Menikmati Kasoami di Tanah Rantau

Oleh: Bowan Pinuke

mepnews.id – Balikpapan, tempat aku tinggal, adalah salah satu kota tujuan para pendatang. Tak pelak, ada banyak suku dan budaya serta jenis makanan di kota terbesar di Kalimantan itu. Untuk kuliner, di Balikpapan ada banyak ragam. Bahkan, untuk soto saja, ada soto banjar, soto jawa, soto betawi, coto makasar, dan lain-lain.

Nah, aku mau bercerita tentang kasoami makanan khas Buton yang juga ada di Balikpapan. Makanan ini kadang juga disebut kasuami (bukan kak suami, ya). Orang juga biasa menyebutnya kantofi.

Kasoami dikenal sebagai simbol persaudaraan dan keakraban orang Buton. Ketika keluarga besar berkumpul, biasanya mereka bareng-bareng memasak kasoami. Meski ada sajian khas lain seperti epu-epu, kambewe, bagea, hingga baruasa, tapi proses pembuatan yang paling rumit adalah kasoami.

Nama kasoami bisa jadi karena parutan singkong diolah dengan uap panas (soa). Memang, makanan pengganti nasi ini berasal dari singkong atau ubi kayu diparut. Memarutnya pakai kaleng yang dibentuk setengah lingkaran. Kaleng itu dilubangi paku dengan jarak jarang-jarang. Ini agar hasil parutannya lebih panjang.

Parutan panjang lebih mudah mengeluarkan air saat diperas. Lalu, parutan singkong dimasukkan ke dalam karung beras dan diperas sekuat tenaga agar benar-benar terpisah antara ampas dan airnya. Nah, pemerasan ini butuh tenaga ekstra laki-laki.

Tepung singkong akan dikukus.

Ampasnya dicetak pakai lingkaran bagian atas bekas kaleng biskuit. Setelah masuk cetakan, tepung singkong dimasak dengan cara dikukus. Agar berbentuk kerucut, cetakannya berupa anyaman kerucut daun kelapa.

Kasoami yang sudah matang rasanya gurih. Orang bisa menikmatinya pakai kuah bumbu kuning. Bisa juga dengan ikan bakar dengan cocolan sambal atau ikan asin. Hmmm…. mantap dah.

Facebook Comments

Comments are closed.