Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Saya banyak dicurhati teman yang kesepian atau teman/kerabat orang yang kesepian. Isi curhatnya bermacam-macam, dari berbagai perspektif, dengan bermacam tujuan. Berikut, saya sampaikan beberapa poin curhatannya.
Saya berkali-kali menekankan, kesepian itu bukan penyakit dalam arti medis. Ini lebih merupakan perasaan sosial dan emosional yang dialami individu. Maka, orang-orang yang tidak kesepian perlu bisa membantu orang yang kesepian untuk mengatasi masalahnya.
Jika tidak ditangani, kesepian kronis berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan fisik seseorang. Bisa menimbulkan kecemasan, depresi, stres, dan penurunan kekebalan tubuh. Kesepian jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan tidur, penurunan kognitif, dan penurunan kualitas hidup.
Orang yang kesepian kronis memiliki pola pikir berbeda dibandingkan dengan orang yang tidak kesepian. Karena merasa terisolasi, tidak terhubung mendalam dengan orang lain, atau kurang memiliki hubungan sosial, ia mengalami perubahan dalam pola pikir.
Orang kesepian cenderung memiliki persepsi lebih negatif tentang diri sendiri dan orang lain. Ia merasa tidak diinginkan atau tidak dicintai, dan cenderung melihat situasi sosial dengan cara lebih skeptis atau paranoid.
Orang yang kesepian lebih sensitif terhadap penolakan sosial. Saat mengalami penolakan, ia membawanya jauh ke dalam hati. Atau, ia secara berlebihan memperhatikan tanda-tanda penolakan yang mungkin sebenarnya tidak ada.
Di zaman sekarang, orang yang kesepian cenderung bergantung pada media sosial untuk memenuhi kebutuhan pergaulan sosial. Ia menghabiskan banyak waktu di media sosial sebagai cara untuk merasa terhubung dengan orang lain, meskipun hanya secara virtual.
Hasil studi terbaru menunjukkan, otak masing-masing orang yang kesepian memproses informasi dengan caranya sendiri yang unik. Sementara, otak orang yang tidak kesepian memproses informasi dengan cara yang umumnya sama.
Apakah pemrosesan istimewa pada individu itu menyebabkan kesepian, atau apakah itu akibat dari kesepian?
Individu dengan tingkat kesepian tinggi –terlepas dari berapa banyak teman atau hubungan sosial yang mereka miliki– cenderung memiliki respons otak yang istimewa. Ini meningkatkan kemungkinan bahwa ia dikelilingi orang-orang yang melihat dunia secara berbeda dari diri sendiri dapat menjadi faktor risiko kesepian, bahkan jika seseorang bersosialisasi secara teratur dengan mereka.
Studi ini juga menunjukkan, karena koneksi atau pemutusan sosial berfluktuasi dari waktu ke waktu maka hal itu dapat memengaruhi sejauh mana individu memproses dunia secara istimewa. (*)


