Dingin-dingin terus Lapar, Ternyata Ini Biangnya

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat liburan di kawasan pegunungan, ponakan saya mengadu. “Duh, Te, diet jadi berantakan saat di tempat dingin seperti ini. Bagaimana, tidak? Rasanya aku pingin makan terus. Bangun tidur, lapar. Jalan dikit, sudah lapar. Tengah hari, lapar lagi. Sehari bisa makan lima kali.”

“Hala…,” sergahku. “Kamu kan masih muda. Masih masa pertumbuhan. Nggak papa juga makan banyak.”

“Idihh…, masa pertumbuhan? Wong aku sudah lebih tinggi daripada Tante.”

……….

Pembaca yang budiman, tak perlu saya tuliskan obrolan santai saya dengan ponakan masalah diet atau tinggi badannya. Yang saya ingin tuliskan adalah hal yang sering kita rasakan dan alami bersama. Setiap kali berada dalam lingkungan lebih dingin, kita cenderung merasa lapar dan ingin makan.

Mamalia, termasuk manusia, otomatis membakar lebih banyak energi untuk menjaga suhu tubuh tetap normal saat terpapar suhu dingin. Kita semua tahu, peningkatan pengeluaran energi yang dipicu suhu dingin ini mendorong peningkatan nafsu makan. Namun, mekanisme spesifik yang mengendalikan hal ini belum diketahui.

Nah, rahasia itu sekarang diungkap para pakar saraf dari Scripps Research di San Diego, Amerika Serikat. Mereka mengidentifikasi sirkuit otak yang membuat mamalia ingin makan banyak saat terpapar dingin. Ada sekelompok neuron yang berfungsi sebagai ‘saklar’ makan saat kondisi kedinginan pada tikus percobaan.

“Ini mekanisme adaptif mendasar pada mamalia. Memahami mekanisme ini bisa bermanfaat bagi pengobatan di masa depan. Kita bisa meningkatkan manfaat metabolisme saat suhu dingin atau mengelola bentuk pembakaran lemak lainnya,” kata Li Ye PhD, profesor sekaligus ketua Abide-Vividion dalam Departemen Kimia dan Biokimia di Scripps Research.

Dalam pengamatan mereka, tikus-tikus percobaan saat suhu diturunkan dari 73 derajad F ke 39 derajad F baru meningkatkan pencarian makanan setelah jeda sekitar enam jam. Ini menunjukkan perubahan perilaku mereka bukan sekadar akibat langsung dari penginderaan dingin.

Lalu, para peneliti menggunakan teknik ‘whole-brain clearing‘ dan ‘light sheet microscopy‘ untuk membandingkan aktivitas neuron di seluruh otak selama kondisi dingin dan hangat. Hasilnya; sebagian besar aktivitas saraf di seluruh otak jadi jauh lebih rendah dalam kondisi dingin, namun ada wilayah thalamus yang justru menunjukkan aktivasi lebih tinggi.

Lalu, tim peeliti memusatkan perhatian di garis tengah thalamus tempat sekelompok neuron tertentu yang disebut inti xiphoid. Aktivitas dalam neuron ini melonjak dalam kondisi dingin tepat sebelum tikus bangkit mencari makan dari kondisi lamban gerak akibat dingin. Ketika makanan lebih sedikit pada awal kondisi dingin, peningkatan aktivitas inti xiphoid bahkan lebih besar. Ini menunjukkan neuron-neuron merespons defisit energi yang disebabkan suhu dingin dibandingkan terhadap suhu dingin itu sendiri.

Ketika para peneliti mengaktifkan neuron ini secara artifisial, tikus-tikus percobaan meningkatkan pencarian makanan mereka tetapi tidak meningkatkan aktivitas lainnya. Ketika tim peneliti menghambat aktivitas neuron ini, tikus-tikus percobaan mengurangi pencarian makanan. Efek ini hanya muncul pada kondisi dingin, yang menyiratkan bahwa suhu dingin memberikan sinyal tersendiri yang juga harus ada agar perubahan nafsu makan dapat terjadi.

Dalam serangkaian percobaan terakhir, tim peneliti menemukan bahwa neuron nukleus xiphoid memproyeksikan ke wilayah otak yang disebut nucleus accumbens. Ini area otak yang telah lama dikenal karena perannya dalam mengintegrasikan sinyal penghargaan dan penolakan untuk memandu perilaku, termasuk perilaku makan.

Facebook Comments

Comments are closed.