Teknik Imaji Mental untuk Menambah Rasa Percaya Diri

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada siswa pindahan antar pulau dari daerah terpencil ke kota besar. Menurut data dari SMA asal, murid ini cukup menonjol di sekolah dan lingkungannya. Namun, hingga enam bulan di sekolah baru, ia belum juga bisa menyesuaikan diri.

Dari pengamatan saya, siswa ini tidak hanya pemalu tapi juga kurang percaya diri. Setelah beberapa kali saya ajak ngobrol, siswa ini mengaku ada begitu banyak hal yang ia kurang bisa menyesuaikan diri. Bukan cuma sistem persekolahan, bahkan urusan makan dan pakaian saja ia merasa berbeda.

Karena fisik dan kultur berbeda, ia kesulitan menggunakan beberapa fasilitas sekolah baru, menjadi malu tampil di depan kelas, tidak merasa nyaman bergaul saat istirahat, hingga catatan akademiknya juga menurun. Maka, agar ia tidak jadi frustasi, saya mencoba membantunya secara psikologis.

———–

Pembaca yang budiman, saya berharap Anda cepat beradaptasi saat menghadapi lingkungan baru. Namun, saya tidak memungkiri kemungkinan Anda juga bisa saja jadi kurang percaya diri saat lingkungan barus itu benar-benar beda dengan yang Anda jalani sebelumnya.

Nah, jika yang terakhir itu yang terjadi, saya kutip hasil studi ilmiah tentang teknik imaji mental untuk menambah percaya diri. Teknik mental imagery alias imaji mental alias citra mental adalah proses multi-indera saat kita menggunakan imajinasi untuk menciptakan pemandangan, penciuman, perasaan, rasa, dan suara yang terkait dengan suatu pengalaman.

Dalam kasus siswa pindahan tadi, saya sarankan ia untuk mengembangkan imaji mental sebagai anak yang berani menghadapi masalah dan percaya diri. Saya minta ia membayangkan secara spesifik tentang detailnya. Membayangkan sehidup mungkin lengkap dengan warnanya, bunyinya, rasanya, dan lain-lain.

untuk mengimajinasikan diri, saya pancing ia dengan pertanyaan-pertanyaan; Mengapa Anda ingin percaya diri? Mengapa harus bersikap seperti itu? Siapa saja yang harus bisa menerima dia apa adanya? Sampai pada petanyaan kunci; Bagaimana kau ingin diterima oleh mereka? Saya juga minta ia membayangkan reaksi apa yang ingin ia dapatkan dari orang-orang sekitar. Bayangan yang sehidup-hidupnya; kalau bisa lebih hidup daripada film layar lebar 3-D.

Imaji mental diupayakan yang sejelas-jelasnya, sehidup-hidupnya, hingga mirip kenyataan.

Mengapa harus imaji sehidup-hidupnya? Albert Einstein pernah mengungkapkan, “Imajinasi adalah segalanya. Imajinasi adalah pratinjau bagi daya tarik kehidupan yang akan datang.” Maka, miliki keberanian untuk membayangkan kepribadian baru sebagai diri yang percaya diri di masa datang.

Berikutnya, begitu memiliki imaji tentang bagaimana ia ingin berperilaku atau diperlakukan dalam situasi tertentu, saya dorong ia untuk memberanikan diri mempercayai imajinasinya. Itu bukan lagi mimpi, bukan khayalan, melainkan suatu keyakinan yang ia akan bisa wujudkan di dunia. Dengan kata lain, ubah imajinasi menjadi keyakinan kokoh. Jika ia mengimajinasikan diri sebagai siswa yang percaya diri, maka ia harus yakin itu. Seolah-olah tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat menghalangi ia untuk yakin bahwa dirinya sangat percaya diri.

Setelah punya keyakinan kuat, langkah terakhir adalah bertindak. Ia hrus siap menjalani proses belajar bagaimana menjadi, merasakan, dan bertindak betul-betul percaya diri sebagaimana yang ia imajinasikan. Intinya, ia mempelajari bagaimana menjadi diri yang baru yang sudah dibayangkan sebelumnya.

Proses perubahan menjadi pribadi yang diimajinasikan itu melelahkan, menyakitkan, dan tidak mudah. Tapi, setidaknya ia sudah punya bekal kondisi diri apa yang hendak dicapai agar bisa diterima orang lain dalam kondisi itu. Bekal berupa imaji itu sudah tertanam di alam bawah sadarnya. Maka, bila perlu, ia harus siap mengubah kebiasaan, mengubah cara berbicara, dan lain-lain.

Perubahan menuju kondisi yang diimajinasikan itu pasti muncul. Biar perlahan, tapi pasti, sepanjang ia mempelajari prosesnya dan iklhas menjalaninya. Tentu saja, selalu minta kekuatan dari Tuhan untuk melancarkan segenap upaya menuju perobahan yang lebih baik.

Facebook Comments

Comments are closed.