Jengker Seni Tradisi

mepnews.id – Trahing kusumo trembesing madu. Begitu orang menyebut Bojonegoro sebagai kabupaten yang melahirkan banyak tokoh nasional dan internasional.

Salah satu tokoh itu adalah Prof Sumarsam PhD. Ia guru besar Winslow-Kaplan bidang musik di Universitas Wesleyan, Middletown, negara bagian Connecticut, di Amerika Serikat. Pria kelahiran Kecamatan Dander di Bojonegoro ini telah tinggal 32 tahun di Amerika Serikat.

Dewan Kesenian Bojonegoro (DKB), pada Senin sore 19 Juni 2023, berkesempatan ‘ngangsu kaweruh‘ bersama Prof Sumarsam. Acara ini diselenggarakan di New Garasi resto dan dihadiri kurang lebih 60 peserta dari berbagai komunitas seni budaya Bojonegoro.

Sumarsam menyebut seni sebagai sesuatu yang mengakar dalam masyarakatnya. Karenanya, keberadaan seni terlepas dari interfensi kekuatan apapun.

Menyitir Prof Selo Soemarjan dan Gus Dur (Abdurrahman Wahid presiden RI ke-5), ia menegaskan seni budaya itu merupakan kekuatan bangsa yang keberadaanya merdeka. Negara wajib mengayomi, tetapi tidak boleh nengintervensi.

Ia juga menanggapi pertanyaan tentang bagaimana keberpihakan negara terhadap budaya di Amerika Serikat. Menurutnya, komunitas seni dan budaya banyak tersebar di amerika Serikat, namun lebih kaya di Indonesia. Untuk bisa survive, pelaku seni di Amerika Serikat bisa menggandeng banyak founder. Secara yuridis, negara tidak memberikan aturan-aturan hukum. Maka di sana tidak ada menteri kebudayaan dan menteri agama.

“Ini yang perlu dicontoh oleh komunitas seni budaya di Bojonegoro. Untuk bisa survive, tidak harus menggantungkan diri pada pemerintah kabupaten. Jika tak tergantung, keberadaannya akan terlepas dari kepentingan politis kekuasaan. Kelompok seni bisa menggandeng founder seperti yang dilakukan seniman di Amerika Serikat,” tambahnya.

Agung Supriyanto, anggota DPRD Provinsi Jatim dari Fraksi PAN yang jadi pembicara kedua, menyatakan meski komunitas seni budaya Bojonegoro tidak bergantung dengan pemerintah, namun pemerintah berkewajiban mengayomi melalui penganggaran yang ada. “Wajib, itu!” ia menegaskan.

Acara berahir pukul 17.30 bersamaan kumandang adzan magrib dengan ditandai tukar buku karya sastra komunitas Bojonegoro dan Prof Sumarsam. (Zid)

Facebook Comments

Comments are closed.