Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Eh, Dik, makannya jangan buru-buru. Makan koq seperti ngejar kereta api?” saya menyidir kemenakan yang nyaris tidak mengunyah makanan.
“Bukannya buru-buru, Te. Memang tekstur makannya telalu halus. Nggak usah dikunyah, sudah hancur di mulut,” ia membela diri.
“Oh, gitu,” respons saya. “Tapi, tetap saja mengunyah lebih banyak. Karena ada banyak manfaat mengunyah, meski makanannya sudah lemah lembut seperti penari balet.”
“Haha, Tante ada saja. Apa manfaatnya?”
“Mengunyah makanan itu bisa bermanfaat bagi sistem saraf. Ketika kita mengunyah, tubuh merespons dengan meningkatkan aliran darah ke otak. Pada gilirannya, ini meningkatkan aktivitas saraf. Ini dapat meningkatkan konsentrasi, memori, kewaspadaan, dan lain-lain.”
“Oh, begitu.”
“Saat kita mengunyah makanan, terjadi rangsangan sensorik di mulut, termasuk reseptor rasa, tekstur, dan suhu. Rangsangan ini dikirim ke otak melalui saraf kranial, termasuk saraf trigeminal dan saraf fasial. Aktivitas sensorik ini dapat memberikan perasaan kenyamanan dan mengalihkan perhatian kita dari stres atau kecemasan yang mungkin kita rasakan.”
“Terus?”
“Mengunyah juga mengktivasi saraf vagus. Saraf vagus ini berperan dalam mengatur respons relaksasi dan menenangkan sistem saraf otonom. Ketika kita mengunyah makanan dengan perlahan dan tenang, ini merangsang saraf vagus dan memicu respons relaksasi, yang dapat mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, dan meningkatkan kesejahteraan.”
“Mengunyah terus, apa gak kenyang?”
“Sistem pencernaan kita butuh sekitar 20 menit untuk mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah kenyang. Nah, kalau mengunyahnya terburu-buru, justru memberi sensasi kita belum cukup kenyang meski sudah makan banyak. Kita bakal cenderung mau nambah makan lagi. Padahal, kita tidak boleh makan berlebihan.”
“Jadi, makanannya juga jangan makanan yang cepat hancur?”
“Ya. Selain cara mengunyahnya, kita perlu juga mempertimbangkan apa yang dikunyah. Makanan sehat dan bergizi, seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian, dapat memberikan nutrisi kesehatan otak dan sistem saraf secara keseluruhan. Omega-3, vitamin B, dan antioksidan juga nutrisi yang penting untuk kesehatan saraf. Kalau mengunyah permen karet atau makanan ringan yang banyak gula, mungkin memberi manfaat sedikit tapi ketidak-manfaatannya lebih banyak. Kandungan gula berlebih dapat menyebabkan penurunan konsentrasi dan energi setelah periode singkat sugar crash.”
“Oh, begitu.”
“Selain untuk menenangkan syaraf, mengunyah juga berpengaruh pada otot-otot wajah. Mengunyah itu melibatkan sejumlah otot-otot di sekitar mulut dan rahang, termasuk otot temporalis dan otot masseter. Aktivitas mengunyah rutin dapat membantu memperkuat dan mengembangkan otot-otot ini. Fungsi normal rahang tambah bagus. Otot-otot di sekitar pipi dan bibir juga terlibat dalam proses mengunyah. Mengunyah perlahan juga dapat memberikan stimulus pada otot-otot wajah secara keseluruhan. Ini membantu menjaga kekuatan dan fleksibilitas otot-otot wajah, yang berkontribusi pada fungsi bicara, ekspresi wajah. Otot-otot wajah yang kuat dan terlatih dapat memberikan bentuk wajah yang seimbang dan menopang struktur tulang wajah dengan baik. Ini dapat memiliki dampak pada estetika wajah dan mengurangi risiko penampilan rahang terlalu kecil atau tidak simetris.”
“Jadi, mengunyah bisa membantu wajah tetap bagus dan cantik?”
“Iya. Itu manfaat mental dan fisik,” jawab saya.
“Tambah lagi satu manfaatnya, Te. Makan dengan mengunyah perlahan itu juga mengikuti sunah Rasul. Bukankah Rasul memberi contoh untuk mengecilkan volume suapan makanan yang masuk mulut dan memperbanyak atau membaguskan mengunyahnya?”
“Ah, betul itu. Tapi, jangan lupa, makannya secara bersama-sama. Yuk, kita makan. Tante juga sudah lapar nih.”


