Bule pun Nayub di Desa Jono, Bojonegoro

Oleh: Endang Puji Astutik

mepnews.id -Ada perpaduan yang khas antara potensi alam dan budaya dalam konsep desa wisata di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur. Perpaduan ini tidak ditemukan di desa-desa wisata lain di Bojonegoro atau bahkan mungkin di Indonesia.

Desa Jono, yang berlokasi 25 km dari kota Bojonegoro ke arah selatan, memiliki wilayah paling luas dan berpenduduk terbanyak jika dibandingkan desa lain di Kecamatan Temayang. Untuk ke sana, sangat mudah. Jika pakai kendaraan pribadi, ada jalan cukup bagus dari Bojonegoro. Bisa juga dengan bus umum jurusan Bojonegoro-Nganjuk. Di dekat lokasi, tampak tulisan mencolok di tepi barat jalan pada gapura masuk Desa Jono.

Gapura gerbang Desa Jono.

Masyarakat Desa Jono peduli kelestarian kesenian dan budaya leluhur. Jika kebanyakan orang mencari hiburan ke YouTube, video di medsos, dan sebagainya, warga Desa Jono justru mengembangkan kelompok kesenian tradisional. Antara lain langen tayub, karawitan, wayang kulit, wayang golek, jaranan, ketoprak, dan ludruk. Semuanya identik dengan kesenian dari berbagai daerah di Jawa.

Desa Jono mencetak banyak panjak (penabuh gamelan), seniman jaranan, sinden (waranggono/penyanyi pengiring dalang) atau sindir (penyanyi dan penari langen tayub). Anak-anak kecil di Desa Jono banyak yang menggeluti seni tradisional tersebut. Ada sanggar beserta fasilitas belajar untuk warga Jono dan warga luar desa. Untuk belajar, tentu dengan biaya yang disepakati.

Aneka seni ditampilkan ketika ada tamu kehormatan, saat acara nyadran atau  acara manganan atau sedekah bumi. Saat nyadran, acara diadakan besar-besaran. Seluruh warga Desa Jono berbondong-bondong ke tempat Jono Puro membawa banyak makanan, aneka polo pendem, ayam panggang dan jajanan tradisional rengginang, cucur, onde-onde, lempeng (krupuk dari singkong) dan sebagainya. Tamu yang datang bukan hanya warga desa tetapi juga pejabat kabupaten seperti Bupati dan Kapolres.

Selain tampil dalam acara yang diselenggarakan pemerintah desa, kelompok-kelompok kesenian tersebut juga menyediakan jasa hiburan bagi masyarakat. Mereka siap tampil dalam hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Mereka siap melayani bahkan warga di luar Desa Jono, bahkan sampai luar kota/kabupaten.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2010 menobatkan Desa Jono sebagai Desa Wisata Budaya. Tampilan aneka ragam kesenian Jawa membuat daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tentu pengunjung tidak seperti yang ingin berwisata ke pantai atau air terjun. Kebanyakan pengunjung yang benar-benar cinta seni Jawa.

Pengunjung bukan hanya ingin melihat hiburan, tetapi juga ingin belajar dan bahkan melakukan penelitian. Konon, seperti budayawan Arswendo Atmowiloto dan Sys NS pernah belajar di Desa Jono. Turis dari luar negeri juga bisa belajar langsung mengenai kesenian dan kebudayaan. Mereka praktik langsung menari tayub bersama sinden atau manggung kethoprak. Untuk membuat pengunjung kerasan, pengelola wisata Desa Jono menyediakan homestay atau penginapan.

Pengunjung juga bisa sekalian ke Jono Puro tempat berkumpulnya warga ketika ada acara sedekah bumi dan Tahun Baru 1 Muharam. Menurut cerita, di situ terdapat makam pemberi nama awal Desa Jono. Beliau bernama Raden Bagus putra mahkota ahli sabda yang hidup pada masa Madang Kambongan. Konon Beliau tidak mau jadi raja karena lebih ingin mengabdi kepada Sang Pencipta.

Facebook Comments

Comments are closed.