Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, suamiku koq jarang bersedekah ya? Maunya bayar yang wajib-wajib saja. Itu pun saya yang musti ngurus dan yang bayarkan. Padahal, dia dari keluarga yang dermawan. Waktu pertama kali kenal, saya tahu dia gampang menolong orang.”
“Ehm.., maaf, apakah keluargamu masih punya utang atau cicilan yang harus dibayar? Atau, anggaran rumah-tanggamu sedang defisit?”
“Enggak lah. Suami saya pekerja keras dan loyal banget pada keluarga.”
“Pekerja keras, atau pekerja sangat keras?”
“Mungkin bisa disebut ia pekerja sangat keras. Ia bekerja lebih keras daripada umumnya orang.”
“Oh, bisa jadi suamimu kurang tidur, kelelahan, sehingga tidak cukup luang memikirkan sedekah.”
…………
Pembaca yang budiman, apa yang saya ucapkan itu ada dasar ilmiahnya. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, kurangnya tidur membuat orang cenderung enggan mengeluarkan sumbangan untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Ini bisa menjadi salah satu dari sekian banyak kemungkinan penjelasan.
“Kurang tidur membentuk pengalaman sosial yang kita miliki [dan] jenis masyarakat yang kita tinggali,” begitu penjelasan Eti Ben Simon pakar neurosains dari University of California, Berkeley.
Simpulan Ben Simon ini berdasarkan fenomena hilangnya jam tidur saat beberapa wilayah di Amerika Serikat beralih ke Daylight Savings Time setiap pergantian musim. Daylight Savings Time adalah adalah praktik menyetel waktu satu jam lebih awal daripada waktu standar untuk mencapai sore hari yang lebih lama pada musim semi dan musim panas.
Dalam tiga eksperimen yang menguji hubungan antara kurang tidur dan kemurahan hati, para peneliti menemukan rata-rata donasi ke organisasi nirlaba turun sekitar 10 persen dalam pekan kerja Daylight Savings Time dibandingkan dengan empat pekan sebelum dan sesudah Daylight Savings Time. Sebagai pembanding, negara bagian Arizona dan Hawaii yang tidak menjalankan Daylight Savings Time, jumlah donasi tidak banyak berubah.
Hasil survei peneliti menunjukkan, lebih dari separo orang yang tinggal di beberapa negara Daylight Savings Time melaporkan mereka jarang mendapatkan waktu cukup tidur selama minggu kerja. Ben Simon dan tim lalu membawa 23 orang dewasa muda ke lab dua malam. Para peserta tidur selama satu malam dan tetap terjaga selama satu malam lainnya.
Di dua pagi hari, peserta menyelesaikan kuesioner altruisme standar yang menilai kemungkinan mereka membantu orang dalam berbagai skenario. Hasilnya, 80 persen peserta menunjukkan kemungkinan lebih kecil untuk membantu orang lain saat mereka sendiri kurang tidur dibandingkan saat mereka cukup istirahat.
Peneliti kemudian mengamati aktivitas otak peserta penelitian lewat mesin MRI fungsional. Aktivitas saraf masing-masing peserta dibandingkan saat dalam keadaan istirahat dan kurang tidur. Hasilnya menunjukkan, kurang tidur mengurangi aktivitas di jaringan otak yang terkait dengan kemampuan berempati dengan orang lain.
Ada beberapa penelitian lain yang menunjukkan hasil serupa meski dilakukan di lain waktu dan tempat.
Tampaknya, kurang tidur mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk kerelaan bersedekah. Ketika tidak mendapatkan cukup tidur, orang mungkin mengalami kelelahan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi kemampuan berfikir jernih dan mengambil keputusan.
Kurang tidur dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatur emosi, mengendalikan impuls, dan membuat keputusan bijaksana. Kelelahan yang disebabkan kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mementingkan kebutuhan pribadi sehingga kurang termotivasi untuk melakukan tindakan berbagi atau membantu orang lain, termasuk bersedekah.
Namun, kurang tidur hanya salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang membuat oarang memutuskan bersedekah atau tidak. Faktor lainnya antara lain; nilai-nilai pribadi, keyakinan agama, situasi keuangan, dan kesadaran sosial.


