Dengan kata lain, cukup banyak orang tidak suka sexting.
Penelitian juga menunjukkan, 53% responden mengirim sext pada pasangan dan 52% menerima sext dari pasangannya. Dalam penelitian ini, sexting dikaitkan dengan interaksi yang lebih positif antara pasangan dan komitmen yang lebih tinggi. Pesan-pesan sext dianggap makin meningkatkan hubungan.
Jadi, perlukah sexting?
Ehm.., apa pun hasil penelitian ini, jangan terlalu dijadikan patokan untuk perilaku. Sekadar pengetahuan, boleh. Untuk dijadikan pedoman? Saya kira jangan.
Penelitian ini tidak memungkinkan kita menyimpulkan apakah sexting membuat interaksi kita lebih positif atau pasangan jadi merasa lebih berkomitmen. Banyak orang yang tetap berkomitmen meski tanpa imbuhan hal-hal romantik. Di sisi lain, sexting kadang membawa tingkat kerentanan tinggi bila salah komunikasi.
Maka, dengan atau tanpa sexting, kita harus memperlakukan pasangan dengan baik dan hormat. Kita juga perlu mempertimbangkan apa yang cocok untuk pasangan dan apa yang membuat pasangan merasa nyaman, apa yang bisa meningkatkan rasa senang, aman, dan sejenisnya.
Maka, jika pasangan oke-oke saja dengan sexting, ya monggo saja. Asal hati-hati. Teknologi digital di jagad maya bisa bocor secara sengaja maupun tanpa sengaja. Jangan sampai salah kirim atau diretas orang lain sehingga datanya bisa disalahgunakan.
Selain itu, ada aturan hukum tentang konten asusila yang juga perlu dipertimbangkan. Begitu juga aturan moral dan etika.


