mepnews.id – Telur bebek merupakan salah satu sumber protein hewani, namun kurang populer. Jika dibandingkan telur ayam, telur bebek memiliki kadar kolesterol lebih tinggi dan berbau lebih amis.
Banyak konsumen menghindari telur bebek, sehingga berimbas pada para pelaku bisnis antara lain seperti peternak bebek dan pengelola telur bebek. Mereka sering menghadapi kendala berbisnis akibat rendahnya permintaan telur bebek di pasaran.
Maka, kelompok mahasiswa wirausaha bidang produksi/budidaya Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair membuat inovasi telur bebek rendah kolesterol dan bebas bau amis.

Tim mahasiswa Unair yang berinovasi dengan telur bebek.
Rizky Ahmad Maulana Hamdany, bersama Vany Erdiyanti Pratama, Rani Idealistanti Osmena, Sulistina, dan Muhammad Hasan Fuadi, membuat usaha Duck Point Special Egg with Low Cholesterol. Inovasi bisnis itu mengantarkan mereka lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kemdikbud Ristek RI.
“Awalnya, ini bisnis keluarga saya di Kabupaten Probolinggo. Dulu cuma peternakan bebek biasa. Kini, peternakan itu lebih inovatif,” kata Rizky dalam wawancara 10 Oktober 2022.
Guna menghasilkan telur bebek rendah kolesterol dan bebas amis, Rizky beserta rekan-rekannya memberikan treatment dalam peternakan itu. Salah satunya, fresh garlic treatment untuk mengurangi kadar kolesterol dalam telur bebek.
“Kami merendam pakan bebek dengan air bawang selama semalam. Kemudian, kami beri bebek pakan yang sudah direndam air bawang dengan komposisi tertentu. Terbukti telur yang dihasilkan bebek berkurang kadar kolesterolnya,” terang Rizky.
Selain fresh garlic treatment, Rizky beserta rekan-rekannya memberikan betel chalk treatment pada proses produksi telur bebek. “Telur kami rendam dalam air kapur sirih selama tiga jam. Terbukti itu mengurangi bau amis telur bebek,” tutur mahasiswa angkatan 2021 itu.
Di bawah bimbingan Ni Made Gitanadya SM MM, Rizky dan rekan-rekannya berharap dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha peternakan telur bebek utamanya di Kabupaten Probolinggo.
“Kami ingin menyejahterakan buruh peternak bebek dengan memberikan pelatihan, kesempatan kerja, dan gaji lebih layak dengan usaha P2MW ini,” ungkap Rizky.
Menggunakan tagline ‘Ada Doa Peternak Bebek di Setiap Butirnya’ lima mahasiswa ini berharap dapat melakukan ekspansi bisnis. “Tiap hari kami memproduksi 90-100 butir telur, tergantung kondisi bebeknya. Kami mau mengembangkan bisnis jadi 200 telur,” kata Rizky. (*)


