Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Baiklah, karena nggak ada yang ngajak curhat soal ini atau itu, saya ingin menulis sesuatu berdasarkan keinginan saya sendiri. Tentang bahagia. Tentang hal yang sederhana sekaligus rumit. Sederhana karena bahagia itu dekat dengan kita semua. Rumit karena persepsi setiap orang berbeda tentang bahagia.
Di era ketika dunia terasa kacau dan rumit, atau hanya karena stres yang Anda hadapi di tempat kerja atau di rumah, maka kebahagiaan menjadi adalah prioritas utama. Orang sangat menginginkan kebahagiaan meski kadang tidak tahu cara mendapatkan atau memupuknya.
Nah, ada beberapa penelitian ilmiah tentang bagaiman cara mendapatkan kebahagiaan. Apa saja itu?
Soal kebahagiaan, ada suatu paradoks. Jika memburu kebahagiaan, kemungkinan kecil Anda bisa meraihnya. Tapi, jika Anda menciptakan kondisi terkait rasa bahagia, maka kebahagiaan demi kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.
Mengapa begitu? Kalau mengejar kebahagiaan, yang ada dalam benak Anda adalah apa yang tidak Anda miliki. Itu membuat Anda fokus hanya pada keinginan dan nafsu. Tapi, jika membuka hati untuk ikhlas menerima apa yang Anda miliki, maka perasaan bahagia akan datang menghampiri.
Jika ingin bahagia, Anda juga sebaiknya menggunakan waktu untuk aktivitas yang menenangkan dan memulihkan kondisi tubuh. Penelitian di University of Nottingham menemukan, ketika menghabiskan waktu untuk hobi atau sesuatu yang Anda sukai maka rasa bahagia segera datang. Tidur untuk memulihkan kondisi tubuh dan mental juga cara bagus untuk meningkatkan kebahagiaan. Penelitian di University of Colorado menemukan, menyetel alarm untuk bangun satu jam lebih awal setiap hari (dengan asumsi Anda cukup tidur), juga berkorelasi dengan kebahagiaan. Anda lebih bisa mengatur waktu dan dapat mengisi hari dengan lebih banyak hal yang Anda sukai.
Kondisi bahagia juga bisa didapat saat Anda mencari pengalaman bermakna. Meski bisa beli barang atau benda, uang yang dibelanjakan untuk pengalaman seru jauh lebih mungkin menghasilkan kebahagiaan atau memori bahagia. Beli barang umumnya hanya memberi kepuasan sekilas, namun membeli pengalaman bisa menggerakkan berbagai bagian sirkuit otak sensorik Anda dari waktu ke waktu. Anda, yang hidup di daerah tropis, bertualang mengejar paus sampai di perairan dekat Alaska. Anda bisa menikmati dinginnya lautan beku, nikmatnya makanan kalengan di kapal, hingga menyaksikan sendiri deburan ombak akibat hempasan ekor paus raksasa. Pengalaman menakjubkan semacam ini membuat kenangan membahagiakan yang lebih tahan lama daripada yang bisa diberikan benda.
Selain pengalaman, makanan juga membuat bahagia. Bagaimana bisa bisa bahagia jika perut keroncongan? Selain makan saat lapar, yang membawa rasa bahagi itu juga makan makanan sehat. Studi di University of Warwick menemukan, konsumsi lebih besar buah dan sayuran berkorelasi dengan kebahagiaan lebih besar. Studi di University of Leeds berhipotesis bahwa kehadiran karotenoid lebih besar dalam darah berkontribusi pada perasaan sejahtera subjektif lebih besar ketika orang makan sehat.
Jalan menuju kebahagiaan lainnya adalah hubungan yang kuat dengan orang lain. Hasil penelitian yang diterbitkan Social Psychological and Personality Science menunjukkan, orang yang mendahulukan kebutuhan anak-anak di atas kebutuhannya sendiri bisa merasakan kebahagiaan lebih besar. Investasi ikhlas dalam kesejahteraan anak dengan cara menunjukkan cinta tanpa syarat ternyata bisa menumbuhkan kebahagiaan lebih besar.
Menjadi sukarelawan untuk komunitas juga bisa memberi kebahagiaan lebih besar. Naluri untuk peduli dan menyumbangkan sesuatu pada komunitas bisa berbuah kebahagiaan. Penelitian di University of Illinois menemukan, ketika orang melihat orang lain kebutuhannya terpenuhi maka ia sendiri turut menjadi merasa lebih bahagia.
Bagaimana dengan uang? Apakah uang bisa membahagiakan? Tentu saja lihat kondisinya dahulu. Ada yang bilang, jika punya uang maka kita bisa membeli kebutuhan dan keinginan sehingga merasa bahagia. Tapi, ada juga yang bilang uang tidak dapat membeli kebahagiaan.
Setiap orang membutuhkan tingkat pendapatan tertentu untuk memastikan keamanan pangan, sandang dan papan yang memadai. Tapi, ini hanya menghasilkan kepuasan dasar. Di luar ambang ini, uang tidak bisa membeli kebahagiaan tambahan. Ketika masih miskin, uang menjanjikan kebahagiaan. Ketika sudah sangat kaya, uang jadi tidak terasa bermakna. Uang jadi membahagiakan jika digunakan untuk mengurangi penderitaan atau meningkatkan kebahagiaan orang lain.
Cara-cara ilmiah untuk menjadi bahagia itu ditulis oleh Tracy Brower PhD pakar sosiologi yang fokus pada kebahagiaan kerja dan kehidupan sehari-hari. Ia juga penulis buku The Secrets to Happiness at Work dan Bring Work to Life by Bringing Life to Work.
Kalau menurut saya, bahagia itu jika selamat di dunia dan akhirat. Saya sependapat dengan tulisan Brower, karena faktor-faktor penentu kebahagiaan itu juga diajarkan dalam agama saya. Bahasanya saja yang beda.


