Oleh: Yuliyani
mepnews.id – Sitiaji. Itulah nama desaku. Terletak di Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, wilayah bagian selatan. Berdasarkan letak geografisnya, sebelah utara dan barat Desa Sitiaji ada Desa Tegalkodo. Sebelah timur, Ditiaji berbatasan dengan Desa Purwoasri dan Desa Genjor. Di sebelah selatan, berbatasan dengan Desa Balongrejo.
Dari namanya, desa ini terdengar ‘wah’ di telinga. Bagaimana tidak? Secara morfologis, SITIAJI terdiri dari dua kata. SITI yang berarti lemah (Bahasa Jawa) atau Tanah. AJI artinya berharga. Jadi, Desa SITIAJI artinya desa yang tanahnya berharga.
Sitiaji adalah desa yang majemuk dan kaya potensi Sumber Daya Manusia (SDM). Majemuk dari segi mata pencaharian penduduknya (Sektor Ekonomi), Satuan Pendidikan, sampai kepercayaan yang dianut. Dari segi mata pencaharian, penduduknya juga majemuk. Mulai dari petani, pedagang, penjahit, perajin, pemulung sampai pegawai pemerintah.
Banyaknya lapangan pekerjaan menjadikan penduduk Desa Sitiaji tidak sepi dari bekerja. Dengan kata lain, tidak pernah mengangur.
Pada musim mengolah sawah, terjunlah masyarakat menjadi petani. Sambil menunggu panen, pekerjaan memisahkan tutup botol dan membuang plastik atau merk dari botol-botol bekas minuman kemasan sudah menanti. Pekerjaan ini diambil dari bos pengepul barang bekas. Harga setornya Rp. 2000/Kg. Sedangkan, bos pengepul mendapatkan setoran barang-barang bekas dari masyarakat yang pekerjaannya pemulung.
Barang bekas dari pemulung yang berdaya guna antara lain gelas minuman kemasan Ale-ale, Teh Rio, dan lain-lain. Cincin bagian atas gelas produk ini bisa diolah menjadi barang kerajinan yang bernilai ekonomis. Bisa menjadi tas, dompet, tempat minuman gelas dan tempat tisu.
Tetapi, sayang. Masyarakat Desa Sitiaji belum bisa memanfaatkannya sampai ke sana. Sementara ini, pengolahan kerajinan gelas bekas dikelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
PKBM adalah Satuan Pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan Non Formal dan Pendidikan Masyarakat. Pendidikan Non Formal seperti Pendidikan Keaksaraan yaitu Keaksaraan Fungsional (KF) dan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) serta Pendidikan Kesetaraan yaitu Program Pendidikan Kesetaraan Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA. Selain itu, PKBM juga bisa menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Pendidikan Kewirausahaan (PKW) atau Kecakapan Hidup (PKH) serta Pendidikan masyarakat lainnya.
PKBM Karya Muda, yang berdomisili di Desa Sitiaji, berusaha mengembangkan kerajinan dari gelas Ale-ale dan sejenisnya melalui Pemberdayaan Warga Belajar Paket C setara SMA Karya Muda yang berlokasi di Desa Purwoasri. Kegiatan pelatihan keterampilan kerajinan dari bahan gelas Ale-ale menghasilkan kerajinan tas, dompet dan tempat minuman. Produknya pernah dipamerkan di Pameran Hari Aksara Internasional (HAI) di Ngawi, Jawa Timur, tahun 2019.
Para pemulung masyarakat Desa Sitiaji mengumpulkan barang bekas dari berbagai desa dengan sistem barter. Barang bekas ditukar dengan berbagai barang kebutuhan. Antara lain barang pecah belah (piring, gelas, mangkok, dan sejenisnya), panci sampai bantal atau guling. Sistem barter ini disesuaikan dengan jenis barang bekasnya.
Kegiatan barter dengan bantal atau guling diambil dari produksi Desa Sitiaji sendiri, yaitu dari perajin kasur, bantal dan guling. Usaha perajin ini mulai berkembang karena sudah memiliki mesin penggiling kapuk (kapas dari buah pohon randu).
Sayangnya, usaha kerajinan ini belum mendapat manajemen yang baik sehingga masih bersifat individual. Belum terbentuk kelompok-kelompok usaha dan belum memiliki ijin operasional usaha secara resmi.
Hasil kerajinan berupa kasur, bantal dan guling masih terbatas produk ‘Rumahan’ dengan kwalitas belum ada standar. Pemasarannya juga hanya dijajakan keliling dengan sepeda motor.
Padahal, kalau ada manajemen yang baik dan tertata rapi, kerajinan ini bisa dikembangkan menjadi home industry perajin handycraft olahan kapuk. Produksinya juga bisa ditingkatkan dalam jenis, kwalitas dan kuantitasnya. Contoh peningkatan produk olahan kapuk lainnya adalah boneka, bantal kursi sofa, dan perlengkapan serta aksesoris lainnya yang diperlukan masyarakat luas.
Perajin handycraft jenis lainnya adalah keterampilan dari bahan gedebog (pelepah pisang). Hasil keterampilan ini masih terbatas berupa bahan setengah jadi yaitu dalung tampar.
Dalung tampar ini diambil para pengepul dengan harga beli Rp 2.500 – Rp 3.500 per Kg. Oleh pengepul, dalung tampar dikirim ke luar daerah jika jumlahnya sudah terkumpul banyak.
Dalung tampar akan bernilai ekonomis lebih tinggi jika diolah menjadi produk tertentu. Contoh produk dalung tampar atau gedebog pisang adalah tempat tisu, tas, dompet, peci, vas bunga, dan lain-lain. Tapi, untuk sementara ini masyarakat Sitiaji belum bisa mengolah sampai ke sana.
Begitu pula dengan usaha jahit-menjahit. Masyarakat Desa Sitiaji banyak yang bisa menjahit. Tetapi rata-rata mereka bukan menjahit untuk menghasilkan produk sendiri. Mereka lebih banyakmengambil borongan dari konveksi. Misal, menjahit saku, jilbab, dan lain-lain. Kompensasinya sangat rendah, sekitar Rp 1.000 – Rp 3.000 per bijinya. Padahal, sangat memungkinkan untuk mengembangkan jadi home industry konveksi di Desa Sitiaji sendiri.
Satuan pendidikan formal dan non formal di Desa Sitiaji juga lengkap dan banyak. PAUD formal (TK dan RA) ada empat Lembaga. SD dan MI ada 4 lembaga. MTs ada dua lembaga. Tingkat MA dan SMK ada 3 lembaga. Sedangkan, untuk satuan pendidikan non formal, ada 1 lembaga PKBM, empat lembaga PAUD Non Formal (Pos PAUD dan KB), 12 lembaga Pendidikan Diniyah dan TPQ dan 2 lembaga Pondok Pesantren.
Dari paparan tulisan ini bisa disimpulkan bahwa Desa Sitiaji memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Salah satunya menjadi sentra-sentra usaha home industry keterampilan dan kerajinan.
Hal ini bisa terwujud jika ada yang melatih, membimbing, dan memfasilitasi masyarakat, yang didukung Pemerintahan Desa dan Pemerintahan Kabupaten.
Semoga.
- Penulis adalah guru sekaligus pengelola KB Karya Muda Purwoasri, tutor Pendidikan Keaksaraan (KF dan KUM) dan Kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C, serta mengelola TBM Karya Muda, di Bojonegoro.


