Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM
mepnews.id – “Akhirnya kau merokok juga. Ha..haa..ha…, isapan pertama. Kenapa nggak dari dulu?” kata Fulan.
Fulin, yang masih terbatuk-batuk tersedak asap, hanya menunjukkan ekspresi pasrah. Ia memandangi Fulan dan Fulun seolah meminta persetujuan apakah merokoknya sudah benar.
Fulin sebenarnya bukan perokok. Dalam keluarganya, bahkan keluarga besarnya, tidak ada yang merokok. Guru-guru di sekolah pun selalu mengingatkan para siswa untuk menjauhi merokok. Tapi, mengapa ia akhirnya merokok juga?
Nah, di sini ada faktor peer pressure atau peer influence. Itu adalah tekanan atau pengaruh dari teman-teman dalam kelompoknya. Si Fulin berusaha menyesuaikan diri agar dapat diterima oleh kelompoknya. Karena Fulan dan Fulun merokok, ia terpengaruh atau terpaksa untuk merokok juga.
Para pembaca yang budiman, kita perlu mengawasi anak kita dari teman-teman pergaulannya. Alasannya, peer influence dan peer pressure ini bisa positif atau bisa juga negatif. Positif jika teman-teman kelompoknya mendorong anak untuk tumbuh secara benar. Misalnya, berkompetisi mendapat nilai bagus di sekolah. Negatif jika teman-teman kelompok mengarahkan anak ke hal-hal yang tidak baik. Contohnya ya Fulan, Fulin, dan Fulun di atas.
Kapan kita harus khawatir?
Jika tampak perubahan drastis anak dalam hal suasana hati, perilaku, pola makan atau pola tidur. Beberapa perubahan biasanya normal bagi anak yang sedang dalam proses tertumbuhan dan perkembangan. Tetapi jika perubahan itu cenderung buruk selama lebih dari dua minggu, atau perubahan itu menghalangi hal-hal baik yang biasanya dinikmati si anak, maka kita perlu waspada.
Tanda-tanda perubahan negatif itu antara lain;
- suasana hati yang rendah, tiba-tiba berlinang air mata atau muncul perasaan putus asa
- muncul perilaku agresif atau antisosial yang tidak biasa
- perubahan perilaku yang tiba-tiba, seringkali tanpa alasan jelas
- kesulitan tidur, terus-menerus tidur atau sering bangun sebelum waktunya
- kehilangan nafsu makan atau justru makan berlebihan
- enggan bersekolah
- menarik diri dari aktivitas yang biasa disukai
- tiba-tiba bilang ingin menyerah, atau berkata hidupnya tidak layak dijalani.
- dan sejenisnya.
Kalau sudah begitu, kita perlu ambil tindakan. Kita harus mengarahkan anak untuk mendapatkan keseimbangan antara menjadi dirinya sendiri dan menyesuaikan diri dengan teman-teman kelompoknya. Jika memang teman-temannya tidak cocok, kita bisa memisahkan si anak dari mereka lalu membawanya ke lingkungan yang lebih cocok.
Bisa saja, misalnya, dengan cara pindah sekolah atau pindah tempat tinggal. Jika terlalu berat, kita harus menjadi lebih terlibat dengan anak, memberinya benteng mental lebih kuat, memberinya kepercayaan diri, sehingga tidak perlu ikut-ikutan teman untuk sekadar agar dianggap hebat.


