Dokter Obgyn Milenial Ini Melayani Daerah Terpencil Papua Barat

mepnews.id – Saat sejumlah dokter spesialis datang dan pergi, dr Amira Abdat SpOG rela mengabdikan diri dan menjadi satu-satunya dokter spesialis kandungan di Fakfak, Papua Barat.

Ia menuntaskan studi S1 kedokteran di Universitas Trisakti 2012. Pada 2013 hingga 2015 ia menjadi dokter umum dan ditempatkan di puskesmas pelosok FakFak. Lalu, ia mendapat beasiswa dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada 2015 untuk melanjutkan pendidikan spesialis di Universitas Airlangga.

Dr Almira Abdat SpOG

“Saya mengamati, dokter spesialis kandungan di Fakfak tidak ada yang menetap. Seperti ada dan tiada. Dengan segala urgensi yang ada, saya belum cukup ilmu untuk menggantikannya kalau itu. Maka, saya melanjutkan spesialis di Unair 2015 hingga 2020. Selepas pendidikan hingga hari ini, saya mengabdikan diri di Fakfak,” jelasnya.

Ia melaporkan, dari 95 ribu penduduk Fakfak, 50 persen perempuan. Akses pemeriksaan kehamilan masih sulit, kekerasan seksual banyak, hingga meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

“Kehadiran kami, selain pengobatan, juga penyuluhan terkait seks pra-nikah. Dari fenomena yang ada, kebanyakan saat hamil anak ketiga, sang ibu baru dinikahi suami. Itu pun secara siri dan sudah dinormalisasi. Terlepas dari minimnya hiburan, mereka melakukan hubungan seksual tanpa dibekali pengetahuan,” paparnya.

Kondisi itu diperparah dengan penolakan penduduk terhadap dokter maupun tenaga medis. Sebab, penduduk lebih tertarik ke dukun daripada tempat pelayanan kesehatan. Itu tak mengherankan lantaran jarak dari kampung ke kota menghabiskan waktu berjam-jam.

Banyak penduduk belum memiliki kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). “Jangankan BPJS, akta kelahiran, kartu keluarga dan berkas administratif lainnya saja mereka cenderung belum memiliki,” kata pemilik akun instagram @amira.abdat19 itu.

Dokter asal Bogor ini memaparkan, RSUD Fakfak bertipe C dengan alat kesehatan sesuai standar akreditasi dan memiliki empat dokter dasar. Antara lain dokter bedah, penyakit dalam, kandungan, dan anak.

Bagi Amira, meski fasilitas belum sempurna tapi terbilang cukup lengkap. Masalahnya terletak di keterpencilan penduduk yang tinggal di pedalaman atau kepulauan.

Lalu, hadir Gerakan Jemput Bola yang diinisiasi Amira bersama tim untuk melayani pasien hingga pedalaman yang tidak terjangkau puskesmas. Pihaknya selama 4-6 jam melewati perjalanan laut menggunakan perahu bermuatan lima orang. Berhadapan dengan angin kencang, ombak, hujan deras sembari membawa bensin genset untuk alat USG karena tidak ada listrik.

Ia mengatakan, persalinan itu melibatkan dua nyawa. “Kami datang untuk merangkul mama biang (dukun), ibu kader, dan ibu hamil sebagai keluarga. Sebelum ke pasien, kami menjalin kedekatan emosional dengan mama biang-nya dengan memberikan forceps, underpad, dan alat persalinan steril lainnya.”

“Walaupun kita tidak menganjurkan mereka lahir di rumah, tetapi setidaknya dalam kondisi emergency ini mama biang bisa menangani. Selain itu, dalam tim saya ada orang dinkes yang siap bergerak untuk membantu administrasi termasuk BPJS. Jadi, sambil menyelam minum air,” ujarnya.

Selain terjun ke lapangan, ia juga melakukan edukasi kesehatan lewat medsos.

Seiring berjalannya waktu, pelayanan door to door dan heart to heart membuahkan hasil. Tak ayal, 60 persen Angka Kematian Ibu dan Anak (AKI) teratasi. Para mama biang-pun teredukasi.

Lalu sebagai rasa syukur, pasien yang melahirkan-pun banyak yang memberi nama anaknya Amira.

Dalam prosesnya, Almora menyebut Gerakan Jemput Bola itu program adopsi dari pengajar-pengajarnya di Unait. Ia ingat betul pesan guru besarnya. ‘Di mana kau pergi, ada Airlangga di pundakmu. Airlangga mengajarkan agar bekerja dengan tulus dan ikhlas tanpa berpikir materi. Niscaya rezeki akan menanti.’

“Meski saya di sini seorang diri, tetapi tidak pernah merasa sendiri. Karena guru-guru saya di Unait kerap memberi kabar dan menawarkan bantuan. Jadi, jangan pernah menyerah pada keadaan. Segelap-gelap jalan, pasti di ujungnya ada cahaya yaitu cahaya diri sendiri. Tidak harus jadi sempurna, cukuplah jadi berguna bagi sesama,” pesannya.

Ia juga berpesan kepada tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan yang berada di kota besar. Agar bisa merangkul tempat terpencil, di Papua, Papua Barat atau daerah lainnya yang masih membutuhkan tenaga kesehatan. “Stigma papua penuh konflik akan patah jika berada di sini, karena komunikasi menjadi kunci,” tuturnya. (*)

 

Facebook Comments

Comments are closed.