Hanya Beberapa Menit; Puncak Kekep Wonosalam

Oleh: Alif A. Lazuardi

mepnews.id – Dulu, saya bayangkan puncak gunung itu tinggi dan susah untuk didaki. Tapi, itu dulu. Seiring kemajuan zaman dan teknologi, sekarang di puncak gunung pun tersedia wi-fi dan warung kopi.

Perjalanan saya ke puncak gunung Kekep di Kecamatan Wonosalam, Jombang, sebenarnya tanpa rencana. Acara inti saya dolan ke Sinai Café di Kawasan Saeida Estate. Setelah bersantai sejenak, saya diajak Pak Boss Jamaludin untuk ‘muncak’.

“Nggak jauh, dari sini. Paling setengah jam,” kata dia sambil menyiapkan Scoopy yang biasa dipakai menjelajah kawasan pegunungan.

Saya pun segera mengikuti.

Dari Sinai Café di Jalan Kelud, kami bergerak sekitar sepuluh menit ke arah Pasar Wage di Notorejo. Di perempatan depan pasar, kami belok kanan ke Jalan Anjasmoro. Mengikuti jalan agak berkelok, kami sampai di tower. Kami belok kiri ke jalan desa di Dusun Mangirejo.

Rupanya, motor yang saya kendarai sudah mulai masuk punggung Gunung Kekep. Tanda-tandanya, jalan makin menanjak dan berkelok-kelok. Awalnya jalan aspal, kini jalan semen atau jalan batu. Tentu saja, guncangan di motor semakin terasa.

“Tenang. Sebentar lagi lewat jalur tanah,” kata Om Jambul, julukan Pak Boss Jamaluddin.

“Hahaha, siap. Pulang muncak, motor harus masuk bengkel nih,” jawabku.

Benar juga, tanjakan terakhir berupa tanah yang samping kirinya pagar atau tanaman penduduk dan sisi kanannya jurang. Sementara, jalan tanahnya licin dan becek karena masih dalam suasana hujan. Untungnya, sudut tanjakannya tidak terlalu mengerikan dan jaraknya juga sekitar sekilometer.

Sambil menikmati suara bodi motor yang kejedot batu atau ban yang terpeleset tanah licin, saya menikmati pemandangan di samping kanan. Tampak punggung bukit menghijau yang kala itu sudah tertutup kabut putih lumayan tebal.

Beberapa menit kemudian, saya mendekati puncak dan tampak beberapa bangunan. Sampai di puncak, ada lahan terbuka untuk parkir, ada mushola dan ruang untuk bersuci, dan ada tempat yang sudah disemen untuk menikmati puncak. Tempat itu rupanya pernah digunakan sebagai tempat upacara, karena ada sisa-sisa bendera Merah-Putih.

Sejenak saya menikmati view Gunung Anjasmoro yang kala itu lumayan berkabut sehingga agak sulit mendapatkan detailnya. Gunung Anjasmoro seolah punya anak-anak gunung lebih kecil di sekitarnya. Selain puncak Kekep, ada juga puncak Cemorosewu, Seloringgit, Alang-alang, Tapakbunder, bahkan ada juga Gunung Kuncung.

Oh, ya. Jangan khawatir jika tidak bawa bekal di sini, asal bawa uang. Sedikit di bawah panggung/musholla, ada warung kopi yang juga menyediakan menu mie dan sejenisnya. Minta password wifi juga bisa. Mau live report dari sini, gampang.

Ke puncak Kekep, tantangannya biasa-biasa saja. Cocok untuk pendaki pemula atau yang baru belajar mendaki. Tapi, di sini, saya bisa mendapatkan view pegunungan sebagaimana layaknya pegunungan lain, mudah dapat fasilitas, tak perlu capek-capek jalan kaki, perjalanannya tak terlalu lama. Meski demikian, saya perlu ngajak motor untuk pijet sejenak di bengkel.

Total perjalanan bermotor dari Saeida Estate sekitar 30 menit, nongkrong di puncak sekitar 15 menit, lalu turun hingga pulang ke Surabaya sekitar 150 menit.

Facebook Comments

Comments are closed.