Oleh: Nani Rahayu Wulandari
mepnews.id – Halaman rumah ini terlihat asri, terutama di pagi hari, karena bunga-bunga bermekaran indah warna-warni. Di lingkungan rumah banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang. Ada hutan jati percontohan milik Perhutani yang membuat oksigen tersedia cukup.
Di antara tanaman dan bunga berwarna-warni, ada kotak-kotak kayu yang di dalamnya dipenuhi lebah-lebah penghasil madu. Lebah-lebah itu hinggap dari satu bunga ke bunga lain dan kembali masuk ke dalam kotak kayu untuk menyimpan sari bunga yang telah mereka kumpulkan.
Lebah adalah salah satu dari banyak makhluk yang diciptakan Tuhan dengan sifat dan cara hidup yang bisa menjadi inspirasi kehidupan manusia. Lebah selalu hidup di tempat yang bersih dan menyerap zat yang bersih, memilih bunga-bunga untuk memperoleh bahan baku madunya. Setiap hinggap di atas bunga-bunga, lebah tak pernah merusak keindahannya namun malah membuat membantu proses penyerbukan bunga.
Yang menarik, ada perbedaan dari lebah-lebah dalam kotak-kotak kayu tersebut. Beda secara ukuran, beda bentuk sarang , jenis makanan yang berbeda, sampai beda rasa madu yang dihasilkan. Ada madu yang rasanya pahit, manis dan asam, atau perpaduan dari semua rasa.
Mas Ardin, pemilik peternakan lebah di halaman rumahnya, menjelaskan tidak semua lebah mengambil makanan dari sari bunga. Ada juga lebah yang mengambil getah pohon atau bunga dari satu jenis tanaman, misalnya kayu putih atau randu.
Lebah penghasil madu dengan rasa pahit mempunyai bentuk unik. Lebah ini mempunyai ukuran kecil dan berwarna hitam. Dia mengambil getah dari bermacam pohon kemudian dibawa masuk ke dalam sarang yang bentuk dan warnannya juga unik. Madu yang dihasilkan lebah hitam ini juga dimininati masyarakat. Harganya pun relatif lebih mahal karena kandungan propolisnya lebih besar dibandingkan madu jenis lain. Masyarakat biasa menyebutnya madu klanceng atau jenis Trigona itama.
Selain lebah penghasil madu pahit, ada juga lebah penghasil madu dengan rasa manis dan asam. Lebah ini mempunyai bentuk seperti lebah pada umumnya. Sarangnya mempunyai ruangan-ruangan berbentuk segienam untuk menyimpan produksi madunya. Madu dari lebah jenis Apis mellifera ini rasanya cenderung manis dan sedikit asam.
Lebah mengambil makanan dari sari bunga-bunga. Sari bunga yang diambil mempengaruhi warna madu yang dihasilkan. Apabila sari bunga kopi yang diambil, madu yang dihasilakan berwarna hitam. Bila bunga kayu putih yang diambil sebagai makanan, maka madunya berwarna putih. Begitupun bila jika lebah mengambil jenis bunga-bunga lain, warna madunya menyesuaikan.
Tentu, beternak lebah bukan keahlian yang langsung bisa tanpa belajar. Peternak harus mempelajari banyak hal; dari kehidupan lebah sampai menghasilkan madu. Nah, madu inibisa dijadikan makanan sekaligus obat penyembuh berbagai penyakit, seperti yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an. Butuh waktu tidak sebentar untuk jadi tahu banyak hal tentang kehidupan lebah, termasuk cara panen dan pengolahan madu sampai bisa dikonsumsi.
Menurut pengalaman Mas Ardin, butuh waktu sekitar dua tahun untuk mempelajari kehidupan lebah. Beliau belajar dari temannya yang tinggal di Jawa Barat. Waktu itu, sambil belajar, beliau membantu memasarkan madu hasil peternkaan lebah milik temannya. Sampai akhirnya tertarik mencoba budidaya sendiri.
Dengan kemampuan dan keahliannya, Mas Ardin banyak diundang mengisi acara di beberapa tempat. Beberapa kali juga beritanya mengisi halaman Koran Bojonegoroan. Rupanya tak sia-sia beliau mengambil keputusan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dulu. Sekarang beliau tinggal menuai hasilnya.
Ada beberapa tempat peternakan lebah yang sudah beliau punyai. Rencana, akan ditambah lagi di beberapa tempat. Pertimbangannya, tidak butuh tenaga banyak untuk beternak lebah. Tidak seperti beternak ayam yang butuh perawatan ekstra.
Kini, rumah di Jl. Angling Dharma RT. 12 RW. 02 Desa Kalitidu Kecamatan Kalitidu, sekitar 15 km di sebelah barat Kota Bojonegoro, tempat tinggal Mas Ardin bersama orang tuanya, banyak didatangi masyarakat dari berbagai daerah. Mereka datang untuk melihat secara langsung peternakan dan mencari informasi bagaimana cara beternak lebah sekaligus cara pengolahan madu sampai bisa dikonsumsi.
Di tempat ini kita juga bisa incip-incip rasa madu sehingga kita jadi tahu hasil dari bermacam lebah. Mungkin banyak yang mengira madu itu mempunyai rasa manis saja, dan menganggap madu yang rasanya asam sudah tidak bisa dikonsumsi karena basi. Padahal, madu bisa bertahan sampai jangka waktu sangat lama tanpa basi.
Botol-botol yang sudah diisi madu dari bermacam-macam lebah tadi ditata rapi di atas meja. Botol-botol dengan ukuran berbeda ditandai dengan label sesuai jenis madunya. Ada drum besar berisi madu Mellifera yang sudah diproses dari sarang dan diperas kemudian disaring untuk membersihkan lebah-lebah mati yang tercampur. Prosesnya juga sangat steril. Madu dimasukkan ke dalam botol dengan tutup bersegel.
Kita bisa membeli sesuai keinginan dan kebutuhan, bisa juga untuk oleh-oleh. Harganya juga terjangakau karena lebih murah daripada harga pasar. Tidak hanya madu yang bisa dibeli di sini. Bagi yang tertarik budidaya lebah, bisa mendapatkan bibitnya juga.
Berbagai jenis bunga ditanam di sekitar rumah-rumah lebah itu. Dari jenis tanaman hias sampai tanaman liar yang biasa tumbuh di pinggiran hutan. Bunga-bunga ditata sedemikian rupa sehingga enak dipandang. Semua terlihat cantik. Setiap pagi dan sore, tanaman-tanaman itu disiram sehingga bunga-bunga selalu tampak segar dan tak mudah kering atau rontok.
Ada banyak kata-kata khas Jonegoroan yang ditulis di kulit-kulit kayu dan ditempel rapi di pojok atau titik tertentu. Pengunjung bisa foto selfi sepuasnya di tempat ini. Hasilnya keren sekali, dan pantas diunggah di media sosial.
Rumah madu milik Mas Ardin ini bisa dijadikan rujukan sebagai salah satu tempat rekreasi edukatif bagi masyarakat. Pengunjung bisa belajar sambil belanja juga mencari hiburan. Tentu sangat cocok untuk tempat rekreasi keluarga. Selain agak jauh dari keramaian, udara di lingkungan ini bebas polusi.
- Penulis adalah kepala PAUD TKIT Mutiara Hati di Desa Kalitidu, Kecatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.


