Stress…? Coba Hirup Aroma Kopi

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, aku lagi suntuk dengan pekerjaan. Istirahat nanti, yuk kita nge-mall sebentar. Pengen ngobrol sebentar, biar pikiranku agak lega,” begitu curhatan seorang teman.

Pas istirahat, kami ke mall yang jaraknya tak jauh dari kantor. Dia langsung duduk di bangku selasar. Aku segera menawari, “Nggak langsung masuk ke coffee shop saja? Kita bisa ngopi sekaligus ngobrol.”

“Ehm, nggak usah, Mbak. Aku nggak punya duit. Gajian masih lama. Duduk di sini, aku sudah bisa mencium aroma kopi. Gini saja, stressku berkurang.”

“Ealah…,” ganti aku menyela. “Bilang dong sedari tadi.”

………..

Pembaca yang budiman, tak perlu saya tuliskan bagaimana protes saya pada teman yang meng-anggur-kan saya di mall. Biarlah  itu jadi urusan saya sama dia. Yang ingin saya tulis untuk Anda adalah, teman saya benar dalam satu hal; mencium aroma kopi bisa menenangkan otak.

Para ilmuwan antar bangsa; Han-Seok Seo, Misato Hirano, Junko Shibato, Randeep Rakwal, In Kyeong Hwang, dan Yoshinori Masuo melaporkan beberapa bukti bahwa menghirup aroma kopi saja sudah dapat mengubah aktivitas sejumlah gen di otak. Efek selanjutnya, ini membantu mengurangi stress dan kecemasan.

Dalam percobaan dengan tikus laboratorium, mereka menemukan aroma kopi bisa mengatur ekspresi belasan gen dan beberapa perubahan ekspresi protein sehingga membantu mengurangi stres akibat kurang tidur.

“Sudah ratusan studi dilakukan terhadap bahan dalam kopi termasuk zat yang bermanfaat kesehatan. Penelitian kami adalah upaya pertama untuk menjelaskan efek aroma biji kopi terhadap stres di otak tikus akibat kurang tidur,” kata Han-Seok Seo.

Para peneliti menyiapkan sejumlah tikus laboratorium. Sebagian tikus dalam kondisi segar sebagai kontrol. Sebagian lainnya tikus yang stres akibat kurang tidur. Para peneliti membiarkan tikus-tikus percobaan itu sama-sama menghirup aroma kopi. Mereka lalu membandingkan ekspresi gen dan protein di otak tikus.

Pada otak tikus yang mengendus aroma kopi, tampak peningkatan aktivitas berbeda pada 17 gen. Dari jumlah ini, 13 gen menunjukkan perbedaan ekspresi mRNA antara kelompok normal dan kelompok stres yang menghirup aroma kopi. Perbedaan ini termasuk dalam protein dengan aktivitas antioksidan sehat yang diketahui melindungi sel saraf dari kerusakan terkait stres.

Ada beberapa alasan mengapa aroma kopi dapat membantu relaksasi otak dan mengurangi stres.

Aroma kopi itu khas dan menyenangkan sehingga mudah merangsang indera penciuman. Indera penciuman ini terhubung langsung dengan otak dan sistem limbik yang bertanggung jawab atas emosi dan stres. Maka, aroma kopi dapat memicu respons positif dalam otak dan membantu mengurangi tingkat stres.

Aroma kopi juga memiliki efek relaksasi. Aroma ini dapat menciptakan suasana yang nyaman dan membantu meredakan ketegangan terkait stres. Ketika kita menghirup aroma kopi, itu dapat menginduksi perasaan rileks dan tenang.

Selain aroma, kandungan kafein dalam kopi juga dapat memberikan efek stimulasi ringan pada tubuh. Kafein dapat meningkatkan energi, kewaspadaan, dan mood secara umum, yang dapat membantu mengurangi dampak stres.

Bagi sejumlah orang, kopi memiliki asosiasi positif dengan momen-momen santai atau menyenangkan. Banyak cerita tentang menikmati secangkir kopi di pagi hari atau saat santai di kedai favorit atau di pegunungan sejuk indah. Ketika tercium aroma kopi, maka ingatan terpicu sehingga memunculkan bayangan momen menyenangkan tadi. Pada gilirannya, itu dapat memberikan perasaan nyaman dan mengurangi stres.

Tapi ingat, konsumsi kopi sewajarnya saja ya. Jangan berlebihan. Apa pun yang berlebihan itu membawa konsekuensi tersendiri. Jadi, bagaimana kalau nggak usah ngopi? Cukup nebeng di warkop untuk mencium aromanya…haha…

Facebook Comments

Comments are closed.