Jangan Salah; Pengendalian Diri Justru Juga Bisa Timbulkan Agresivitas

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.idLove your rage, not your cage. Aggression can be a viable source of one’s strength. But never contained.

Petikan komik V-for-Vendetta karya Alan Moore mengilhami sejumlah orang untuk tidak takut melawan sesuatu yang mereka perjuangkan. Ibaratnya, membalaskan dendam sampai titik darah penghabisan.

Terkait soal dendam dengan kekerasan, saya baru saja membaca artikel berjudul Aggression as successful self‐control dalam Social and Personality Psychology Compass edisi terbaru Juli 2023. Artikel ini menarik karena memberikan bukti yang berlawanan dengan pendapat umum.

David Chester, profesor psikologi sosial di Virginia Commonwealth University, mengungkap bahwa agresi tidak selalu merupakan produk dari pengendalian diri yang buruk. Sebaliknya, agresi seringkali produk dari pengendalian diri yang berhasil tapi untuk pembalasan yang lebih besar.

Chester menggunakan meta-analisis untuk meringkas bukti dari puluhan studi yang ada di bidang psikologi dan neurologi. Penelitiannya memang menemukan bahwa orang yang paling agresif umumnya tidak memiliki disiplin kontrol diri. Program pelatihan peningkatan pengendalian diri belum terbukti cukup efektif dalam mengurangi kecenderungan terjadinya kekerasan.

Tapi, dalam penelitian yang sama, ia juga menemukan banyak bukti bahwa agresi muncul justru dari pengendalian diri yang berhasil. “Orang pendendam cenderung menunjukkan perencanaan yang lebih besar atas perilaku dan pengendalian diri mereka. Ini memungkinkan ia menunda kepuasan dan menunggu waktu yang pas untuk memberikan pembalasan maksimum pada orang-orang yang mereka yakini telah berbuat salah pada mereka,” kata Chester.

Ia lalu mencatat sejumlah kasus psikopat, yakni pelaku agresivitas dengan kekerasan, sering menunjukkan pengendalian diri yang kuat selama masa remaja. Kontrol diri pada masa lalu ini justru meningkatkan agresivitas di masa mendatang. Biangnya ada dalam korteks prefrontal otak yang mengatur pengendalian diri.

Menurut Chester, “Hasil penelitian ini menolak narasi dominan puluhan tahun bahwa kekerasan dimulai ketika pengendalian diri berhenti atau gagal. Sebaliknya, pengendalian diri itu dapat membatasi sekaligus memfasilitasi agresi –tergantung pada orangnya dan situasinya.”

Artinya, orang yang tampak diam atau tenang dalam kondisi lingkungan yang menekan berarti ia memang bisa mengendalikan diri untuk memaafkannya atau ia sedang menahan diri untuk membalasnya di kemudian hari.

Meski demikian, balas dendam pun perlu diarahkan ke hal-hal yang lebih positif.

Dalam Qur’an Surah an-Nahl: 126 -128, ada pesan Allah pada Nabi Muhammad setelah Perang Uhud, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik. Jangan buang waktu untuk membenci dan balas dendam. Setiap orang yang menyakiti pada akhirnya akan menerima karmanya sendiri.

Facebook Comments

Comments are closed.