Curhat Itu Bisa Jadi Obat buat Kesehatan Mental

mepnews.id – Punya masalah? Ya segera uraikan dan kemudian selesaikan. Jika belum segera bisa menguraikan, maka sekadar curhat bisa cukup untuk meringankan beban pikiran.

Hati-hati jika punya masalah namun enggan atau sulit menceritakannya pada orang lain. Jika tak tersalurkan, itu bisa menjadi pikiran mendalam. Bisa berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dari kesehatan, konsentrasi hingga timbul rasa bunuh diri. Nah, tuh…

Atika Dian Ariana MSc MPsi, pakar psikologi Universitas Airlangga.

Atika Dian Ariana MSc MPsi, pakar psikologi Universitas Airlangga (Unair), membeberkan, kadang kemampuan diri tak sebanding dengan tekanan yang dialami. Masalah yang bertumpuk lambat laun menjadikan pikiran jenuh. Lama-lama, itu bisa menimbulkan stres.

“Masalah itu hanya bertumpuk di kepala. Kita jadi terpaku pada persoalan itu. Maka, kita mengalami overthinking atau stress,” katanya.

Dosen Fakultas Psikologi tersebut  mengungkapkan, berbagai dampak kesehatan dan psikis dapat timbul saat seseorang stres karena menahan cerita. Antara laun menurunnya daya tahan tubuh, menurunnya konsentrasi dan meningkatnya sensitivitas.

“Gejala kesehatan fisik antara lain mudah lelah, penurunan kekuatan otot kaki. Gejala psikis antara lain sulit berkonsentrasi, semangat menurun dan semakin sensitif. Jadi gampang tersinggung, mudah marah, atau muncul perasaan kesepian,” ungkapnya.

Terus, babaimana baiknya?

Cara paling mudah, murah, namun cukup efektif adalah berbagi cerita atau curhat. Menurut Atika, curhat akan menjadi salah satu obat bagi orang yang banyak tertekan. Dengan curhat, bisa muncul perspektif baru dari berbagai solusi yang mungkin dapat dicoba untuk menguraikan masalah.

“Dengan membagikan cerita, kita akan memiliki perspektif berbeda dari apa yang kita alami. Kita bisa melihat persoalan lebih objektif. Kalau kita diam saja, pintu solusi  mungkin akan tertutup. Itu karena kita terpaku hanya pada perspektif yang kita gunakan,” katanya.

Selain membuka perspektif baru bagi masalah yang dihadapi, orang akan merasakan lega setelah bercerita. Masalah yang lama terpendam akhirnya dapat dikeluarkan dari pikirannya.

Meski demikian, walau orang lain telah memberikan saran, kunci penyelesaian masalah tetap ada pada diri sendiri. “Yang akan mengeksekusi solusi harus kita sendiri. Orang lain cukup memberi ide.”

Namun, ada beberapa individu yang mungkin memang tidak ingin bercerita pada orang lain. Bisa jadi, ia merasa kurang percaya terhadap orang lain.

Trust Issue semacam ini dapat terjadi pada orang yang pernah punya pengalaman kurang menyenangkan dalam berelasi.

Pada umumnya, seseorang yang mengalami trust issue akan menganggap dirinya sendiri kurang berharga. Jika mendapatkan respon menyakitkan dari orang lain, ia merasa wajar. Maka, individu semacam perlu terlebih dahulu membangun kepercayaan dirinya.

“Yang perlu dibangun adalah percaya bahwa dirinya cukup layak dan berharga, sehingga ia memiliki daya untuk membangun rasa percaya pada orang lain secara perlahan,” kata Atika.

“Caranya, bisa melalui afirmasi, evaluasi yang berimbang, dan memberikan kalimat positif bagi diri sendiri,” tambahnya.

Apabila tidak memiliki seseorang yang dirasa tepat untuk curhat, bisa juga memanfaatkan kemudahan teknologi informasi. Ada berbagai layanan kesehatan mental digital yang dapat diakses melalui perangkat komunikasi.

“Banyak layanan konseling online yang dapat dipakai, jika tak merasa nyaman pada orang yang kita kenal,” jelasnya.

Atika berharap masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan mental, karena kesehatan mental itu tanggung jawab diri kita sendiri. (*)

Facebook Comments

Comments are closed.