Saat Jauh, Marah. Saat Dekat, Gak Bisa Marah.

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Priti, salah seorang kerabat dekat saya, sedang curhat tentang hubungannya dengan seseorang. Ia menggambarkan hubungan itu agak complicated. Nah, ia jadi bingung mengapa itu bisa terjadi.

“Mbak, saya ini sedang marah pada seseorang. Mengapa ya saya koq lebih gampang pingin marah saat dia sedang jauh?”

Saya jawab, “Ehm, saya nggak cukup paham soal hubunganmu dengan orang itu. Setiap individu punya pengalaman unik, sehingga reaksi kemarahan bisa bervariasi. Untuk bisa memastikannya, tentu saya perlu observasi dulu.”

“Gak usah saya ceritakan dulu orangnya, deh. Saya pingin mendapat penjelasan dari sudut pandang saya.”

Saya coba jelaskan, “Kalau dari sudut pandangmu, ada kemungkinan jarak fisik mempengaruhi reaksi marahmu padanya. Saat orang yang kau marahi itu jauh, mungkin kau merasa lebih aman dan tidak terancam secara langsung dari dia. Ini dapat membuatmu merasa lebih berani dan lebih mudah mengungkapkan kemarahan tanpa takut konsekuensi langsung.”

“Oh, begitu ya.”

Saya tambahkan, “Jarak fisik ini juga dapat memberikan lebih banyak ruang untuk refleksi. Kau jadi punya lebih banyak waktu dan ruang untuk memikirkan kejadian atau perilaku dia yang memicu kemarahanmu. Ketika kamu memikirkannya berulang-ulang, intensitas kemarahanmu bisa meningkat.”

“Eh, aku koq jadi ngeri pada diriku sendiri?” Priti menimpali.

Saya lanjutkan, “Faktor berikutnya, komunikasi tidak langsung. Ketika berkomunikasi, terutama melalui pesan teks atau media sosial, dengan orang itu, ada peluang terjadi kesalahpahaman atau salah interpretasi. Teks seringkali kurang lengkap dan terkadang tidak dapat menggambarkan nuansa dan ekspresi emosi secara akurat. Ini dapat lebih mudah memunculkan kemarahan karena kesalahpahaman terhadap niat atau tujuan orang tersebut.”

“Ya, kalau yang ini saya bisa pahami. Memang sering terjadi,” kata Priti. “Terus, yang saya mau tanyakan juga, saat saya mau marah pada dia, tapi dia tiba-tiba mendekat atau duduk di sebelah saya, mengapa tiba-tiba kemarahannya jadi berkurang dan bahkan hilang?”

“Lahhh…., koq berlawanan dengan pertanyaanmu yang pertama?”

“Iya, Mbak. Justru pertanyaan kedua ini yang saya lebih pingin tahu jawabnya. Kenapa saya koq jadi meleleh?”

“Hahaha, baik, baik… Ini bisa jadi karena kehadiran emosi langsung. Ketika dia dekat, kau mungkin merasakan energi emosional lebih kuat. Kau mungkin merasa terpengaruh oleh ekspresi wajahnya, intonasi suaranya, dan bahasa tubuhnya. Ini membuat kau tidak jadi atau bahkan tidak berani marah padanya.”

“Iya juga, sih.”

Saya melanjutkan, “Faktor sosial juga berpengaruh. Saat dia mendekatimu atau duduk di sebelahmu, norma sosial dan etiket sosial bisa mempengaruhi responsmu. Kau mungkin merasa perlu menjaga kesopanan dan menjaga suasana nyaman dalam interaksi sosial.”

“Ehm, iya. Malu pada orang-orang lain di sekitar.”

Saya lanutkan lagi, “Terus, ada juga faktor empati. Ketika dia dekat, ada peluang bagimu untuk melihat dia sebagai manusia yang kompleks dengan perasaan, kelemahan, kelebihan, dan motivasi dia sendiri. Kau mungkin mulai mempertimbangkan kondisi berdasarkan perspektif dia, mencoba memahami alasan di balik perilaku dia. Lalu kau berfikir dan menyadari, kemarahanmu mungkin tidak sepenuhnya beralasan. Ini dapat memicu perasaan empati dan pengertian yang dapat mengurangi intensitas kemarahan.”

“Eh, iya. Ini sering terjadi.”

“Betul yang ini sering terjadi?”

“Iya. Beberapa kali.”

“Priti, jawab yang jujur ya; kau ini marah karena memang harus marah pada dia atau marah karena jatuh cinta?”

…..

Facebook Comments

Comments are closed.