Mewaspadai Gangguan Mental pada Anak-anak

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Duh, judulnya koq ‘mengerikan’ sekali?

Mohon maaf. Bukannya saya berniat menakut-nakuti tapi sekadar mengingatkan kita untuk selalu waspada. Karena, gangguan mental ini cukup umum terjadi pada anak-anak. Setidaknya, anak pernah mengalami dua atau tiga gangguan sepanjang hidupnya. Jika tidak terdeteksi sejak awal dan segera mendapat penanganan tepat, masalah gangguan mental pada anak bisa berpengaruh dalam kehidupan dewasa kelak.

Gangguan mental, atau mental illness, atau gangguan kesehatan mental, mengacu pada kondisi mental yang mempengaruhi emosi, perilaku, dan fungsi kognitif. Gangguan kesehatan mental dapat menyebabkan ketidakstabilan emosional, kesulitan dalam mengatasi stres, dan kesulitan dalam berfungsi sehari-hari. Dampaknya juga kemudian bisa ke fisik.

Yang umum dialami anak antara lain; gangguan kecemasan, attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), gangguan spektrum autisme (ASD), gangguan makan, depresi dan gangguan mood lainnya, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), fobia, obsessive compulsive disorder (OCD), oppositional defiant disorder (ODD), hingga skizofrenia.

Masalahnya, kadang orang tua tidak cukup tahu atau cukup peka terhadap gangguan mental pada anak-anak. Karena orang tua sulit mengidentifikasi masalah itu, akibatnya banyak anak tidak sepenuhnya memperoleh manfaat optimal dari pengobatan atau bantuan yang harusnya mereka butuhkan.

Untuk peka terhadap masalah mental pada anak-anak, kita perlu tahu tanda-tanda peringatannya. Tanda-tanda anak yang mungkin mengalami gangguan kesehatan mental antara lain;

  • Sedih terus-menerus selama dua minggu atau lebih
  • Menarik diri atau menghindari interaksi sosial
  • Menyakiti diri sendiri atau berbicara tentang menyakiti diri
  • Berbicara tentang kematian atau bunuh diri
  • Sering meledak-ledak atau lekas marah ekstrim
  • Perilaku di luar kendali yang bisa berbahaya
  • Sering takut/khawatir
  • Perubahan drastis suasana hati, perilaku atau kepribadian
  • Perubahan kebiasaan makan
  • Perubahan berat badan (cepat kurus/gemuk)
  • Sulit tidur atau sulit bangun
  • Sering sakit kepala atau sakit perut
  • Merasa sakit yang tidak jelas penyebabnya
  • Sulit berkonsentrasi
  • Perubahan prestasi akademik
  • Menghindari atau bolos sekolah

Jika menemukan beberapa gejala di atas, dan Anda mengkhawatirkan kondisi mental anak, segera konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan anak. Bisa disekolah, di posyandu, di puskesmas, ke psikolog, dan sejenisnya. Jelaskan perilaku anak yang menjadi perhatian Anda agar mendapat gambaran permasalahannya.

Biasanya kondisi kesehatan mental anak didiagnosis dan ditangani berdasarkan tanda dan gejala serta bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi kehidupan sehari-hari anak. Jika perlu, penyedia layanan kesehatan anak merekomendasikan evaluasi oleh spesialis.

Harap sabar, karena evaluasi ini kadang butuh waktu dan serangkaian pemeriksaan. Yang dievaluasi antara lain pemeriksaan medis, riwayat kesehatan, sejarah trauma fisik atau emosional, riwayat kesehatan fisik dan mental keluarga, garis waktu kemajuan perkembangan anak, sejarah akademiknya, wawancara dengan orang tua, wawancara dan pengamatan terhadap anak, dan lain-lain.

Mendiagnosis penyakit mental itu tidak seperti mendiagnosis sakit fisik yang tanda-tandanya lebih tampak. Apalagi jika anak kecil mengalami kesulitan memahami atau mengungkapkan perasaan sehingga mempersulit evaluasi. Maka, jangan heran jika penyedia perawatan kesehatan anak tiba-tiba mengubah atau menyempurnakan diagnosis dari waktu ke waktu.

Jika evaluasi dianggap sudah selesai dan diagnosis sempurna, biasanya penyakit mental pada anak dirawat dengan dua cara. Dengan psikoterapi, yaitu anak dibenahi secara wicara atau perilaku. Dengan pengobatan, yaitu menggunakan obat antara lain stimulan, antidepresan, anti-kecemasan, antipsikotik atau penstabil suasana hati. Tentu masing-masing cara harus sudah dipertimbangkan oleh ahlinya.

Facebook Comments

Comments are closed.